Muslimah News, INTERNASIONAL — Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyerukan persatuan dan persaudaraan yang lebih erat di antara negara-negara Islam di hadapan Sidang ke-51 Dewan Menteri Luar Negeri OKI dengan tema “OKI di Dunia yang Bertransformasi”, Sabtu (21-6-2025)
Erdoğan mengatakan, “Kami tidak akan membiarkan terbentuknya tatanan Sykes-Picot baru di wilayah kami dengan batas-batas yang dibuat dengan darah.” Ia menegaskan bahwa solusinya terletak pada diplomasi dan dialog.
Mempertahankan Sykes-Picot
Hanya saja, aktivis muslimah Zehra Malik justru mengatakan sebaliknya. “Penekanan Erdoğan pada solusi melalui diplomasi dan dialog sekali lagi hanyalah ekspresi keinginannya untuk mempertahankan tatanan Sykes-Picot yang ada,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (27-6-2025).
Ia pun mempertanyakan, persatuan dan persaudaraan seperti apa yang diserukan Erdogan? “Bagaimana ia berharap untuk membangun persatuan ini?” ucapnya.
Ia mengingatkan, hambatan sesungguhnya terhadap persatuan dan persaudaraan dalam Islam adalah batas-batas Sykes-Picot itu sendiri yang sudah dibuat dengan darah, termasuk negara-negara bangsa yang didirikan di dalam batas-batas tersebut dan rezim-rezim boneka Barat yang melindungi keberadaan negara-negara bangsa ini.
“Jadi, persatuan dan persaudaraan Islam tidak dapat dibangun melalui pembicaraan tentang nasionalisme, batas-batas negara bangsa, atau perlindungan batas-batas Turki, Iran, Palestina, Suriah, dll.. Juga bukan dengan menekan persatuan umat Islam dalam iman di bawah identitas-identitas nasional,” cetusnya.
Palestina, khususnya Gaza, tegasnya, adalah bukti nyata akan hal ini. “Dengan batas-batasnya yang dibuat oleh “Sykes-Picot”, dengan belenggu Lausanne, konstitusinya yang disalin-tempel dari Barat, kebijakan-kebijakan dalam dan luar negerinya yang ditentukan oleh konvensi-konvensi internasional, dan dengan menjadi negara muslim pertama yang mengakui monster Zion*s sebagai negara hukum demi menenangkan para penguasa Baratnya, bukankah Republik Turki menjadi bukti paling jelas atas pengkhianatan terhadap persaudaraan?” tanyanya lugas.
Lalu, sambungnya, apa kontribusi Erdoğan bagi persaudaraan Islam sejak menjadi perdana menteri Turki pada 2003 kemudian presiden pada 2014?
“Mari kita kesampingkan pengkhianatannya di Mesir dan Suriah untuk saat ini. Sejak pernyataannya yang terkenal “Satu Menit!” dan “Al-Quds adalah garis merah kita”, ia mengkhianati para martir Armada Mavi Marmara, sambil melipatgandakan volume perdagangan Turki dengan Zion*s berkali-kali,” ucapnya.
Ia menyesalkan sikap Erdogan. “Sambil mengucapkan kata-kata yang menyayat hati yang tidak terhitung jumlahnya tentang Gaza, Erdogan memenuhi semua kebutuhan Zion*s, memberinya bensin, baja, sepatu bot tempur, peralatan putih dan bahan makanan, sambil meneruskan masalah umat Islam kepada para pencipta “Sykes-Picot” yang telah menghancurkan umat menjadi berkeping-keping,” sindirnya.
Erdogan, bebernya, tidak berbuat apa pun bagi paramedis Gaza yang dibakar hidup-hidup, para dokternya yang disiksa di ruang bawah tanah Zionis, para ibu yang menjalani operasi caesar tanpa anestesi, dan anak-anaknya yang diamputasi anggota tubuhnya tanpa anestesi, anak-anaknya yang kelaparan yang dibakar hidup-hidup.
Bukan Persaudaraan Islam
Oleh karena itu, ia menekankan, persepsi Erdoğan tentang persaudaraan bukanlah persaudaraan Islam. “Seruannya untuk persatuan Islam tidak berada dalam persatuan yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw.,” imbuhnya.
Begitu pula, ungkapnya, tokoh-tokoh yang disapa Erdoğan dengan seruannya untuk persatuan adalah para penguasa Ruwaibidah yang berusaha menjauhkan kalimat kebenaran dari kaum muslim, bahkan berdiri sebagai penghalang bagi kemuliaan umat.
“Jika Zion*s—yang memahami pertumpahan darah kaum muslim di Palestina, darah anak-anak Gaza, dan siapa pun selain dirinya sebagai satu-satunya tujuan keberadaannya—masih berdiri, bahkan menjadi makin biadab dengan keberanian yang makin meningkat, maka alasannya jelas, yaitu Erdoğan—yang seperti para penguasa Arab—berjuang untuk kekuasaan dan martabat dalam sistem kapitalisme, bukan dalam sistem Islam. Juga, bukan mengambil tempat di jajaran umat,” kritiknya.
Sebaliknya, ia menekankan, jika Erdoğan menginginkan persatuan Islam, Erdoğan memiliki jutaan umat muslim, yang bersatu demi Gaza dan menunggu satu perintah yang keluar dari mulutnya. “Jika Erdoğan menginginkan persaudaraan Islam, Erdoğan memiliki jutaan umat muslim yang terluka melihat saudara-saudari mereka, yang ingin menjadi tentara, dan yang berangkat atas perintahnya, tuturnya.
Jika Erdoğan tulus, tegasnya, maka semestinya Erdoğan berbicara kepada kaum muslim yang tulus, bukan kepada para pelindung Sykes-Picot. “Jika Erdoğan tulus, maka ia akan mengusulkan persatuan di bawah Al-Qur’an dan Sunah, bukan diplomasi kapitalisme sebagai solusinya,” tandasnya. [MNews/RA]

Penting bagi umat Islam terus belajar