Muslimah News, FOKUS — Alhamdulillah kita dipertemukan lagi dengan bulan Zulhijah. Pada bulan ini umat Islam merayakan Iduladha dan melaksanakan syariat kurban sebagai wujud ketaatan pada Allah Taala.
Zulhijah juga merupakan bulan haji. Ibadah haji merupakan simbol persatuan umat Islam. Jutaan jemaah haji dari berbagai negara di dunia berkumpul menjalankan prosesi haji. Bahkan, pada puncak haji mereka berada di tempat yang sama, yaitu Padang Arafah, pada waktu yang sama, yaitu 9 Zulhijah, dan mengenakan pakaian yang sama, yaitu pakaian ihram.
Meski berbeda negeri, suku, bangsa, ras, bahasa, warna kulit, dan latar belakang sosial ekonomi, jemaah haji melebur bersatu dalam rangka beribadah kepada Allah Taala. Mereka melakukan ritual ibadah yang sama, seperti wukuf, melempar jumrah, tawaf, dan sai. Mereka bersama-sama menengadahkan tangan pada Sang Khaliq, mengucapkan kalimat talbiah, dan berdoa memohon berbagai kebaikan. Sungguh persatuan umat Islam begitu tampak dalam rangkaian ibadah haji. Siapa pun yang melihatnya akan terenyuh, betapa umat Nabi Muhammad saw. bisa berada dalam satu barisan.
Namun sungguh sayang, persatuan itu sirna begitu ibadah haji usai dilaksanakan. Masing-masing rombongan haji pulang ke negeri masing-masing dan kembali tersekat-sekat dalam 50-an negara bangsa (nation state). Kondisi ini terjadi karena adanya paham nasionalisme di tengah umat.
Nasionalisme merupakan paham buatan Barat yang lahir dari rahim sekularisme. Barat mengembuskan ide nasionalisme di negeri-negeri muslim untuk memecah-belah dan menguasainya. Ide nasionalisme telah meruntuhkan ukhuwah islamiah di tengah umat.
Nasionalisme merupakan ide beracun yang menjadi bagian dari strategi devide et impera Barat terhadap Khilafah yang dahulu menyatukan negeri-negeri muslim hingga akhirnya tercerai-berai menjadi puluhan negara bangsa. Setelah dipecah menjadi negeri-negeri yang kecil, Barat dengan mudah menjajahnya.
Akibat nasionalisme, umat Islam tidak memiliki ikatan pemersatu. Urusan salah satu negeri muslim tidak menjadi urusan negeri muslim yang lain. Masing-masing negeri sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak peduli pada urusan umat Islam di luar wilayahnya.
Nasionalisme menjadikan negeri-negeri muslim terisolasi sendiri-sendiri, mereka tidak terkoneksi dengan ikatan ukhuwah islamiah. Bahkan, pada perayaan Iduladha saja, umat Islam kerap berbeda hari. Demikian pula pada tahun ini, mayoritas umat Islam, termasuk di Indonesia, merayakan Iduladha pada Jumat, 6 Juni 2025, tetapi beberapa negara merayakan pada Sabtu, 7 Juni 2025.
Tidak hanya terpisah, negeri-negeri muslim bahkan bermusuhan dan saling serang. Misalnya konflik Sudan, Yaman, Arab Saudi-Qatar, dll. Bahkan, Indonesia dan Malaysia juga pernah terlibat sengketa wilayah.
Ketika hidup terpisah dalam format negara bangsa, juga penerapan sistem sekuler kapitalisme, mayoritas kaum muslim hidup miskin dan menderita. Kekayaan alam mereka dikuasai negara penjajah (Barat). Mereka lemah dalam menghadapi hegemoni Barat. Sungguh umat Islam mengalami nestapa akibat terpisah oleh sekat nasionalisme.
