[Kabar] Aktivis: Akankah Taliban Menjadi Korban Permainan di Asia Selatan?

[Kabar] Aktivis: Akankah Taliban Menjadi Korban Permainan di Asia Selatan?

Muslimah News, INTERNASIONAL — Cina, Pakistan, dan Afganistan menghadiri pertemuan puncak informal tingkat tinggi, Rabu (21-5-2025). Pertemuan yang dipimpin oleh Menlu Afghanistan sementara, Amir Khan Muttaqi, ini dihadiri oleh utusan khusus Cina, Yue Xiaoyong, dan utusan khusus Pakistan, Mohammad Sadiq.

Hasil utama dari pertemuan tersebut, menurut Menlu Cina Wang Yi adalah keinginan baru dari Pakistan dan Afganistan untuk memulihkan hubungan diplomatik setelah meningkatnya ketegangan dalam beberapa tahun terakhir.

“Afganistan dan Pakistan menyatakan keinginan yang jelas untuk meningkatkan hubungan diplomatik dan pada prinsipnya sepakat untuk bertukar duta besar sesegera mungkin. Cina menyambut baik hal ini dan akan terus memberikan bantuan untuk peningkatan hubungan Afganistan-Pakistan,” kata Wang.

Selama pertemuan, diskusi difokuskan pada langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kepercayaan politik, mengoordinasikan upaya kontra-terorisme, dan mendorong integrasi ekonomi.

Agenda ini tidak hanya memperkuat peran mediasi Cina antara Afganistan dan Pakistan, tetapi juga menegaskan pengaruhnya yang makin besar dalam membentuk dinamika regional yang sedang berkembang.

Permainan

Menurut aktivis dakwah asal Afganistan Yusuf Arsalan, ini tampak seperti peristiwa diplomatik yang positif bagi Taliban, Afganistan, tetapi pada intinya, ini sebenarnya bagian dari permainan yang lebih besar dalam geopolitik regional.

“Pemain utama permainan tersebut adalah Cina, India, Amerika Serikat (AS), dan Pakistan. Sedangkan, Afganistan—yang tidak memiliki kesadaran strategis—akan diubah menjadi “alat” di pusat persaingan ini,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Ahad (8-6-2025).

Ia menilai, Cina memiliki tujuan-tujuan khusus di Afganistan. “Dari sudut pandang Cina, Taliban hanya dapat menjadi mitra jika dapat mengendalikan kelompok-kelompok seperti Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) dan Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM), mencegah pengaruh India di Afganistan, dan meninggalkan pemikiran Islam global dan berkomitmen pada negara-bangsa,” jelasnya.

Dalam hal tersebut, lanjutnya, Cina siap untuk menghubungkan Koridor Ekonomi Cina-Pakistan (CPEC) ke Afganistan.

“Taliban—dengan keuntungan politik dan ekonomi terkecil—tampaknya telah menyetujui persyaratan ini dan melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkuat kedudukan internasionalnya,” imbuhnya.

Di sisi lain, paparnya, berdiri India—negara yang menjadi pilar utama kebijakan AS di Asia Selatan—dalam permainan ini.

“AS berupaya mengubah India menjadi “Israel-nya Asia Selatan” yang berarti kekuatan utama yang memainkan peran penting di Asia Selatan dan Indo-Pasifik melawan Cina. Itulah sebabnya India diperkuat oleh Washington, berupaya memainkan peran yang lebih aktif di Afganistan, memantau Taliban secara ketat, dan melalui mereka, menyusup ke kelompok-kelompok yang menentang Pakistan dan Cina,” ulasnya.

Dalam analisisnya, kunjungan Anind Prakash, Wakil Menlu India, baru-baru ini ke Kabul dan panggilan telepon antara Menlu India Subrahmanyam Jaishankar dan Amir Khan Muttaqi dapat ditafsirkan dalam konteks ini.

“New Delhi ingin melanjutkan proyek-proyek ekonomi sebelumnya dan pada saat yang sama membangun hubungan politik yang bermakna dengan Taliban,” imbuhnya.

Menurutnya, ketakutan utama India adalah Taliban berubah menjadi kekuatan regional dan pertumbuhan Islam politik transnasional sehingga India berupaya menyelaraskan Taliban dengan tatanan negara-bangsa dengan menawarkan konsesi kepada mereka.

