Muslimah News, TOKOH BICARA —
Peristiwa Penting dalam Sejarah Umat Islam
Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah adalah peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Peristiwa tersebut menandai berdirinya negara Islam pertama yang menjadi cikal bekal negara besar Khilafah Islam.
Dengan adanya negara ini, Islam tampak dalam kehidupan nyata mengatur urusan kepentingan manusia. Gambaran bagaimana manusia beribadah, memenuhi kebutuhan jasmaninya, berinteraksi satu sama lain, dan hubungan umat Islam dengan bangsa lainnya. Islam menjadi hidup, bukan sekadar sebuah norma tanpa realitas.
Pertama kali Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar menjadi satu umat, serta membuat konstitusi yang mengatur penduduk Madinah. Aturan itu menjadi konstitusi pertama untuk sebuah negara adidaya yang kemudian menggantikan posisi Romawi-Persia.
Hijrah, tentunya bukanlah sebuah peristiwa biasa, apalagi sebuah peristiwa yang berlalu begitu saja. Hijrah adalah sebuah peristiwa yang layak dicatat oleh umat Islam. Khalifah Umar bin Khaththab bahkan menjadikannya sebagai awal tahun penanggalan umat Islam, Tahun Hijriah. Jika bukan karena hijrah, umat Islam tidak akan memiliki negara atau konstitusi.
Seharusnya momen hijrah Nabi Muhammad saw. dapat memberikan harapan kembali dalam jiwa kita menuju tegaknya Khilafah kedua dengan metode kenabian.
Sebagaimana Nabi saw. melakukannya, maka kita umat Islam pun harus berjalan mengikuti langkah beliau saw. tanpa menyimpang sehelai rambut pun. Sebagaimana beliau saw. dan para sahabatnya bersabar, demikianlah kita mesti bersabar.
Sebagaimana beliau saw. dan para sahabatnya yang mulia berkorban, kita berkorban, dan kita mengorbankan apa yang paling berharga, baik nyawa, waktu, pikiran, maupun harta, demi suatu tujuan yang kita sadari sangat krusial, yaitu diterapkannya hukum-hukum Allah secara riil oleh Khilafah Islam.
Hal yang harus disadari pada peringatan Hijrah ini bahwa umat Islam juga harus meneladan Nabinya dalam mendirikan Negara Islam sebagaimana beliau membangunnya. Merupakan hal aneh apabila kita menempatkan hijrah hanya sebagai sebuah cerita tanpa pelajaran atau makna apa pun.
Orang-orang kafir Quraisy dahulu menyadari bahwa hijrah adalah perpindahan Rasulullah saw. dan para sahabatnya untuk mendirikan negara umat Islam. Mereka pun membuat makar untuk menggerogotinya, sebagaimana kafir penjajah hari ini yang berusaha menjegal Khilafah sedemikian rupa.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memaknai hijrah sebagaimana contoh Rasulullah dan melakukannya seperti yang Rasulullah dan sahabat lakukan.
Ustazah Ratu Erma Rachmayanti (Aktivis Dakwah Nasional)
—
Kegelapan Menuju Cahaya
Dalam Islam, hijrah merupakan peristiwa yang sangat penting. Bukan hanya bagi kehidupan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat, melainkan juga bagi pertumbuhan dan perkembangan umat Islam. Ini karena pada waktu itu, terjadi perubahan masyarakat yang luar biasa, yakni dari kegelapan menuju cahaya, dari peradaban yang terhina menuju peradaban mulia.
Hal ini diisyaratkan oleh Aisyah ra., “Dahulu ada orang mukmin yang lari membawa agamanya kepada Allah dan Rasul-Nya karena takut difitnah. Adapun sekarang (setelah Hijrah), Allah Swt. benar-benar telah memenangkan Islam, dan seorang mukmin dapat beribadah kepada Allah Swt. sesukanya.” (HR Al-Bukhari). Alhasil, bisa dikatakan bahwa hijrah adalah tonggak kebangkitan Islam.
Terbukti setelah Hijrah, ketertindasan dan kemalangan umat Islam berakhir. Setelah Hijrah pula, Islam bangkit dan berkembang pesat hingga menyebar ke seluruh jazirah Arab, serta mampu menembus berbagai pelosok dunia. Hijrah Rasulullah dan para sahabat merupakan tonggak berdirinya Daulah Islamiah, negara Islam.
Sejak saat itu, tampaklah sebuah masyarakat Islam yang mulia dan sejahtera, menerapkan Islam secara kafah, sekaligus memberikan sanksi siapa saja yang melanggarnya. Sungguh, kita semua rindu akan diterapkannya syariat kafah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiah. Sudah saatnya umat Islam bersatu, berjuang untuk mewujudkannya.
Ummu Nashir N.S. (Aktivis Muslimah)
—
Momentum Perubahan Hakiki
Hijrah seharusnya tidak dimaknai sekadar berubah dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik. Hijrah adalah momentum untuk melakukan perubahan hakiki, yakni perubahan yang mendasar. Ini karena demikianlah yang Rasulullah saw. contohkan ketika hijrah dari Makkah ke Madinah.
Rasulullah saw. hijrah bukan semata ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi karena hendak menegakkan kekuasaan Islam yang dengan kekuasaan itulah hukum-hukum Allah bisa diterapkan secara kafah.
Rasulullah saw. hijrah karena menginginkan perubahan mendasar, dari kondisi di Makkah yang hanya bisa taat kepada Allah secara parsial, menuju kondisi taat kepada Allah secara menyeluruh di Madinah.
Hijrah tidak cukup hanya dengan perubahan individu, melainkan juga harus dengan perubahan sistem. Hijrah adalah membuang jauh sistem sekuler kapitalisme liberal dan menggantinya dengan sistem Islam.
Untuk itu, momen Tahun Baru Hijriah ini semestinya menjadi momen bagi kita untuk lebih semangat lagi dalam mengajak umat memperjuangkan tegaknya kembali sistem Islam tersebut. Itulah Daulah Khilafah Islamiah ‘ala minhaaj an-nubuwwah.
Halima Noer (Aktivis Muslimah)
—
Tonggak Baru Peradaban
Peristiwa hijrah Rasulullah saw. menjadi tonggak baru peradaban, khususnya dalam hal fungsi dan tanggung jawab negara. Negara Islam yang beliau saw. hijrah untuk mendirikannya, berfungsi sebagai junnah (pelindung) rakyat dari segala bahaya, di samping sebagai raa’in (pengurus) kepentingan rakyat.
Dr. Rini Syafri (Pengamat Kebijakan Publik)
—
Pemisah Antara Hak dan Batil
Hijrah Nabi Muhammad saw. dan kaum muslim dari Makkah ke Madinah adalah momen penting yang harus dijadikan renungan bagi kaum muslim saat ini. Hijrah adalah tonggak pemisah antara yang hak dan batil karena ada pemisahan dar kufur dan dar Islam. Dengan hijrah tersebut, kaum muslim memiliki kekuasaan untuk menerapkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Kemenangan hakiki kaum muslim pun diraih dengan peristiwa Hijrah ini.
Saatnya kita meraih kembali kemenangan kaum muslim dengan berupaya menerapkan hukum-hukum Allah secara kafah. Kita tidak boleh lelah mendakwahkan Islam kafah sampai umat menjadikannya sebagai opini umum di tengah kehidupan, sampai tumbuh kerinduan dan keinginan mendalam untuk memperjuangkannya.
Sunatullah perjuangan akan mengalami tantangan dan hambatan. Oleh karenanya, becermin pada perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabat ra. dalam menegakkan kemenangan Islam, kita harus selalu terikat dengan syariat Allah. Kapan pun dan di mana pun, minta tolonglah kepada Allah pemilik alam semesta ini.
Tugas kita hanya berikhtiar dan terus berikhtiar. Tidak boleh ada kata malas dan menunda-nunda. Perbaikilah terus hubungan dengan Allah dalam perjuangan ini karena Allah akan memberikan kemenangan itu pada waktu dan tempat yang tepat. Semoga kita termasuk orang yang memperjuangkan kemenangan Allah itu.
Yusriana (Pengamat Pendidikan dan Isu Generasi)
—
Urgensi Transformasi Hukum Sekuler Menuju Syariat Islam
Hari ini, sistem hukum yang ada tidak lagi berkuasa dalam penegakan hukum. Sebaliknya, politiklah yang lebih banyak mengendalikan hukum dan menjadi panglimanya. Tampak bahwa hukum yang ditegakkan dalam sistem demokrasi demikian kabur dan ditafsirkan menurut kepentingan penguasa. Oleh karena itu, sistem hukum yang ada saat ini perlu dirombak dari akarnya. Realitasnya memang sudah tidak layak digunakan lagi.
