Muslimah News, FOKUS — Kondisi Palestina makin memprihatinkan. Data Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa, 1 Juli 2025 menunjukkan bahwa 56.647 orang telah meninggal sejak Oktober 2023. Sedangkan korban luka akibat serangan Zion*s mencapai 134.105 orang. Itu adalah jumlah korban yang teridentifikasi, sedangkan banyak korban tidak terjangkau tim penyelamat karena masih terperangkap di bawah reruntuhan dan di jalanan.
Militer Zion*s terus membombardir Gaza. Dalam 24 jam pada Rabu (2-7-2025) sebanyak 67 warga Palestina tewas akibat serangan entitas Zion*s. Sebelas orang di antaranya tewas dibunuh militer Zion*s saat menunggu bantuan kemanusiaan. Salah satu korban tewas adalah Direktur RS Indonesia di Gaza Marwan al-Sultan. Ia bersama istri dan anak-anaknya tewas dalam serangan Zion*s terhadap sebuah bangunan perumahan di Gaza.
Pengkhianatan Penguasa Muslim
Sungguh perih melihat kondisi ini. Saudara kita sesama muslim di Palestina terus berduka entah sampai kapan. Tanah mereka dirampas oleh Zion*s dan nyawa mereka pun dihabisi. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Lebih perih lagi saat kita menyadari bahwa genosida brutal ini terjadi akibat pengkhianatan saudara muslim mereka, yaitu para penguasa muslim.
Pada Kamis (26-6-2025) Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyepakati rencana gencatan senjata di Gaza yang akan dilaksanakan dalam dua pekan ke depan. Tujuan kesepakatan gencatan senjata ini adalah percepatan perjanjian dengan negara-negara Arab, sebagai bagian dari perluasan Abraham Accords.
Dalam kesepakatan tersebut disebutkan, perang di Gaza akan berakhir dalam dua pekan dengan syarat masuknya empat negara Arab, termasuk Mesir dan Uni Emirat Arab, yang akan memerintah Gaza untuk menggantikan Hamas. Beberapa negara akan menerima banyak dari warga Gaza yang beremigrasi (baca: diusir). Abraham Accords akan diperluas, yaitu Suriah, Arab Saudi, dan negara-negara Arab serta muslim akan mengakui entitas Zion*s dan menjalin hubungan diplomatik. Entitas Zion*s akan mengekspresikan kesiapannya atas solusi masa depan atas konflik dengan warga Palestina menurut konsep dua negara, yakni menyediakan reformasi dalam Otoritas Palestina. Poin terakhir kesepakatan, AS akan mengakui implementasi kedaulatan entitas Zion*s atas Tepi Barat.
Abraham Accords merupakan serangkaian perjanjian bilateral antara entitas Zion*s dengan negara-negara Arab dan muslim, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, Sudan, dan Suriah. Teks perjanjian tersebut menyebutkan bahwa negara muslim yang menandatanganinya akan membangun hubungan diplomatik dengan Israel dan mengakhiri radikalisasi dan konflik. Inti dari Abraham Accords ini adalah normalisasi hubungan negara-negara Arab dan muslim dengan entitas Zion*s dan pelemahan perlawanan mujahid.
Ini adalah pengkhianatan yang nyata oleh para penguasa muslim terhadap umat Islam di Palestina. Pada saat umat Islam Gaza bersimbah darah akibat genosida Zion*s, para penguasa muslim itu justru membuat kesepakatan normalisasi hubungan dengan Zioni*s. Bahkan, tangan sang penjajah “masih berlumuran darah” kaum muslim Gaza saat mereka berjabat tangan dengan mesra dan tersenyum lebar.
Demi memperoleh keuntungan dunia yang begitu kecil, yaitu kekuasaan, dukungan politik, ekonomi, dan keamanan dari AS, para penguasa muslim itu rela mengkhianati saudaranya di Palestina. Darah umat Islam yang membanjiri Gaza, juga tangis anak-anak yang kehilangan keluarga dan masa depannya, tidak mampu membuka hati mereka untuk membebaskan Palestina. Mereka merasa sudah cukup heroik dengan memberikan bantuan kemanusiaan dan kain kafan, padahal yang benar-benar dibutuhkan muslim Palestina adalah pengiriman militer untuk berjihad menumpas Zion*s di sana.
Pada perang Iran-Israel, pengkhianatan terhadap muslim Palestina kembali dipertontonkan. Gencatan senjata ditandatangani tanpa menyebut pembebasan Palestina di dalamnya. Tampak bahwa perang tersebut demi kepentingan Iran sendiri, bukan untuk membela saudaranya di Palestina.
Sementara itu, negeri-negeri muslim lainnya, seperti Indonesia justru mengagung-agungkan solusi dua negara sebagai penyelesaian masalah Palestina. Semua negara muslim itu pura-pura lupa bahwa entitas Zion*s adalah ahlinya melanggar perjanjian dan kesepakatan. Mereka juga adalah kaum yang gemar membunuh, jangankan terhadap muslim, terhadap nabinya saja mereka tidak segan untuk membunuh. Puluhan resolusi PBB yang sudah mereka langgar merupakan bukti nyata bahwa mereka tidak mengenal bahasa diplomasi dan hanya mengenal bahasa perang.
Solusi Dua Negara Absurd
Sungguh aneh, para penguasa muslim masih saja mempromosikan solusi dua negara, padahal itu adalah solusi yang mustahil. Entitas Zion*s tidak akan pernah mau hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam. Benjamin Netanyahu secara terbuka pada Minggu, 21 Januari 2024 mengatakan, “Israel harus mempertahankan kendali keamanan atas seluruh wilayah di sebelah barat Sungai Yordan untuk memastikan tidak ada teror yang dilancarkan terhadap rakyat Israel. Kami tidak akan puas dengan kemenangan mutlak (dalam perang di Gaza). Hal ini bertentangan dengan gagasan kedaulatan (Palestina). Apa yang bisa kita lakukan? Saya telah menjelaskan kebenaran ini kepada teman-teman Amerika kami dan saya minta menghentikan upaya untuk memaksa kami melakukan kenyataan yang akan membahayakan negara Israel.”
Pernyataan Netanyahu ini membuktikan bahwa entitas Zion*s tidak akan rela berdampingan dengan muslim Palestina. AS juga tidak akan pernah memberikan kemerdekaan penuh kepada muslim Palestina. AS berkepentingan untuk menancapkan hegemoninya terhadap Timur Tengah yang kaya minyak dan sangat strategis dari sisi geopolitik. AS tidak akan membiarkan ada negara yang berada dalam kendali penuh umat Islam dan memiliki kekuasaan islami karena akan menggoyang hegemoni AS di kawasan ini.
Semestinya kita ingat peringatan dari Allah Taala,
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 120).
Juga peringatan Allah Taala pada QS Ali Imran ayat 118,
قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ
“Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar.”
Lantas, bagaimana mungkin para penguasa muslim itu masih percaya bahwa AS dan Zion*s akan membiarkan Palestina merdeka secara hakiki?
Di sisi lain, umat Islam di Palestina juga akan menolak solusi dua negara karena bertentangan dengan Islam. Secara fakta, Zion*s telah merampas tanah muslim Palestina dan membunuhi warganya. Tidak mungkin muslim Palestina menerima ada sejengkal pun tanah kaum muslim diberikan kepada penjajah. Mereka tidak mungkin mengkhianati perjanjian Umariyah antara Khalifah Umar bin Khaththab ra. dengan penduduk Baitulmaqdis bahwa penduduknya akan dilindungi harta dan nyawanya. Penduduk Palestina juga tidak akan mengkhianati pengorbanan para syuhada yang telah mempertahankan tanah Palestina dengan nyawa mereka.
Dengan sikap barbar Yahudi dalam melakukan penjajahan dan keteguhan penduduk Palestina dalam mempertahankan tanahnya, diprediksi pembantaian akan terus terjadi dan perlawanan juga tidak akan pernah terhenti. Perlawanan muslim Palestina ini sesuai dengan perintah Allah Taala pada umat Islam untuk melakukan jihad (perang) terhadap musuh Allah Taala dan kaum muslim. Firman-Nya,
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَبِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ
“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka.” (QS Al-Anfal [8]: 60).
Rasulullah saw. secara spesifik memerintahkan jihad melawan Yahudi dalam sabda beliau, “Kalian memerangi orang-orang Yahudi hingga mereka berlarian dan bersembunyi di balik pepohonan dan bebatuan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Bahkan, jihad di Gaza merupakan jihad yang paling utama. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik jihad kalian adalah ribath (berjaga di perbatasan) dan sebaik-baik ribath adalah di Asqalan (sebuah wilayah di Gaza).” (HR Ath-Thabrani).
Umat Islam tidak boleh tertipu dengan narasi solusi dua negara. Solusi ini merupakan usulan Komisi Peel bentukan penjajah Inggris pada 7 Juli 1937. Solusi ini dibawa ke Sidang Umum PBB pada 1947 dan disepakati para pemimpin Arab pada KTT Arab di Fez pada 1982, Konferensi Madrid 1991, Perjanjian Oslo 1993, Pertemuan Taba pada 2001, juga Prakarsa Perdamaian Arab pada 2014. Namun, semuanya gagal mewujudkan solusi dua negara yang sejatinya memang gagasan absurd. Bahkan, sejak solusi ini diusulkan, Zion*s terus-menerus membombardir Palestina, melakukan genosida pada penduduknya, dan merampas tanahnya. Lantas, di mana relevansi dan kelayakan solusi dua negara ini sehingga masih saja ditawarkan?
Umat Islam tidak boleh tertipu lagi dengan permainan narasi Barat yang mendorong umat Islam untuk mengikuti solusi Barat. Umat Islam tidak bisa berharap pada solusi Barat yang sudah terbukti gagal mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk Palestina, bahkan menempatkan Palestina sebagai ladang genosida sekaligus melindungi pelakunya. Upaya-upaya untuk mewujudkan solusi dua negara justru akan menjauhkan umat dari solusi hakiki terhadap penjajahan di Palestina.
Umat Islam harus fokus dan percaya bahwa solusi masalah Gaza dan Palestina adalah kehadiran Khilafah yang akan mengomando jihad. Umat tidak boleh teralihkan oleh opini bahwa seruan jihad dan Khilafah ini berarti rida rakyat Gaza terus dibantai, tidak demikian. Justru jihad dan Khilafah yang akan membebaskan Palestina dari penjajahan dan pembantaian.
Jihad dan Khilafah, Solusi Hakiki
Kemerdekaan Palestina secara hakiki bukanlah sebuah kemustahilan karena pernah terwujud secara nyata, bukan dengan solusi negara-negara imperialis Barat, tetapi menggunakan solusi Islam. Realitasnya tampak secara terang benderang dalam bentangan sejarah Khilafah sejak masa Khulafaurasyidin hingga Utsmaniyah.
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. telah menggelorakan jihad untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi Timur (Bizantium) melalui perang Yarmuk yang dipimpin Pedang Allah yang Terhunus Khalid bin Walid ra. pada 636 M. Fondasi jihad ke Baitulmaqdis telah diletakkan oleh Rasulullah saw. dengan pengiriman ekspedisi jihad Usamah bin Zaid pada 632 M ke wilayah Balqa (Yordania) yang dikuasai Bizantium.
Akhirnya Baitulmaqdis mampu dibebaskan secara damai setelah dikepung oleh detasemen jihad di bawah pimpinan Abu Ubaidah al-Jarrah ra. yang dikirim oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Melalui momentum penyerahan kunci Baitulmaqdis oleh Uskup Sophronius kepada Khalifah Umar bin Khaththab ra., Palestina masuk ke dalam naungan kekuasaan Islam. Penduduk Palestina hidup aman dan sejahtera dengan perlindungan dari Khilafah terhadap harta dan jiwa mereka.
Selanjutnya Khilafah Umayah dan Abbasiyah senantiasa melindungi Palestina dengan memenuhi kebutuhan rakyatnya dan melakukan jihad berupa ribath (menjaga perbatasan) dari serangan tentara Salib. Baitulmaqdis sempat jatuh dalam hegemoni dan penjajahan pasukan Salib pada 1099 M hingga umat Islam diusir dari wilayah tersebut. Lalu Shalahudin al-Ayubi melakukan jihad dengan mengepung Baitulmaqdis dan berhasil membebaskannya dari tentara Salib pada 1187 M.