Di tengah semua hal ini, ungkapnya, Pakistan berada dalam posisi yang rapuh, bagaikan seorang hamba yang diabaikan oleh tuannya.

“Islamabad sangat khawatir tentang keamanannya dari Afganistan, terutama karena kehadiran TTP. Pada saat yang sama, khawatir pula terhadap pengaruh India yang makin besar di Kabul dan hubungan New Delhi yang makin erat dengan Taliban,” paparnya.

Saat ini, ujarnya, pemerintahan Hindutva Modi adalah favorit Washington. “Meskipun merasa kesal, Pakistan telah tunduk pada kebijakan AS ini, tetapi mencoba menggunakan Taliban sebagai alat untuk mengamankan keselamatannya sendiri dan untuk mengikat Afganistan sebagai negara-bangsa,” ucapnya.

Ia menerangkan, AS, setelah menarik diri dari Afganistan, kini berupaya membendung Cina dengan memperkuat India. “Washington tidak ingin Beijing mendekati Taliban dan menguasai sumber daya mineral Afganistan yang belum dimanfaatkan. Selain itu, AS berupaya agar Pakistan tetap terlibat di perbatasannya dengan Afganistan sehingga fokus keamanannya teralih dari India sehingga India dapat bernapas lega dalam persaingannya dengan Cina,” jabarnya.

Sejak negosiasi awal dengan Taliban hingga saat ini, lanjutnya, AS telah berupaya mengintegrasikan pemerintah Afganistan ke dalam komunitas internasional, membuatnya tetap berkomitmen pada negara-bangsa, dan membuat Taliban sendiri menekan dan mengendalikan potensi islamisme global.

Pragmatis

Sementara itu, kritiknya, Taliban, dengan pendekatan pragmatisnya, menyambut baik hubungan atau konsesi politik atau ekonomi apa pun, tanpa memahami standar syariat atau konsekuensinya. “Ketakstabilan politik dan kurangnya kesadaran strategis ini telah menyebabkan Taliban mengabaikan kejahatan Cina terhadap muslim Uighur dan kebijakan represif India di Kashmir,” cetusnya.

Bahkan, sambungnya, banyak anggota Taliban sendiri tidak menyadari bahwa dari perspektif fikih, negara-negara ini termasuk dalam kategori dar al-harb (wilayah perang), tetapi berdasarkan kebijakan nasionalistik dan ekonomi, negara-negara ini justru dijadikan teman strategis.

Ia menjelaskan, Taliban berusaha mempertahankan kebijakan yang berimbang dan berpusat pada ekonomi berdasarkan kepentingan nasional untuk mencapai keseimbangan antara Cina, India, dan Barat.

“Namun dalam praktiknya, Taliban lebih condong ke Barat, terutama kepada AS. Padahal, kebijakan ini tidak berasal dari perspektif Islam, melainkan dari kurangnya kesadaran politik. Alih-alih mengambil sikap berprinsip dan berdasarkan syariat terhadap kekuatan-kekuatan besar, mereka malah condong ke pihak mana pun yang menawarkan konsesi paling banyak kepada mereka,” ungkapnya.

Situasi ini, ulasnya, mencerminkan krisis yang lebih mendalam pada politik dunia Islam. “Pengalaman telah menunjukkan bahwa selama Taliban dan kelompok-kelompok serupa mencari konsesi politik dari kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam, kondisi dunia Islam tidak akan berubah,” jelasnya.

Ia mengingatkan, jalan keluar dari medan pertempuran antara Timur dan Barat tidak terletak pada ketergantungan pada Cina atau Amerika, tetapi pada pembentukan Khilafah Rashidah kedua.

“Khilafah, dengan pemahaman yang mendalam tentang realitas politik dan ekonomi, akan mengangkat umat Islam keluar dari sekadar prajurit “kaki” dalam proyek-proyek kolonial serta mengembalikan mereka ke status yang independen dan kuat,” tegasnya.

Tanpa pendekatan seperti itu, tandasnya, Afganistan dan negara-negara Islam lainnya akan tetap menjadi medan pertempuran bagi persaingan kekuatan-kekuatan besar. [MNews/RA]

Share

3 thoughts on “[Kabar] Aktivis: Akankah Taliban Menjadi Korban Permainan di Asia Selatan?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *