[Politik Ekonomi Islam] Kerusakan Sosialisme Sejati (Bagian 2/2)

[Politik Ekonomi Islam] Kerusakan Sosialisme Sejati (Bagian 2/2)

Penulis: Abdurrahman al-Maliki

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, TELAAH KITAB — Adapun dari perspektif teori materialisme, maka sama dengan apa yang mereka katakan mengenai evolusi tetesan air hingga menjadi uap. Sesungguhnya dapat dilihat bahwa perubahan materi air menjadi uap ini tidak terjadi secara spontan, tidak pula terjadi karena faktor zat itu semata.

Sebabnya, air tidak berubah, kecuali pada derajat panas tertentu. Rasio panas tertentu inilah yang menjadikan panas berpengaruh dalam perubahan air menjadi uap. Kalau rasio panasnya tidak stabil, tentu tidak akan terjadi perubahan. Berdasarkan rasio tertentu ini, siapakah yang memaksakannya pada air dan panas?

Apakah air, panas, atau sesuatu yang lain selain keduanya? Tidak diragukan lagi bahwa ia adalah sesuatu yang lain selain keduanya. Dengan demikian, di balik rasio tertentu ini atau yang mereka ungkapkan sebagai hukum alam yang menjadikan air berubah menjadi uap, ada kekuatan lain yang memaksanya. Kekuatan ini harus bersifat azali. Itulah Allah Taala.

Eksistensi sesuatu yang dapat diindra adalah perkara yang pasti. Demikian pula kebutuhannya atas yang lain. Dengan demikian, sesuatu itu pasti makhluk (ciptaan) karena masih membutuhkan yang lain. Eksistensinya sebagai makhluk tentu menunjukkan adanya Sang Khalik. Ini saja sudah cukup untuk membatalkan filsafat materialisme Karl Marx.

Selanjutnya adalah pendapat Karl Marx bahwa sistem sosial yang ada pada era mana pun sebenarnya merupakan akibat dari berbagai kondisi ekonomi. Begitu pula berbagai perubahan yang dialami sistem tersebut semata-mata karena satu sebab, yaitu perjuangan kelas (class struggle) sosial dalam rangka memperbaiki kondisi ekonominya.

Ini juga merupakan pendapat yang keliru karena bertentangan dengan realitas dan hanya berdasarkan asumsi teoretis semata. Kekeliruan dan ketaksesuaiannya dengan realitas begitu jelas, baik secara historis maupun dalam tataran realitas.

Uni Soviet, misalnya, saat beralih ke sosialisme tidak melalui evolusi materi, juga tidak melalui perjuangan kelas yang membawa perubahan dari satu sistem ke sistem lain. Perubahan itu justru terjadi setelah sebuah partai (yakni partai sosialis) berhasil meraih kekuasaan melalui revolusi berdarah. Setelah itu, mulailah mereka menerapkan pemikiran-pemikiran sosialismenya atas rakyat, lalu terjadilah perubahan sistem. Hal yang sama terjadi pada rakyat Cina.

Penerapan sosialisme di Jerman Timur, tetapi tidak di Jerman Barat. Kemudian penerapan sosialisme di negara-negara Eropa Timur, tetapi tidak di Eropa Barat, juga tidak terjadi akibat perjuangan kelas. Semua itu terjadi akibat berkuasanya negara sosialis atas negeri-negeri itu. Kemudian diterapkan sistem sosialisme atas negeri-negeri itu, seperti yang lazim terjadi dalam sistem mana pun.

Negara yang melakukan perubahan sistemnya dengan teori ini, yakni melalui aktivitas perjuangan kelas, adalah Jerman, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara kapitalis yang di dalamnya terdapat banyak kaum pemilik modal dan kaum buruh.

Namun, tidak demikian dengan Rusia ataupun Cina yang berbentuk kekaisaran. Di kedua negeri itu sebagan besar aktivitasnya adalah pertanian, selain perindustrian. Artinya, di kedua negara itu sedikit sekali kelas kaum buruh dan kaum pemilik modal dibandingkan dengan di negara-negara Barat. Memang banyak kelas kaum buruh dibandingkan dengan kaum pemilik modal di negeri-negeri Eropa Barat dan Amerika. Namun demikian, mereka tidak beralih ke sosialisme. Mereka tetap menerapkan sistem kapitalisme.

Adanya kelas kaum buruh dan pemilik modal sedikit pun tidak berpengaruh terhadap sistem kapitalisme. Ini saja sudah cukup untuk menumbangkan teori tersebut. Memang, Jerman Timur (sebelum bergabung dengan Jerman Barat) hidup di bawah kekuasaan Rusia yang menerapkan sistem sosialisme sejak kurang lebih lima belas tahun lalu (buku ini ditulis 1963).

Kalau saja saat itu Rusia melepaskannya, jelas Jerman Timur akan kembali menerapkan sistem kapitalisme dan meninggalkan sistem sosialisme. Ini saja cukup menguatkan bahwa perubahan sistem sosial bukanlah akibat keadaan ekonomi. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem ini juga bukan akibat dari perjuangan kelas. Kejadian di Jerman Timur ini saja cukup untuk menunjukkan kerusakan teori ini.

Penerapan sistem sosialisme di Jerman Timur sejak penaklukkan dan kemenangan Rusia atasnya bukanlah akibat dari keadaan ekonomi. Sejak lima belas tahun lalu, kurang lebih dua juta orang telah lari meninggalkan sistem ini. Kalau rakyat Jerman dibiarkan mengurusi urusan mereka sendiri, tentu saat itu juga mereka akan kembali pada sistem kapitalisme. Ini saja cukup menjadi bukti yang realistis untuk membatalkan teori evolusi sosial.

Lagi pula, pemikiran yang lahir dari sosialisme ini, yaitu materialisme historis dan evolusi materi, adalah pemikiran keliru karena bertentangan dengan fitrah manusia. Sebabnya, materi tidak berevolusi secara alami atau spontan, tetapi karena adanya pengaruh hukum tertentu. Hukum inilah yang membuat cara tertentu hingga terjadi perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain.

Perubahan ini tidak terjadi karena materi itu sendiri. Sebabnya, jika demikian, tentu materi mampu berjalan sendiri dan berubah sesuai dengan kehendaknya. Oleh karena itu, perubahan itu terjadi melalui sesuatu yang lain di luar materi, yakni sesuatu selain materi. Sesuatu yang memaksanya hingga mengalami perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, baik terkait dengan rasio tertentu, kondisi tertentu, maupun situasi tertentu.

“Kekuatan Yang Memaksa” itulah yang menjadikan materi berubah bentuk. Dengan demikian, tidak ada evolusi yang terjadi secara spontan atau alami. Yang ada adalah perubahan materi karena pengaruh eksternal di luar materi. Hal ini menunjukkan kerusakan filsafat materialisme serta kerusakan sistem yang lahir dari sistem ini. Berdasarkan aspek ini, sistem sosialisme-Marxisme adalah sistem yang juga rusak. [MNews/RY-YG]

Sumber: Abdurrahman al-Maliki, Politik Ekonomi Islam.

Share

One thought on “[Politik Ekonomi Islam] Kerusakan Sosialisme Sejati (Bagian 2/2)”

  1. Kerusakan yang nyata terjadi pada sistem komunisme dan kapitalisme, maka apa yang kita harapkan dari kedua sistem rusak ini???
    Ayo kita tinggalkan dan terapkan sistem islam Kaffah yang berasal dari Allah SWT Tuhan semesta alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *