Penulis: Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Orang-orang Paganis (penyembah berhala) Arab pada masa Muhammad saw., dikenal luas sebagai penyair-penyair besar dan sering membanggakan penguasaan mereka terhadap bahasa Arab. Mereka menjunjung bahasa Arab dengan segala fleksibilitas dan kedalaman ungkapannya dengan rasa penghargaan yang sangat tinggi.
Jadi, bisa saja orang berkata bahwa orang Arablah yang mengarang Al-Qur’an, kalau memang orang non-Arab mustahil melakukannya. Namun, kemungkinan ini juga gagal karena seluruh ayat-ayat Al-Qur’an mengandung ungkapan yang indah, retoris, dan koheren.
Seluruh ayat-ayat Al-Qur’an terjalin rapi dengan gaya seolah-olah ia satu kalimat, dengan susunan kata yang sempurna, dan dengan susunan gramatika bentuk tertinggi. Bahkan, standar bahasa yang digunakan sedemikian tinggi sampai-sampai Al-Qur’an sendiri menantang orang-orang yang meragukan keasliannya sebagai wahyu Ilahi agar membuat suatu karya yang serupa dengan Al-Qur’an.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’“ (QS Al-Isra: 88).
Selain itu, Al-Qur’an juga mengatakan tentang orang-orang yang meragukan autentikasi Al-Qur’an.
“Bahkan, mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.'” (QS Hud: 13).
Tidakkah mereka bisa melihatnya, apabila orang-orang yang menyangkal bahwa Al-Qur’an berasal dari Sang Pencipta, artinya Al-Qur’an adalah karya seorang manusia (Muhammad saw.). Jika memang begitu, maka pastinya orang lain juga dapat membuat sepuluh surah yang sama keindahan dan gayanya. Ini merupakan kesempatan untuk mengolok-olok klaim Muhammad saw. dan mereka dapat mengumpulkan orang-orang yang mereka inginkan untuk membantu mereka membuat sepuluh surah itu dan menjadi saksi keberhasilan pembuatan ayat-ayat itu. Mengapa mereka akhirnya tidak mampu membuat satupun ayat yang menandingi Al-Qur’an?
Tidak cukup dengan tantangan terbuka kepada manusia untuk membuat sepuluh ayat yang menyerupainya, Al-Qur’an mengurangi tantangan itu menjadi satu surah saja.
“Apakah pantas mereka mengatakan ia (Muhammad) yang telah membuat-buatnya? Katakanlah, ‘Buatlah sebuah surah yang semisal dengan surah (Al-Qur’an), dan ajaklah siapa saja di antara kamu orang yang mampu (membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.'” (QS Yunus: 38).
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah: 23—24).
Ini adalah argumentasi pamungkas yang meyakinkan dan menantang orang-orang yang meragukan Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi. Mereka yang meragukan Al-Qur’an itu harus berkumpul dan bersama-sama membuat satu surah saja yang serupa dengan Al-Qur’an dari segi keindahan, retorika, dan koherensi ungkapannya. Al-Qur’an memiliki 114 surah dan lebih dari 6.600 ayat.
Sementara yang diminta dalam tantangan itu hanyalah membuat satu surah seperti Al-Qur’an. Surah terpendek dalam Al-Qur’an adalah surah Al-Kautsar, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, ialah yang terputus.” (QS Al-Kautsar: 1—3).
Inilah bunyi surah terpendek di dalam Al-Qur’an yang hanya terdiri atas 3 ayat dan 10 kata bahasa Arab. Pastinya, apabila sepuluh kata ini datang dari manusia, maka manusia lain sudah barang tentu mampu menirunya dan mengungguli keindahannya. Apalagi ini merupakan tantangan kepada seluruh manusia tanpa pengecualian dan mereka diminta untuk saling membantu.
Tantangan yang sederhana ini tetap tidak bisa dijawab selama lebih dari 1.400 tahun sejak Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Tidak ada satu pun pakar bahasa Arab, muslim atau bukan, atau pun kumpulan manusia, pakar atau bukan, orang Arab atau bukan, yang mampu membuat satu surah atau paragraf dengan gaya bahasa dan keindahan yang sama dengan Al-Qur’an.
Apabila orang-orang Arab bukan pengarang Al-Qur’an, jelaslah bahwa Muhammad saw. juga bukan pengarangnya. Bagaimana pun Muhammad saw. adalah bagian dari orang Arab, bangsa yang secara keseluruhan hingga sekarang tidak mampu membuat satu surah yang menyerupai Al-Qur’an, bahkan orang Arab yang jenius sekalipun. Selain itu, ada perkataan Muhammad saw. yang secara definitif memang ucapannya dengan narasi yang sama sebagaimana Al-Qur’an. Ini dikenal dengan istilah hadis mutawatir.
Perbandingan antara gaya bahasa Muhammad saw. dan gaya bahasa Al-Qur’an menunjukkan perbedaan yang jelas. Sesungguhnya gaya bahasa Muhammad saw. tanpa diragukan lagi adalah ungkapan seorang manusia biasa, sedangkan gaya bahasa Al-Qur’an sangat berbeda, jauh di luar kemampuan berbahasa manusia. Gaya bicara Muhammad saw. benar-benar berbeda dengan gaya Al-Qur’an.
Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an berasal dari sumber yang berbeda. Bukti lebih jauh dan lebih meyakinkan ialah bahwa banyak orang dalam sejarah Islam yang telah berhasil meniru ucapan Muhammad ﷺ. Biasanya mereka membuat hadis-hadis palsu demi keuntungan mereka sendiri, tetapi tidak ada satu orang pun yang pernah mampu meniru Al-Qur’an. Mengapa demikian? Ini karena ucapan Muhammad saw. adalah ucapan seorang manusia biasa yang bisa ditiru dan bisa diungguli. Sedangkan Al-Qur’an tidak bisa ditiru atau diungguli.
Jadi, di sini kita berhadapan dengan sebuah misteri. Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang diturunkan dalam bahasa Arab, bahasa manusia, yang berarti lidah manusia. Akan tetapi, gaya bahasanya, keindahannya, dan retorikanya terbukti berada jauh di luar kemampuan berbahasa manusia, sehingga tidak bisa ditiru apalagi ditandingi.
Oleh karena itu, Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat, yaitu sesuatu yang terjadi di dalam realitas (alam semesta) yang mustahil terjadi karena melanggar Hukum Alam (sunnatullah). Secara rasional, satu-satunya zat yang mampu melangkahi hukum yang mengendalikan eksistensi dan keteraturan alam semesta yang terbatas, lemah, dan membutuhkan ini ialah zat yang telah menciptakan Hukum Alam itu, yaitu X.
Sebagai contoh, apabila ada manusia yang mampu eksis tanpa membutuhkan makanan, air, udara, tidur, dan lain-lain, maka kemampuan ini pastinya muncul dari orang yang menciptakan manusia yang membutuhkan makanan, air, udara, dan tidur agar bisa bertahan hidup. Pembuat setiap kemukjizatan tidak lain adalah X. Secara definitif, Al-Qur’an telah terbukti sebagai mukjizat. Al-Qur’an adalah sebuah kitab dengan bahasa manusia, tetapi tidak ada satu manusia pun yang dapat membuat karya yang mirip dengannya. Oleh karenanya, Al-Quran secara definitif berasal dari X.
Dengan demikian, Islam dapat membuktikan secara meyakinkan bahwa kitabnya adalah Wahyu Ilahi, sesuai dengan realitas sebagai sebuah mukjizat berdasarkan fakta definitif bahwa ia merupakan sebuah kitab yang tidak dihasilkan oleh manusia. Orang yang membawa mukjizat ini pasti telah dipilih oleh X untuk menjadi utusan X kepada manusia. Jadi, secara rasional pula terbukti bahwa Muhammad saw. adalah utusan Sang Pencipta itu.
Namun demikian, Al-Quran diturunkan bukan sebagai buku bahasa, buku tata bahasa, atau buku puisi/syair.
“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS Ibrahim: 1).
Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan X menciptakan manusia adalah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Az-Zariyat: 56).
Dengan demikian, tujuan manusia di dalam kehidupan ini tidak lain tidak bukan adalah untuk menyembah zat yang telah memberinya kehidupan, yaitu X atau Allah Taala. Artinya setiap perbuatan yang manusia lakukan harus sesuai dengan wahyu Sang Pencipta. Bagaimana manusia bisa melakukan hal tersebut? Itulah yang akan kita bahas berikutnya. [MNews/RY-YG]
Sumber: Abdullah, Siapa yang Layak sebagai Pembuat Hukum.