Belenggu Nasionalisme
Sekat nasionalisme itu demikian kentara pada kasus Palestina. Ketika lebih dari 62 ribu muslim Palestina kehilangan nyawa, bayi-bayi menangis dari bawah reruntuhan, anak-anak yang kehilangan anggota badannya, pilu para ibu yang kehilangan seluruh anaknya, rintihan para lansia yang berhari-hari tidak mendapatkan makanan, dan gemuruh bom yang dijatuhkan terus-menerus, “tangan” negeri-negeri muslim terbelenggu nasionalisme sehingga tidak mampu membebaskan saudaranya, muslim Palestina.
Di Arafah, umat Islam mendoakan pembebasan Palestina, tetapi sayang tangan mereka hanya mampu tengadah untuk berdoa. Sedangkan tangan umat Islam “terbelenggu” nasionalisme hingga tidak mampu mengangkat senjata untuk membebaskan saudaranya. Penguasa muslim terbelenggu nasionalisme sehingga tidak mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina, bahkan melakukan normalisasi hubungan dengan Zionis Yahudi dan meneken kerja sama dengan Amerika Serikat, sekutu utama Zionis Yahudi.
Miris, pada saat kita makan daging kurban yang lezat, dengan bumbu dan rempah istimewa nan menggugah selera, tidak ada hari raya di Palestina. Mereka memakan rumput dan apa pun yang masih bisa tumbuh di sela-sela reruntuhan. Sedangkan bantuan dari kaum muslim dihancurkan oleh Zionis Israel hingga terigu dan bahan pangan lainnya terhambur ke tanah dan tidak bisa mereka makan. Sering kali, bantuan itu menjadi umpan untuk menghabisi muslim Palestina yang mengambilnya.
Hari raya apa ini? Hari raya di atas kematian, luka, tangis, dan kelaparan saudara sesama muslim sesungguhnya adalah hari yang penuh kesedihan.
Kondisi ini tercipta karena umat Islam tidak bersatu. Kita lemah meski jumlah kita bermiliar jiwa banyaknya. Kita terpecah-belah dan tercerai-berai karena tidak disatukan oleh kesatuan akidah.
Sedangkan Allah Taala telah menegaskan bahwa umat Islam bersaudara. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat [49]: 10). Demikian pula Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dizalimi).” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. mengibaratkan umat Islam sebagai satu tubuh yang saling mendukung. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586).
Rasulullah saw. juga menggambarkan umat Islam seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan. Beliau saw. bersabda, “Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585).
Persatuan umat Islam telah Rasulullah saw. wasiatkan pada momen khotbah haji wadak. Rasulullah saw. berpesan, “Wahai segenap manusia! Sesungguhnya Tuhanmu adalah Esa (Satu), dan nenek moyangmu adalah satu. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab melainkan dengan takwa. Dan jika seorang budak hitam Abyssinia sekalipun menjadi pemimpinmu, dengarkanlah dia dan patuhlah padanya selama ia tetap menegakkan Kitabullah. Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan?”
Rasulullah saw. juga bersabda, “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah Swt., (serta) tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Ini karena di antara kalian ada yang hidup (setelah ini) yang akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunahku dan sunah khulafaurasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari bidah karena semua perkara bidah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).
Melalui hadis tersebut Rasulullah saw. memerintahkan umat Islam untuk bersatu dengan ikatan akidah Islam di bawah satu kepemimpinan yang mengikuti Sunah Rasulullah dan khulafaurasyidin. Namun, persatuan ini tidak bisa terwujud jika umat Islam masih tersekat-sekat dengan nasionalisme dan negara bangsa. Oleh karenanya umat Islam butuh institusi pemersatu agar bisa menjadi satu tubuh.
Khilafah Pemersatu Umat
Persatuan umat hanya akan terwujud dengan tegaknya Khilafah Islam. Khilafah adalah institusi pemersatu umat. Syekh Abdul Qadim Zallum rahimahullah menjelaskan di dalam Nizham al-Hukmi fi al-Islam (Sistem Pemerintahan Islam) hlm. 138 bahwa Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di seluruh dunia untuk menegakkan hukum syarak serta mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Beliau juga menjelaskan bahwa menurut Barat (konsep kapitalisme), negara didirikan untuk menjaga batas-batas teritorial yang mereka sebut dengan tanah air (wathan). Inilah yang memunculkan konsep negara bangsa. Sedangkan di dalam Islam, kata wathan maknanya hanya suatu tempat yang dijadikan tempat menetap oleh seseorang yang secara permanen, misalnya rumah dan negerinya.
Berdasarkan perbedaan pandangan Islam dan kapitalisme tentang negara ini, tampak bahwa negara-negara bangsa yang ada di dunia Islam saat ini tidak akan bisa mempersatukan umat Islam. Keberadaan negara bangsa itu tidak kompatibel dengan persatuan umat Islam, bahkan keberadaannya memecah belah umat Islam. Jadilah kita lihat hari ini antarnegeri muslim bermusuhan dan saling serang. Selain itu, sekat imajiner mengungkung energi jihad umat Islam sehingga tidak bisa membela saudaranya di wilayah yang lain yang teraniaya, seperti di Palestina.
Hanya negara berdasarkan akidah Islam, yaitu Khilafah yang wilayahnya meliputi seluruh negeri muslim yang mampu menyatukan seluruh umat Islam dalam sebuah institusi. Di dalam Khilafah, persaudaraan sesama muslim benar-benar terwujud. Persaudaraan ini tegak di atas akidah Islam dan menembus batas perbedaan-perbedaan yang ada. Khilafah menyatukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia, meski berbeda asal daerah, suku, bangsa, ras, bahasa, dll.
Khilafah benar-benar mempersatukan umat Islam menjadi laksana satu tubuh yang saling mendukung. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh anggota tubuh yang lain akan bekerja sama untuk menghilangkan sakit tersebut. Misalnya mata mencari obat, tangan mengambil obat, kaki berjalan menuju lokasi obat, dan seterusnya. Semua anggota tubuh akan sibuk untuk membantu pengobatan.
Demikian pula, jika ada bagian dari umat Islam, misalnya Palestina yang mengalami genosida dan penjajahan, seluruh dunia Islam akan bergerak untuk berkontribusi membebaskannya. Di bawah kepemimpinan Khilafah, mudah bagi khalifah untuk menyatukan kekuatan umat Islam, baik kekuatan militer, ekonomi, maupun politik. Khalifah akan menyerukan jihad dan mengerahkan militer dari negeri-negeri muslim untuk membebaskan negeri-negeri muslim yang terjajah, seperti Palestina, Rohingya, Uighur, dll. sehingga seluruh umat Islam akan hidup aman sejahtera di bawah naungan Khilafah.
Khilafah akan menerapkan syariat Islam kafah sehingga berbagai persoalan yang menimpa dunia Islam saat ini seperti kemiskinan, pengangguran, pergaulan bebas, kemunduran teknologi, dll. akan bisa terselesaikan. Penerapan sistem ekonomi Islam akan mewujudkan kesejahteraan yang merata sehingga tidak ada lagi umat Islam yang miskin dan kelaparan.
Khatimah
Spirit Iduladha mengajarkan kepada kita tentang ketaatan mutlak kepada Allah Taala sebagaimana teladan dari Nabi Ibrahim dan Ismail alahimassalam ketika turun syariat kurban. Kesadaran akan hal ini seharusnya mendorong umat Islam untuk patuh sepenuhnya pada syariat Islam, bukan sekadar pada aspek ritual, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan mewujudkan institusi pemersatu umat, yaitu Khilafah. Semoga umat Islam segera bersatu dalam ikatan akidah Islam dan berjuang mewujudkan persatuan dalam naungan Khilafah. Wallahualam bissawab. [MNews/RR-NA]

Aamiin ,