[Kabar] Mubaligah Sumut Berperan Menjawab Dinamika Keberagaman dengan Tsaqafah Islam Kafah

[Kabar] Mubaligah Sumut Berperan Menjawab Dinamika Keberagaman dengan Tsaqafah Islam Kafah

Muslimah News, LENSA DAERAH — Dalam merespons dinamika keberagaman dan meningkatnya isu moderasi beragama di Sumatra Utara, ratusan tokoh muslimah yang terdiri dari ustazah, pimpinan majelis taklim, serta penggerak perwiridan berkumpul dalam Pertemuan dan Konsolidasi Mubaligah Muharam 1447 H. Acara tersebut membahas peran strategis mubaligah dalam menjawab berbagai problematika kemajemukan dan tantangan dakwah hari ini, khususnya di Sumatra Utara.

Moderasi, Proyek Deradikalisasi

Mubaligah Sumut Ustazah Eka Susanty Sahputri memaparkan bahwa moderasi beragama adalah hasil proyek deradikalisasi yang memberangus dakwah Islam kafah. Ia menyoroti kondisi saat ini ketika berbagai ruang dakwah diawasi, majelis taklim diseleksi, dan para pendakwah dipantau.

“Deradikalisasi adalah proyek global, termasuk bagian dari strategi Amerika dalam menghadang tegaknya Islam. Palestina menjadi bukti nyata lemahnya sistem global saat ini. Maka, penting bagi para tokoh umat untuk berani menggiring arah perubahan,” ujarnya.

Selanjutnya aktivis dakwah Ustazah Asmaul Husna menyampaikan bahwa kerusakan umat saat ini merupakan akibat dari sistem sekuler dan kapitalistik yang diterapkan oleh negara. Ia menegaskan bahwa perubahan hakiki hanya bisa terjadi melalui sistem Islam dalam bingkai Khilafah Islamiah.

“Islam sebagai sistem hidup telah terbukti menyelesaikan problem kehidupan selama berabad-abad. Oleh karena itu, perjuangan para mubaligah harus diarahkan untuk membina umat secara ideologis dan sistemis,” tuturnya.

Aktivis dakwah Ustazah Qisthi Yetty Handayani sebagai narasumber berikutnya pun berharap para mubaligah tidak hanya membina secara spiritual, tetapi juga mengajarkan tsaqafah Islam kafah yang mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, hingga isu internasional, seperti Palestina.

Menurutnya, tantangan dakwah hari ini membutuhkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali bahwa ulama adalah pewaris para nabi, bukan hanya pengajar yang tunduk pada sistem rusak.

“Untuk itu, dakwah harus dilandasi ilmu yang benar. Tanpa ilmu, dakwah dapat merusak, bukan memperbaiki. Maka, ilmu harus terus dicari dan dikembangkan sebagai cahaya yang menuntun jalan perubahan,” urainya.

Peran Mubaligah

Dalam sesi diskusi, salah satu mubaligah Deli Serdang Hj. Nuraini Gultom menyampaikan, musuh-musuh Islam tidak berhenti merusak kehidupan. “Umat perlu disadarkan bahwa Islam adalah solusi permasalahan. Mubaligah harus berjuang seraya memohon kapada Allah pertolongan lahir dan batin, menggalang ukhuah, saling asah, dan saling asuh untuk mendakwahkan Islam kafah,” ungkapnya.

Berikutnya mubaligah Binjai Hj. Djasmaniar menilai, kondisi umat sangat amburadul. “Pola pikir umat perlu ditingkatan dengan edukasi terhadap pemahaman Islam, ekonomi Islam, pendidikan Islam, dan apa saja yang diperlukan untuk memahami Islam kafah. Mubaligah pun harus terus berdakwah kepada orang-orang di sekitarnya agar segera meraih tujuan, yaitu tegaknya Islam kafah,” ucapnya.

Lebih lanjut, mubaligah Sumut Hj. Chairani menyatakan komitmennya yang kuat untuk istikamah dalam perjuangan Islam dan berdakwah sebanyak banyaknya demi tegaknya Islam. “Mubaligah perlu menjaga kekompakan agar cepat mencapai tujuan penegakan Khilafah,” tandasnya. [MNews/Kontributor daerah: NAT/Sumut]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *