[Kabar] Aktivis: Pembantaian di Gaza Terus Berlanjut dan Bantuan Adalah Perangkap Maut

[Kabar] Aktivis: Pembantaian di Gaza Terus Berlanjut dan Bantuan Adalah Perangkap Maut

Muslimah News, INTERNASIONAL — Aktivis dakwah Khaled Saeed mengutarakan, perang pembantaian di Gaza masih terus berlanjut dan bantuan yang diberikan kepada rakyat Gaza adalah perangkap maut.

“Para pemimpin Zion*s tidak menyembunyikan niat mereka terhadap Jalur Gaza sejak hari-hari pertama perang, baik melalui pernyataan mereka maupun melalui mesin perang kriminal mereka. Zion*s bertujuan mengosongkan Gaza dari penduduknya dan mengusir dengan kekerasan,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis di Palestina, Sabtu (12-7-2025).

Dalam upaya jahat ini, imbuhnya, mereka mengandalkan dukungan politik dan materi Barat, khususnya Amerika Serikat (AS). “Juga mengandalkan keterlibatan semua penguasa muslim, terutama para penguasa negara-negara tetangga Palestina,” ujarnya.

Semua pernyataan dan klaim Zion*s yang membantah adanya pengusiran rakyat Palestina, ungkapnya, adalah kebohongan belaka dan tidak lain hanyalah pernyataan untuk konsumsi media dan menyesatkan opini publik.

Sementara itu, jelasnya, realitas gerakan politik dan penanganan bencana yang sedang berlangsung di Gaza menegaskan kemitraan mereka dengan pendudukan Zion*s untuk mencapai tujuan pengusiran.

“Saya tidak melebih-lebihkan atau mengatakan secara metafora bahwa keteguhan legendaris rakyat Gaza telah menggagalkan rencana tersebut sejauh ini. Saya mengatakan “sejauh ini” karena jelas bahwa entitas Zion*s belum meninggalkan tujuan tersebut dan perang pemusnahan belum berakhir,” bebernya.

Pendudukan Zion*s, tuturnya, berusaha memanfaatkan setiap peluang yang tersedia untuk tercapainya penggusuran. “Banyak pihak mendapati para pemimpin politik dan militer Zion*s disibukkan dengan apa yang disebut rencana Trump untuk solusi di Gaza yang selalu ditekankan oleh para pemimpin ini di setiap kesempatan untuk mencapai rencana kriminal tersebut,” cetusnya.

Ia menggambarkan, selama lebih dari 20 bulan terjadi perang yang beringas, bahkan kebijakan dan rencana Zion*s untuk rakyat Jalur Gaza tidak pernah lepas dari genosida, pembunuhan, pengepungan, kelaparan, kebodohan, dan penghancuran segala bentuk kehidupan. “Moto dan pernyataan Zion*s adalah ‘Wahai rakyat Gaza, kalian tidak punya tempat di sini. Ini adalah kematian atau penggusuran.’,” paparnya.

Kriminal

Sifat kriminal dan hasrat Zion*s yang tidak terkendali untuk membunuh, lanjutnya, tampak dari caranya menangani bantuan, yang seharusnya bersifat kemanusiaan menjadi logika militeristik. “Bahkan, mereka berupaya menggunakannya sebagai bagian dari kebijakan pembunuhan dan kelaparan dan sebagai alat perang pemusnahan,” ucapnya.

Ia mengatakan, Zion*s menerima bantuan masuk ke Jalur Gaza akibat tekanan yang dialami entitas tersebut dengan meningkatnya opini publik internasional terhadap praktik kriminalnya terhadap warga sipil, seperti perempuan, anak-anak, dan lansia yang tidak berdaya di Jalur Gaza.

“Respons Zion*s terhadap tuntutan untuk memasukkan bantuan ini tidak lebih dari sekadar menghamburkan “debu” di mata negara, lembaga, dan organisasi yang mengajukan tuntutan tersebut, menyerap kemarahan opini publik, dan menyesatkan dunia. Sedangkan, Zion*s berupaya mengelola bantuan dalam agenda perangnya dan sebagai salah satu alatnya,” paparnya.

Untuk lebih menipu, imbuhnya, pendudukan Zion*s telah menutupi semua perilaku kriminalnya terkait bantuan dengan dalih kurangnya kendali Hamas. “Mereka pun memastikan Hamas dicegah untuk menerima dana yang diperlukan dalam merehabilitasi diri, memulihkan kemampuannya, dan menghilangkan segala bentuk pengelolaan dan kendali di Jalur Gaza,” tuturnya.

