Muslimah News, INTERNASIONAL — Perdana Menteri Zion*s “Israel” Benjamin Netanyahu membuat pernyataan pada Kamis (19-6-2025). “Setelah berdirinya Israel, kita menghadapi dunia Arab yang bersatu dan kita secara bertahap membaginya.”
Komentar tersebut, yang dilaporkan oleh Otoritas Penyiaran Israel, muncul saat Netanyahu bersumpah untuk melanjutkan agresi militer terhadap Iran hingga tercapai apa yang disebutnya “netralisasi ancamannya.”
Walaupun Netanyahu menegaskan bahwa pergantian rezim di Iran bukanlah tujuan yang dinyatakan, ia mengakui bahwa hal itu bisa jadi merupakan konsekuensinya.
Juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis di Palestina menegaskan, sebelum adanya entitas Zion*s yang dikutuk Allah dan sebelum kehancuran Khilafah, dunia Arab tidak hanya bersatu. “Namun, itu adalah satu bangsa di bawah satu negara. Bangsa ini tidak dibagi oleh Zion*s, melainkan oleh para penguasa yang menciptakan Zion*s dengan kebencian dan tipu daya,” ucapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (20-6-2025).
Pernyataan Netanyahu, lanjutnya, adalah kebohongan. “Dengan kata-kata ini, Netanyahu menyapa rakyat Zion*s dan dunia, sambil membanggakan diri seolah-olah telah melakukan apa yang dikatakannya. Seperti kebiasaan rakyatnya, mereka adalah para pemfitnah, pembohong, dan mengeklaim apa yang tidak mereka miliki!” ungkapnya.
Para penguasa itu (Barat) yang memerangi bangsa muslim selama berabad-abad, lanjutnya, merasakan kekuatan dunia Islam dan menyaksikan jatuhnya ibu kota Barat satu demi satu. “Konstantinopel ditaklukkan dan saudaranya (Roma) hampir jatuh. Namun, Allah menghendaki agar wilayah itu tetap ada untuk penaklukan baru yang akan datang. Insyaallah,” ujarnya.
Memecah Belah
Ia menyatakan, para penguasa di Barat menghadapi dunia Islam yang bersatu dan mengetahui sumber kekuatannya. “Ketika bangsa Islam tidak sadar dan lemah, Barat menyusup ke dalam pikiran dan hati anak-anak muslim, mengobarkan pertikaian dan menyulut nasionalisme dan patriotisme. Yang satu Arab dan yang satu Turki, yang satu Kurdi dan yang satu Amazigh,” bebernya.
Barat, tambahnya, menyerukan perpecahan di atas agama dan persaudaraan Islam. “Jadi, mereka memecah belah bangsa muslim dan bertindak seperti pisau bedah pada satu tubuh, memecah belah negara-negara dengan Perjanjian Sykes-Picot yang melahirkan Deklarasi Balfour yang terkenal itu,” ulasnya.
Ia menyesalkan, negara Islam terpecah belah pada hari ketika Barat menciptakan batas-batas imajiner dan bendera-bendera pemisah bagi kaum muslim.
“Barat menyuruh kita untuk menyucikan tanah air kita dan menciptakan batas-batas imajiner di antara kita. Kemudian menempatkan tipu daya dan kedengkian. Barat mengumpulkan kita dalam batas-batas dan dianggap tidak berharga,” cetusnya.
Saat kita lahir, jelasnya, Barat telah menguasai tanah-tanah kaum muslim dan menempatkan wali-wali atas kepentingan-kepentingannya, para penguasa yang terbiasa dengan pengkhianatan dan ketundukan.
“Kemudian mereka menjadikan kaum muslim sebagai basis terdepannya—di tanah kaum muslim sendiri—dan menjadi belati untuk memecah belah tubuh kaum muslim sendiri. Jadi, kita lahir dalam inkubator rezim-rezim agen yang diciptakan oleh Barat,” paparnya.
Lalu Barat, imbuhnya, dengan kerja sama para penguasa agen, termasuk PLO (Organisasi Pembebasan Palestina), berhasil mendirikan entitas Zion*s di Tanah Palestina yang diberkahi, dan mencoba memberikan legitimasi bagi Zion*s melalui perjanjian damai yang penuh pengkhianatan.
Persatuan
Ia mengingatkan, Zion*s tidak dapat merebut Palestina, kecuali setelah umat ini terpecah. “Juga Zion*s membombardir Gaza dan Lebanon, Suriah dan Yaman, kemudian Iran pada saat terjadi perpecahan, ketiadaan semangat, dan ketiadaan bantuan dari penguasa muslim. Bahkan, meskipun kalian (Zion*s) tidak terlibat dalam semua itu, kecuali dengan dukungan, perlindungan, dan senjata dari mereka yang menempatkan kalian di negeri ini, kami mendengar napas persatuan di dalam bangsa muslim,” tegasnya.
Makna jihad sekarang muncul dari bawah debu penderitaan, ungkapnya, dan umat Islam saat ini merindukan persatuannya, juga telah mengetahui rahasia kelemahannya dan musuhnya.
“Umat menyadari bahwa semua yang hilang adalah upaya untuk bersatu menjatuhkan rezim agen yang memecah belah kaum muslim. Sebagaimana kalian merebut negara ini dengan kelemahan dan perpecahannya, umat akan mengusir kalian dan tuan-tuan kalian dengan kekuatan dan persatuannya, dan kalian bukanlah apa-apa selain debu yang beterbangan karena angin umat yang akan menghampiri,” tandasnya.
Ia menutup dengan firman Allah dalam surah At-Taubah: 52, “Katakanlah, ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (kemenangan atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan azab kepadamu dari sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersama kamu.’.” [MNews/RA]

Astaghfirullah, penghianatan ya g luar biasa
Semoga khilafah segera tegak