Mari jadikan momentum Muharam saat ini untuk hijrah dari sistem hukum sekuler demokrasi menuju syariat Islam. Ini karena tidak mungkin bisa terwujud keadilan dan kebenaran, kecuali dengan tegaknya sistem hukum Islam; dan sistem hukum ini tidak mungkin bisa tegak, kecuali dengan penerapan syariat Islam secara kafah dalam bingkai Khilafah Islamiah.
Walhasil, penegakan Khilafah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di dunia.
Apri Hardiyanti, S.H. (Ketua Kornas Kohati 2018—2020)
—
Selamatkan Pemuda Harapan Bangsa
Selamat Tahun Baru Islam! Semoga ini menjadi tahun terakhir dari segala kondisi menyesakkan dan menghinakan kaum muslim di seluruh dunia, wabil khusus bagi saudara-saudara kita di Bumi Syam.
Ada sebuah kondisi yang sangat disayangkan tengah terjadi di kalangan Gen Z. Generasi harapan umat ini disuguhkan dengan tayangan-tayangan bermuatan pesimisme, kedangkalan akidah, serta tontonan membangkitkan syahwat yang pada akhirnya menyebabkan banyak Gen Z yang terdorong melakukan perbuatan unfaedah, pergaulan bebas, hingga zina.
Negara seolah menutup mata dengan maraknya penyebaran video tidak layak tonton di layar kaca yang saat ini ada dalam genggaman para pemuda harapan bangsa, padahal negara punya andil besar dalam membatasi, bahkan mencegah penyebarannya.
Akan tetapi, sepertinya memang kepentingan ekonomi menjadi prioritas utama, hingga perihal nasib moral bangsa diserahkan langsung kepada para pendidik yang bahkan kesejahteraan hidupnya pun tidak dipikirkan oleh negara.
Mari bersama kita menjadikan momentum Muharam ini sebagai sebuah refleksi kebangkitan Islam. Bukan untuk larut dalam romantisme masa lalu, tetapi untuk kembali mengisi relung-relung hati kita dengan kerinduan yang akan menyalakan optimisme untuk berjuang kembalinya kehidupan Islam kafah yang akan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam semesta.
Zakiah Darajat (Koordinator PP BEM SI 2021)
—
Pendidikan Sesuai Syariat Ilahi, Jalan Menuju Kebangkitan Hakiki
Momentum Hijrah Nabi Muhammad saw. adalah puncak dari pendidikan akidah dan syariat Islam yang dibina oleh beliau kepada kaum muslim selama tiga tahun. Inilah tujuan pendidikan seharusnya, ketika ia menjadi sarana untuk mencapai kematangan berpikir menuju kebangkitan pemikiran dan perbuatan.
Kebangkitan ini telah dibuktikan dengan berdirinya Khilafah selama 13 abad. Bahkan selama berdirinya, Khilafah telah mencetak banyak ilmuwan muslim yang memberikan ragam kontribusi dengan menjadi peletak dasar ilmu pengetahuan bagi dunia.
Dengan pendidikan yang benar sesuai syariat, akan lahir generasi yang hebat lagi taat. Itulah harapan dan motivasi bagi kita pada Muharam ini untuk bersegera hijrah dari hukum kufur kepada syariat Rabbul ‘alamiin. Hanya dengan Khilafah, syariat Allah bisa diterapkan secara kafah dan kebangkitan hakiki pasti didapatkan.
Raden Ayu Ranty (Influencer Dakwah)
—
Merenungkan Kembali Makna dan Pesan Peristiwa Hijrah
Setiap tahun, kaum muslim merayakan Tahun Baru Islam dengan penuh rasa syukur dan semangat baru. Momen ini juga menjadi momentum untuk merenungkan kembali makna dan pesan dari peristiwa Hijrah, peristiwa bersejarah yang mengubah arah sejarah umat Islam.
Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, atau dari pakaian ketat ke pakaian sesuai syariat. Namun, peristiwa Hijrah mengajarkan kita untuk selalu bertakwa kepada Allah dalam setiap langkah kehidupan.
