Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto menerangkan, makna puncak ibadah haji saat wukuf di Arafah adalah tauhid dengan berbagai implikasinya.
“Kita tahu bahwa puncak ibadah haji adalah wukuf. Tidak ada kewajiban untuk melakukan sesuatu, kecuali mereka berdiam di situ. Ketika diam itulah justru harus bisa menangkap spirit penting dari ibadah haji, yaitu tauhid,” urainya dalam Fokus to the Point: “Haji yang Hentikan Korupsi, Bagaimana?” di kanal UIY Official, Kamis (5-6-2025).
Tauhid ini pun, jelasnya, memiliki implikasi dalam kehidupan. “Kalau ditanya kamu percaya Allah Swt.? Ya percaya. Apakah dengan percaya dan menyembah Allah Swt. itu sudah cukup untuk mengatakan kita sudah bertauhid? Tentu tidak karena tauhid atau keimanan kepada Allah Swt. ini harus terwujud secara nyata,” ucapnya.
Makin Memuncak
Ia memaparkan bahwa wujud tauhid atau keimanan itu seperti yang ditunjukkan Nabi Ibrahim as. dan keluarganya, yaitu ketaatan penuh kepada Allah Swt.. “Oleh karena itu, jika kita ini sudah berhaji atau berumrah mestinya tauhidnya makin memuncak, ketaatan juga makin mendalam. Ketaatan kepada perintah Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya,” tuturnya.
Menurutnya, jika spirit ini ditangkap betul oleh jemaah haji, khususnya di Indonesia, dengan jumlah jemaah, baik yang sedang berangkat maupun yang sudah berangkat itu paling besar, mestinya kondisi negeri ini tidak seperti sekarang.
“Banyak sekali kita lihat paradoks. Jemaah hajinya paling banyak, tapi sekaligus korupsi juga paling banyak. Yang melakukan korupsi, sebagiannya adalah yang sudah pergi haji. Lalu di mana spirit tauhidnya yang didapat dari ibadah haji?” tanyanya retoris.
Kemudian, ia mengutip perkataan Imam Suyuti terkait haji mabrur. “Imam Suyuti mengatakan, tanda-tanda mabrur adalah ketika orang yang pulang dari ibadah haji itu lebih baik daripada sebelumnya. Lebih baik apanya? Keimanannya, ketaatannya,” jelasnya.
Ia mencontohkan, kalau sebelumnya tidak memperhatikan halal dan haram, kemudian sekarang diperhatikan. “Kalau sebelumnya korupsi, ia harus mengembalikan uang korupsinya. Kalau sebelumnya memperjuangkan atau membela sekularisme, mestinya sekarang membela Islam. Begitu mestinya,” ungkapnya.
Jadi, lanjutnya, spirit tersebut harus ditangkap. “Kita ini mesti mencintai Allah lebih daripada mencintai yang lain,” tegasnya.
Ukhuah Islamiah
Selain itu, UIY mengingatkan, yang harus dipahami juga secara mendalam bahwa ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang mampu merepresentasikan atau mempertontonkan apa yang disebut dengan persaudaraan Islam atau ukhuah islamiah.
“Ini karena umat Islam datang ke Makkah betul-betul tidak lagi memperhatikan ras, suku, bangsa, dan bahasa, tetapi semuanya datang seraya mengucapkan kalimat talbiah. Artinya, ada kesadaran di Makkah itu untuk memenuhi panggilan Allah Swt.. Itulah wujud persatuan universal bahwa umat Islam bersaudara,” paparnya.
Hal ini, sambungnya, karena Tuhan kita itu satu, Allah Swt.. “Nabi kita satu, Nabi Muhammad saw.. Kiblat kita satu, Ka’bah di Baitullah. Kitab kita satu, Al-Qur’an. Karena empat faktor itulah, kita bisa bertemu di Padang Arafah, bisa bertemu di Masjidilharam, bisa bertemu di Masjid Nabawi, bisa bertemu di Tanah Suci,” tuturnya.
Namun, ia menyayangkan, pertemuan itu hanya simbolis di Tanah Suci. “Mengapa selepas mereka kembali ke daerahnya, tidak lagi memperhatikan ikatan-ikatan yang semestinya mereka pertahankan, yaitu ikatan akidah Islam itu? Hal ini karena sistem yang dipakai tidak lagi bersumber dari empat faktor tadi, bukan sistem Islam. Kepemimpinannya juga bukan kepemimpinan yang mengabdikan diri kepada Islam,” ungkapnya.
Ini ironi, ucapnya, ketika ibadah tidak berkorelasi dengan kenyataan hidup umat Islam. “Apalagi ada larangan bagi siapa saja yang melakukan pembelaan terhadap Palestina di Tanah Suci akan dianggap sebagai melanggar aturan,” sesalnya.
Ia mempertanyakan, bagaimana bisa umat Islam yang sedang beribadah, kemudian memikirkan saudara lainnya yang sedang di dalam penderitaan luar biasa, justru dianggap telah melakukan kejahatan?
“Jelas ini ada sesuatu yang salah. Yang salah siapa? Tentu yang melarang karena telah mempersempit makna dari ibadah sekadar ibadah ritual. Padahal kita tahu bahwa tidak pernah ada di dalam Islam itu ibadah yang berhenti di dalam ibadah, seperti salat yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar,” jelasnya.
Apalagi ibadah haji, lanjutnya, dimensi politiknya itu kentara sekali. “Persatuan umat Islam dan umat itu bersaudara. Mestinya mereka juga peduli terhadap keadaan atau nasib umat Islam yang ada di berbagai wilayah yang saat ini tengah menderita. Ada di Gaza, Palestina, ada Uigur, ada Rohingya, dan sebagainya,” urainya.
Menurutnya, ini adalah pertemuan besar umat Islam. “Mungkin kita bisa lihat nanti di Arafah, apakah Palestina dibicarakan? Tapi saya sangat ragu ya. Mungkin hanya tinggal doa (untuk Palestina) di tenda-tenda kecil,” tutupnya. [MNews/RA]

Astaghfirullah,, sepakat ustadz,,,