Setelah itu, Khilafah Utsmaniyah senantiasa mengalokasikan pasukan khusus untuk berjihad melindungi Palestina dengan melakukan ribath. Baitulmaqdis tetap terlindungi, bahkan pada masa terlemah Utsmaniyah. Khalifah Abdul Hamid II menolak mentah-mentah tawaran utusan Yahudi Theodore Herzl untuk membeli tanah Palestina bagi pemukim Yahudi, meski dengan iming-iming pembebasan utang luar negeri Utsmaniyah, pembangunan benteng pertahanan, dan hadiah uang sebesar £20 juta (sekitar US$2,2 miliar atau Rp37,4 triliun dengan kurs saat ini).
Khalifah kaum muslim itu bergeming karena memiliki kesadaran politik bahwa Herzl telah mengadakan konferensi di kalangan tokoh Yahudi dan mencetuskan ide pendirian negara Israel raya yang membentang di antara dua sungai, yaitu Nil dan Eufrat. Ia paham bahwa yang diinginkan Yahudi bukan sekadar tanah, tetapi menguasai Baitulmaqdis seutuhnya.
Palestina baru lepas dari perlindungan Khilafah ketika Khilafah runtuh pada 1924. Palestina jatuh di bawah penjajahan Inggris yang kemudian mengesahkan kelahiran negara Zion*s. Setelah melemahnya Inggris dan menguatnya AS, Palestina jatuh di bawah hegemoni AS yang terus memelihara entitas Yahudi yang menjajah Palestina.
Semenjak runtuhnya Khilafah, tidak ada lagi pengiriman militer untuk berjihad melindungi Palestina dari musuh. Tidak ada satu pun penguasa muslim di lebih dari 50 negara yang menggelorakan jihad untuk menumpas penjajah Yahudi dan mengusirnya dari bumi Palestina.
Seluruh penguasa muslim mengandangkan kekuatan militer dan alat perangnya, alih-alih mengirimnya ke Palestina. Sampai-sampai seorang anak perempuan Gaza berkata, “Berikan senjata kalian pada kami, biar kami yang berperang.” Tidakkah para penguasa muslim malu pada anak kecil itu? Ide kufur nasionalisme telah membelenggu mereka hingga tidak tergerak untuk mengirimkan militer demi melakukan jihad di Palestina.
Akhirnya, tanpa dukungan militer dari saudara muslimnya, Gaza sendirian melawan pendudukan dan genosida. Dengan batu, tangan kosong, dan tubuh yang kelaparan mereka berdiri tegak melawan penjahat yang menduduki Al-Aqsa.
Dengan kekuatan iman, meski berada dalam blokade selama puluhan tahun, dengan keterbatasan pasokan pangan dan serangan Israel yang nyaris tanpa jeda, mujahidin Gaza terus menuntaskan kewajibannya untuk berjihad menjaga Baitulmaqdis. Mereka mengerahkan seluruh kesungguhan dan keahlian untuk melawan penjajah. Hasilnya, lebih dari 1.100 tank dan Armored Personnel Carrier (APC) milik Zion*s dihancurkan oleh mujahid Palestina. Padahal, tidak ada satu pun senjata yang mereka gunakan merupakan bantuan dari luar, semuanya merupakan buatan mujahid Palestina.
Perlawanan mujahid Palestina membuktikan pada dunia bahwa Zion*s dan AS bisa dikalahkan. Sejatinya, dukungan penguasa muslimlah yang menjadikan Israel dan AS kuat. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam sebuah rilis oleh kelompok dakwah ideologis internasional menyatakan, “Israel adalah bayangan dari sistem pemerintahan negara-negara Arab. Ketika sesuatu itu (pemerintahan negara-negara Arab) hilang, hilanglah bayangannya.” Oleh karenanya, belenggu nasionalisme harus dihilangkan dari dunia Islam dan umat Islam harus bersatu untuk mewujudkan satu agenda politik global, yaitu menegakkan Khilafah.
Khilafah akan membebaskan Palestina dengan cara menyatukan negeri-negeri muslim dan mengomando jihad akbar. Khalifah akan mengerahkan militer beserta alat dan persenjataan perang sebanyak apa pun yang dibutuhkan untuk mengalahkan penjajah Zion*s dan negara-negara yang mendukungnya.
