[Kabar] Ancaman Tambahan Tarif dari AS ke BRICS, UIY: AS Terusik Hegemoninya

[Kabar] Ancaman Tambahan Tarif dari AS ke BRICS, UIY: AS Terusik Hegemoninya

Muslimah News, INTERNASIONAL — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam anggota BRICS dengan tambahan tarif 10%. Trump juga mengejek BRICS dan menyebut kelompok itu akan runtuh meskipun suatu waktu berhasil terbentuk secara serius.

“Ketika saya mendengar tentang kelompok yang bernama BRICS, yang terdiri dari enam negara, saya langsung menekan mereka dengan sangat keras. Dan jika mereka benar-benar terbentuk secara serius, kelompok itu akan segera bubar,” ujar Trump dalam penandatanganan GENIUS Act, dilansir dari Reuters, Sabtu (19-7-2025).

Terusik

Menurut cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY), kemarahan AS ini harus dibaca sebagai kemarahan dari sebuah negara raksasa selama ini, yang terusik hegemoninya.

“Ketika Trump dengan terang-terangan meluapkan kemarahannya, itu menunjukkan bahwa BRICS ini “sesuatu” buat AS yang sudah sangat lama memegang hegemoni macam-macam, seperti ekonomi, politik, dan sebagainya,” terangnya dalam Fokus to The Point: “BRICS dan Ancaman Tarif Trump, Indonesia Keok?” di kanal UIY Official.

Namun, ungkapnya, sejak beberapa waktu terakhir ini hegemoni tersebut mulai terkikis. “Secara ekonomi, misalnya, ada rival yang sangat tangguh, yaitu Cina. Kemudian, secara politik juga ada Rusia. Secara teknologi, khususnya teknologi informasi, ada India,” ujarnya.

Jadi, lanjutnya, terbayang bagaimana rasanya AS ketika menyaksikan negara-negara yang menjadi rival di dalam aspek tertentu itu kemudian bergabung dalam BRICS, seperti Rusia, Cina, India, ditambah Brazil dan Indonesia. “Ini akan menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa secara ekonomi, secara pasar, secara teknologi, dan pada akhirnya mungkin juga secara politik,” ucapnya.

Hanya saja, sambungnya, ini kapitalis melawan kapitalis, negara kapitalis yang tidak mau dikuasai oleh negara kapitalis lain karena yakin memiliki kekuatan.

“Ini sebenarnya pertarungan antargajah atau kumpulan gajah. Nah, siapa yang menang? Kapitalis juga. Kalaupun AS kalah, hanya penggantian pemain kapitalis, bukan lahirnya ideologi baru terhadap kapitalisme,” ulasnya.

Meskipun demikian, tuturnya, peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa kerja sama multilateral itu sangat penting. “Ketika BRICS terbentuk atau sejumlah negara bersatu, separuh lebih penghuni bumi bergabung. Kalau dihitung, [jumlah penduduk] India itu anggap saja 1,3 miliar, Cina 1,4 miliar, belum lagi ditambah Rusia, Brazil, dan Indonesia sehingga bisa mencapai lebih dari 3 miliar dan menjadi kekuatan yang sangat besar dalam ekonomi, politik, dan lain-lain,” paparnya.

Persatuan

Di sisi lain, jelasnya, kalau bicara tentang persatuan, Islam adalah agama yang dari awal sudah mengajarkan hal tersebut.

“Jika ditanya bagaimana masa depan umat Islam, maka bergantung apakah umat Islam itu kepikir untuk mewujudkan persatuan. Sebab kalau umat Islam itu bersatu, akan menjadi sebuah dunia yang kokoh karena akan menghimpun kurang lebih sekitar 2 miliar penduduk juga dengan ideologi yang berbeda sama sekali dengan kapitalisme,” bebernya.

Ia menerangkan kembali bahwa BRICS berlandaskan kapitalisme melawan AS yang kapitalisme juga sehingga masih satu arah. “Namun, kalau Islam yang muncul di dalam sebuah kesatuan—yang disebut di bawah sistem Khilafah—, akan membawa warna yang berbeda, arah yang berbeda, sekaligus alternatif dari sekian banyak kelemahan dari sistem kapitalisme,” urainya.

Ia mencontohkan dalam soal mata uang. “BRICS sedang mencari bentuk mata uang atau denominasi yang bisa dipakai bersama. Kalau BRICS berhasil membuat satu denominasi mata uang yang kuat, tetap saja masih fiat money yang problematis,” ucapnya.

Namun, lanjutnya, kalau Islam bersatu dan menggunakan mata uang dinar dan dirham, maka akan menjadi sebuah sistem moneter baru yang tidak bisa dijangkau oleh sistem moneter mana pun karena kuat, adil, dan universal.

“Kuat karena nilai nominalnya ditopang oleh nilai intrinsiknya sebagai emas. Adil karena tidak akan ada orang yang dirugikan di dalam berbagai transaksi. Kemudian universal karena sebagai emas, dinar dan dirham itu tidak ada orang yang tidak mau. Jadi, ini akan menjadi “sesuatu”,” tuturnya.

Untuk itu, ia berharap, umat Islam mendalami tsaqafah Islam, termasuk tentang Khilafah Islamiah yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia, bahkan dunia. [MNews/RA]

Share

4 thoughts on “[Kabar] Ancaman Tambahan Tarif dari AS ke BRICS, UIY: AS Terusik Hegemoninya”

  1. Sepakat,penting bagi umat Islam dalam persatuan yang kuat,dan menambah pengetahuan akan tsaqofah Islam karena akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi umat Islam itu sendiri

  2. penting bagi umat Islam dalam persatuan yang kuat,dan menambah pengetahuan akan tsaqofah Islam karena akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi umat Islam itu sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *