Muslimah News, NASIONAL — Belakangan ini, lini masa media sosial, seperti X (dulu Twitter) dan TikTok diramaikan oleh sebuah fenomena baru yang disebut “tren S Line“. Banyak warganet mengunggah foto dengan coretan garis merah di atas kepala mereka.
Fenomena viral ini berasal dari sebuah drama Korea berjudul “S Line” yang sedang hangat diperbincangkan. Drama tersebut menyuguhkan premis yang cukup nyeleneh, yaitu adanya sebuah teknologi yang mampu menampilkan garis khusus di tubuh orang yang telah melakukan persetubuhan sehingga rahasia seseorang dapat terbongkar secara publik dan digunakan sebagai bahan penilaian sosial.
Dekadensi Moral
Aktivis dan influencer dakwah Rr. Ranty Kusumaningayu, S.Si. menyatakan, ini menunjukkan dekadensi moral dalam gaya hidup sekuler dan liberal.
“Fenomena ini sesungguhnya adalah potret jelas kehidupan sekuler hari ini, di mana nilai-nilai agama terpinggirkan dan standar benar-salah digantikan oleh viral atau tidaknya sebuah konten,” ujarnya kepada MNews, Sabtu (19-7-2025).
Ia menyayangkan, banyak kalangan justru membuat konten mengikuti drakor tersebut yang akhirnya viral. “Ironisnya, sebagian dari mereka ikut-ikutan membuat lelucon atau komentar yang mengarah pada pengakuan terbuka atas sesuatu yang sejatinya adalah aib. Padahal dalam Islam, aib adalah sesuatu yang wajib ditutup, bukan dibuka atau dijadikan bahan lelucon,” ungkapnya mengutip hadis riwayat Bukhari, “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang secara terang-terangan melakukan dosa.”
Dalam sistem kehidupan yang lepas dari aturan Allah Swt. ini, sambungnya, manusia merasa bebas mengekspresikan apa pun, termasuk aibnya sendiri, selama itu mendapatkan atensi atau hiburan. “Inilah wajah liberalisme yang menyuburkan budaya oversharing dan menjadikan kehormatan pribadi sebagai bahan konsumsi publik,” kritiknya.
Tidak berhenti di situ, ujarnya, sistem ini juga membuat masyarakat menganggap hal-hal tabu sebagai biasa.
“Ini terlihat jelas dalam banyaknya konten berisi pengakuan pernah zina, jokes soal seks bebas, bahkan kebanggaan karena tidak lagi perawan atau perjaka,” ucapnya miris.
Padahal, bebernya, data terbaru dari Kemenkes RI menyebutkan, jumlah pengidap HIV hingga Maret 2025 terjadi pada kalangan usia produktif (15–18 tahun) sebanyak 2.700 individu. Bahkan, lanjutnya, banyak penderita yang tidak menyadari dirinya positif karena kurangnya edukasi dan longgarnya gaya hidup. “Ini menunjukkan bahwa tren kebebasan seksual bukan hanya merusak akhlak, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat secara nyata,” cetusnya.
Selain itu, ia memandang, tren ini memperlihatkan bagaimana kapitalisme bekerja sangat rapi dalam mengeksploitasi sisi paling rentan manusia, yakni rasa ingin tahu dan kebutuhan akan penerimaan sosial.
“Di balik kehebohan ini, drama “S Line” pun secara tidak langsung terpromosikan secara masif, menjangkau pasar global tanpa perlu biaya iklan tambahan. Inilah keuntungan nyata bagi industri hiburan kapitalistik yang menjual sensasi, bukan nilai,” ulasnya.
Jadi, ia mempertanyakan, apakah bisa disangkal bahwa budaya permisif ini sebenarnya adalah bagian dari jebakan ideologis untuk merusak cara pandang manusia terhadap kehormatan diri?
Islam
Kondisi tersebut, nilainya, seharusnya makin memperkuat pemahaman bahwa agar bisa selamat di kehidupan hari ini tidak bisa mengandalkan pemikiran manusia, tetapi hanya dengan berpegang pada Islam yang merupakan ideologi dan sistem hidup.
“Islam hadir bukan hanya sebagai agama yang mengatur ibadah ritual, tetapi sebagai sistem hidup yang mengatur individu, masyarakat, hingga negara agar tetap berada dalam garis ketakwaan,” terangnya.
Ia menjelaskan, Islam tidak menunggu masalah muncul untuk memberi hukuman, tetapi telah mengatur langkah-langkah preventif yang kuat untuk mencegah munculnya perilaku menyimpang.
“Pertama, menanamkan akidah, rasa malu, dan iffah (kehormatan) sejak kecil. Kedua, memisahkan kehidupan dan interaksi laki-laki dan perempuan, kecuali dalam aspek tertentu (pendidikan, ekonomi, hukum, kesehatan, dan kondisi darurat). Ketiga, melarang ikhtilat (campur baur bebas laki-laki dan perempuan) yang akan membuka jalan syahwat. Keempat, mengharamkan segala bentuk pornografi, pacaran, dan khalwat, termasuk konten yang mengarah ke pembicaraan seksual terbuka. Kelima, menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi pelaku zina,” perincinya.
Semua ini, paparnya, bukan sekadar solusi moral individual, tetapi juga solusi sistemis yang menopangnya secara struktural.
“Kita tidak bisa berharap manusia berhenti membuka aib jika media justru mendorongnya. Kita tidak bisa berharap generasi muda menjaga kehormatan kalau sistem pendidikan, pergaulan, dan negara membebaskan mereka untuk mengejar “kebebasan berekspresi” tanpa batas,” bebernya.
Untuk itu, jelasnya, solusi Islam adalah membangun masyarakat yang aturannya bersumber dari wahyu, bukan dari selera manusia atau kepentingan kapitalisme.
Oleh karenanya, ia mengingatkan, sebagai pemuda atau mahasiswa muslim, tidak cukup hanya menjadi penonton atau pengkritik pasif.
“Kita harus menjadi agen perubahan yang sadar akan bahaya normalisasi aib dan rusaknya akhlak dalam sistem ini. Jangan ikut-ikutan tren bodoh yang hanya menambah dosa dan mengikis rasa malu,” tegasnya.
Tugas pemuda atau mahasiswa muslim, sambungnya, adalah menjaga kemurnian Islam dalam diri serta menyerukan perubahan hakiki di tengah umat. “Kita harus hadir sebagai generasi yang bukan hanya baik secara personal, tetapi juga berjuang menegakkan sistem kehidupan yang menjaga kehormatan umat Islam,” tandasnya. [MNews/RA]

Betul sekali…ini adalah bencana besar bagi kaum muslim..dimana para pemudanya sudah kehilangan arah, miniminya ilmu agama dan abainya negara makin memperparah kondisi generasi.
Sistem kapitalis membebaskan hak individu dalam berbuat sesuka hati, tanpa memandang baik atau tidak, yang penting suka
Astaghfirullahaladzim.
Saatnya kembali pada Sistem yang mampu menjaga kehormatan pada rakyatnya yakni Sistem Islam Kaffah dalan Naungan Khilafah Islamiyyah