Pengerahan pasukan jihad difokuskan berasal dari negeri-negeri muslim terdekat dari Palestina, seperti Mesir, Lebanon, Yordania, Suriah, negeri-negeri di Jazirah Arab, kawasan Teluk, dan Turki. Jika tidak mencukupi, kewajiban jihad itu berlaku pada seluruh negeri muslim yang lebih jauh, seperti Sudan, Yaman, Oman, negara-negara Stan (Asia Tengah), bahkan hingga Indonesia.
Jihad akan terus digencarkan oleh Khilafah hingga Palestina benar-benar bebas dari cengkeraman penjajah dan kembali berada dalam naungan kekuasaan Islam. Jihad berupa ribath (menjaga perbatasan) akan terus dilakukan untuk menjaga wilayah Palestina agar selalu dalam kondisi aman dari serangan musuh.
Khilafah akan menyediakan dana yang tidak terbatas untuk membiayai jihad. Anggaran jihad berasal dari semua pos pemasukan, baik pos fai dan kharaj, kepemilikan umum, maupun zakat. Jika kas baitulmal kosong, sedangkan kebutuhan jihad mendesak untuk dipenuhi, negara berhak memungut pajak (dharibah) yang sifatnya temporer dari laki-laki muslim yang kaya. Jika pemungutan dharibah butuh waktu lama, sedangkan kebutuhan jihad mendesak, negara bisa berutang dahulu pada rakyat tanpa riba. Utang ini akan dilunasi setelah dharibah terkumpul. Selain itu, negara juga berhak mengumpulkan sedekah dan wakaf dari rakyat untuk keperluan jihad.
Jika kebutuhan jihad masih belum terpenuhi, kewajiban infak berlaku pada seluruh muslim, sesuai kemampuan terbaik mereka. Dengan mekanisme ini, jihad akan selalu bergelora tanpa ada kendala finansial.
Khilafah akan menyediakan alutsista tercanggih dengan mendirikan industri berasas perang. Di dalam kitab Ajhizah Daulah al-Khilafah fi al-Hukmi wa al-Idarati (Struktur Negara Khilafah, Pemerintahan dan Administrasi) hlm. 108 disebutkan, “Semua industri di dalam Negara Khilafah wajib dibangun di atas asas politik perang. Semua pabrik, baik yang menghasilkan industri berat atau menghasilkan industri ringan, dibangun di atas asas politik ini. Tujuannya untuk memudahkan pengalihan produksinya ke produksi perang kapan saja negara memerlukan hal itu.”
Demikianlah, Khilafah akan menyelenggarakan jihad untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Zion*s. Hanya jihad dan Khilafah solusi hakiki untuk membebaskan Palestina.
Menyongsong Kebangkitan Umat
Pembantaian di Gaza harus menjadi momen terbitnya fajar kebangkitan umat Islam dengan menyadari bahwa berharap pada solusi Barat justru menjauhkan dari solusi hakiki penjajahan di Palestina. Satu-satunya solusi hakiki itu adalah mewujudkan institusi Khilafah sebagai warisan Nabi Muhammad saw. yang terbukti telah menjadi penjaga umat dan telah membawa umat kepada kebangkitan hakiki.
Khilafah terbukti berperan sebagai perisai (junnah) bagi Palestina dan seluruh kaum muslim. Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.).
Penegakan Khilafah ini hendaknya menjadi agenda global umat Islam. Umat harus mendukung upaya penegakan Khilafah dengan dakwah pemikiran yang bersifat politik. Tidak cukup hanya mendukung, umat Islam juga harus segera terjun dan bergerak dalam perjuangan penegakan Khilafah bersama kelompok dakwah Islam ideologis. Inilah bukti keseriusan kita menolong muslim Gaza dan Palestina.
Langkah ini pula yang akan mengangkat umat Islam lainnya dari jurang kehinaan akibat hidup dalam naungan sistem sekuler kapitalisme. Selanjutnya seluruh umat Islam, termasuk muslim Palestina, akan hidup dalam keamanan dan kesejahteraan di bawah naungan Khilafah. Wallahualam bissawab. [MNews/RR-NA]

Jihad dan khilafah solusinya
Hanya dengan Jihad dan Khilafah Gaza-Palestina bisa dibebaskan dari genosida entitas Zionis dan juga bisa mengangkat Kaum Muslimin yang terhina di negeri-negeri lain saat ini.