Selain itu, urainya, Zion*s telah berupaya memerangi lembaga internasional dan regional yang terlibat dalam penyediaan layanan kemanusiaan dengan menuduh mereka mendukung “terorisme.”

“Yang paling menonjol adalah Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA). Bukan rahasia lagi bahwa melenyapkan UNRWA, dengan segala kekurangannya, merupakan bagian dari rencana untuk melikuidasi perjuangan Palestina,” ulasnya.

Secara detail, ia menegaskan, kebrutalan Zion*s tampak makin mengerikan karena berupaya mengeksploitasi isu bantuan untuk mencapai tujuan jahatnya.

“Bantuan merupakan sarana untuk memantau beberapa orang yang dicari atau untuk menjerumuskan mereka yang berkemauan lemah ke dalam kubangan kerja, mengeksploitasi keadaan kekurangan dan kelaparan, atau untuk menyebarkan kecanduan dan menghancurkan tatanan sosial dari dalam,” jabarnya.

Ia mengutip pemberitaan kantor media pemerintah Gaza, dari empat kasus yang dipantau, warga melaporkan menemukan pil narkotika jenis “Oxycodone” di dalam karung-karung tepung yang sampai kepada mereka melalui pusat bantuan Amerika-Israel.

“Zion*s Yahudi tidak berhenti membunuh, bahkan di pusat-pusat distribusi dalam suasana sadisme dan kekacauan, menyebarkan teror dan ketakutan. “Setiap hari, pemandangan “mengejutkan” dilaporkan terkait mekanisme distribusi bantuan dan cara pasukan pendudukan memperlakukan warga. Setiap hari, puluhan orang kelaparan yang menunggu bantuan dinyatakan tewas dan terluka,” ucapnya miris.

Kantor media pemerintah di Gaza, sambungnya, melaporkan pada Selasa (8-7-2025) bahwa 766 orang tewas, 5.044 terluka, dan 39 hilang sejak pendudukan “Israel” memasang jebakan maut dan pemancingan massal lebih dari sebulan lalu.

“Hal ini menegaskan konteks pendudukan menangani bantuan ini adalah murni konteks militer. Masuknya bantuan hanyalah respons terhadap tekanan, sementara Israel ingin menginvestasikannya dengan cara yang jahat dengan memilih kebijakan pembunuhan dan kelaparan untuk mencapai tujuannya,” urainya.

Masalah Pendudukan

Jadi, ia menekankan, masalah Gaza bukanlah masalah makanan, minuman, dan bantuan, melainkan masalah pendudukan yang harus diakhiri dan tanah Islam—yang dirampas—yang harus dibebaskan.

“Penyajian masalah ini dengan dalih masalah kemanusiaan dan bantuan hanyalah untuk memaksakan pola intervensi dan manajemen untuk keluar dari krisis di Jalur Gaza. Sedangkan, kasus Gaza yang asli seharusnya disajikan sebagai bagian dari bangsa Islam yang telah melawan musuhnya,” ujarnya.

Masalah Gaza, sambungnya, adalah masalah sebuah bangsa di mana bagian yang bersinar ingin dipadamkan, bagian kecil yang tersisa dan teguh yang menolak untuk dipatahkan. “Gaza ingin dihancurkan dan diremukkan agar menjadi “model hukuman dan pelajaran” bagi semua yang memperhatikan,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mengingatkan, solusi menuju jalan keselamatan bagi Gaza bukanlah bantuan, melainkan keberadaan Zion*s Yahudi di sana dan keberadaan rezim penguasa di negara-negara muslim yang melindungi entitas tersebut dan melestarikan keberadaannya.

“Oleh karena itu, tanggung jawab penuh saat ini berada di pundak umat Islam dan kekuatan-kekuatannya yang masih hidup untuk mendapatkan kembali otoritasnya dan membebaskan diri dari dominasi penguasa yang memimpin negeri muslim yang bermitra dengan orang-orang Zion*s dalam membunuh dan memusnahkan Gaza,” terangnya.

Dalam hal ini, ia meyakini, Gaza adalah inspirasi dengan keteguhan, ketahanan, dan pengorbanannya, serta mercusuar yang menerangi jalan menuju keselamatan. [MNews/RA]

Share

4 thoughts on “[Kabar] Aktivis: Pembantaian di Gaza Terus Berlanjut dan Bantuan Adalah Perangkap Maut”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *