Muslimah News, LENSA DAERAH – Cuaca terik tidak menyurutkan puluhan mubalighah se-Madura untuk fokus menyimak acara Liqo Muharam Mubaligah (LMM) yang diselenggarakan di Madura, Ahad (27-7-2025).
Acara bertema “Muharam 1447 H, Saatnya Mubaligah Berjuang Menegakkan Islam Kafah” ini menjadi momen konsolidasi para tokoh muslimah untuk membangun kesadaran umat sekaligus mengokohkan peran strategis mereka dalam perjuangan dakwah Islam kafah.
Harus Kafah
Nyai Siti Munawaroh yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan pandangannya tentang makna hijrah. “Hijrah itu harus kafah, tidak setengah-setengah,” ungkapnya di hadapan puluhan peserta yang hadir. Hijrah, ucapnya, harus diwujudkan dalam bukti nyata, mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, keluarga, hingga ke masyarakat.
Berkaitan dengan perubahan yang harusnya diwujudkan di tengah umat saat ini, mubaligah asal Pamekasan yang juga aktif mengajar di pondok pesantren ini menjawab bisa dilakukan melalui edukasi. “Kalau saya sebagai pendidik, perubahan yang bisa saya lakukan adalah mengubah pemikiran dengan ilmu agar umat tidak hanya mengetahui Islam sebatas salat, tapi harus semuanya,” jelasnya.
Ia juga mengajak agar tokoh muslimah segera mengambil peran dalam perjuangan menegakkan Islam kafah. ”Mubaligah sebagai pendakwah adalah kepanjangan tangan Rasulullah. Tugasnya untuk mendakwahkah Islam secara totalitas, bukan sebagian-sebagian. Saya berkomitmen untuk dakwah, yaitu mendidik. Saya tetap berjuang mengedukasikan Islam ala Rasul, yaitu Islam kafah,” tandasnya.
Hadir pula dalam acara tersebut Ustazah Siti Nurul Hidayah. Mubaligah asal Sampang ini mengatakan bahwa makna hijrah yang sebenarnya adalah bagaimana transformasi dalam pola pikir, pola sikap, dan komitmen terhadap Islam itu sendiri. “Jadi hijrah yang diharapkan adalah perpindahan dari sistem hidup jahiliah menuju sistem Islam kafah,” tukasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tokoh umat harusnya punya tanggung jawab spiritual dan moral ketika melihat kondisi umat saat ini. “Tokoh umat harus bisa menjadi teladan untuk menguatkan kesadaran di tengah umat akan pentingnya kembali kepada Islam kafah. Kemudian juga mendorong terbentuknya sistem yang adil yang mampu menyelesaikan persoalan umat. Tidak kalah pentingnya membina generasi agar menjadi pemimpin berakhlak mulia,” paparnya.
Berkaitan dengan peran tokoh umat dalam perjuangan dakwah Islam kafah, mubaligah yang kerap dipanggil Ustazah Ida ini, mengatakan bahwa sesungguhnya dakwah itu tugas seluruh umat Islam. “Apalagi kondisi saat ini umat jauh dari Islam, maka kewajiban dakwah itu melekat pada setiap individu. Apa pun profesinya, penting untuk berperan aktif dalam dakwah sehingga dukungan penegakan Islam kafah itu akan dapat diperoleh dari seluruh komponen masyarakat,” jelasnya.
Mubaligah Madura lainnya yang turut hadir dalam forum tersebut, Ustazah Fatheya, S.Pd., menanggapi isu arah perubahan yang harus dilakukan di tengah kondisi umat yang terpuruk. Menurutnya, saat ini sudah banyak yang dilakukan oleh para tokoh umat untuk melakukan perubahan, meski belum membuahkan hasil. “Yang kini dibutuhkan umat memang perubahan sistem, bukan parsial. Perubahan inilah yang akan menghadirkan perubahan total,” imbuhnya.
Pendakwah sekaligus pengajar di salah satu pondok pesantren ini dengan tegas menyatakan, mubaligah harus segera mengambil peran dalam dakwah Islam kafah. “Kita tidak boleh menunda-nunda. Kalau kita tidak segera melangkah dan mengambil peran, perubahan ini tidak akan terjadi,” ucapnya sembari membacakan QS Ar-Ra’d ayat 11.
Nyai Siti Mumayyizah, yang juga hadir dalam acara tersebut, menyepakati bahwa para mubaligah harus bersama-sama berjuang untuk dapat menegakkan Islam kafah. Pengasuh salah satu pondok pesantren di Pamekasan ini berharap kekhalifahan bisa segera tegak sehingga Islam bisa diterapkan secara menyeluruh atas umat. [MNews/Kontributor daerah: DIL/Madura]