Turut andil berjuang menegakkan Khilafah adalah bagian dari ketakwaan. Dengan Khilafah, seluruh syariat Islam dapat diterapkan secara kafah, mempersatukan umat Islam, serta daerah dan negeri kaum muslim bisa terlindungi.
Fakta saat ini, Palestina dijajah, tetapi umat Islam tidak berdaya. L8-67 makin berkembang, aturan bisa diubah-ubah sesuai keinginan penguasa, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, korupsi dan judol merajalela, dan lainnya.
Sungguh, sistem kapitalisme sudah menunjukkan kerapuhannya. Islam akan bangkit sesuai janji-Nya. Akan tetapi, apakah kita termasuk bagian dalam perjuangannya? Oleh karenanya, momen Hijrah mengajarkan kita menyambut perintah Allah dan Rasul-Nya untuk ambil bagian dalam perjuangan menegakkan sistem syariat Islam.
Novia Riawati (Pengurus ODOJ Sumut)
—
Hijrah dan Perubahan
Hijrah berasal dari bahasa Arab “hajara” yang memiliki arti ‘perpindahan, meninggalkan, tidak memedulikan lagi, dan berpaling’. Dalam Ensiklopedi Islam, hijrah dimaksudkan perpindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Yatsrib, kemudian belakangan berubah menjadi Madinah la-Nabi (Kota Nabi) pada akhir September 1962.
Di Makkah, terjadi permusuhan terhadap umat Islam yang makin memuncak, bahkan sempat mengancam keselamatan jiwa Nabi. Sedangkan di Yatsrib, Nabi saw. ditunggu-tunggu dan kedatangannya disambut penuh kehormatan.
Dalam sejarah perkembangan umat Islam, hijrah memiliki pengertian perpindahan Rasul bersama para sahabat ke Madinah yang terjadi pada Senin, Rabiulawal, tahun ke-13 kenabian. Setelahnya terjadi peristiwa Bait al-‘Aqabah kedua dan Islam memancangkan tonggak negara di tengah padang pasir yang bergelombang kekufuran dan kebodohan. Ini merupakan hasil paling besar yang diperoleh Islam semenjak dakwah dimulai, maka Rasulullah saw. dan orang-orang muslim diperkenankan untuk hijrah ke negara tersebut.
Secara terminologi, hijrah mempunyai definisi beragam sesuai sudut pandang ulama masing-masing. Ada yang berpandangan bahwa hijrah mempunyai beberapa pengertian, yaitu pertama, kaum muslim meninggalkan negeri asalnya yang berada di bawah kekuasaan kafir. Kedua, menjauhkan diri dari dosa. Ketiga, sebagai permulaan tarikh Islam.
Hijrah dalam lintas sosiologis historis adalah setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang pasti mempunyai motivasi atau niat. Hal ini pernah ditegaskan Nabi Muhammad saw. ketika seorang sahabatnya berhijrah dari Makkah ke Madinah, “Setiap pekerjaan harus atau pasti disertai oleh niat. Maka, barang siapa hijrahnya didorong oleh niat karena Allah, hijrahnya akan dinilai demikian. Dan barang siapa berhijrah didorong oleh keinginan mendapat keuntungan duniawi atau karena ingin mengawini seorang wanita, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan tujuan tersebut.”
Ketika Nabi saw. dan para sahabat berhijrah, motivasi utama mereka adalah guna memperoleh rida Allah Taala yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Menjelang hijrah, kaum muslim berada pada posisi yang sangat lemah dan teraniaya. Namun, keyakinan mereka akan datangnya kemenangan tidak pernah sirna karena tebalnya iman mereka kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Pokok pertama yang ditanamkan Rasul saw. kepada para sahabat, jauh sebelum berhijrah, adalah prinsip keimanan tersebut. Bukan saja karena keimanan kepada Allah merupakan ajaran dasar, tetapi juga karena iman membentengi manusia serta mengantarkan mereka kepada optimisme.
Momentum hijrah yang dapat dipetik dari makna dan ibrahnya adalah ketaatan dalam menjalankan perintah Allah Taala, persaudaraan antarsesama muslim, toleransi antara kaum pribumi dan pendatang, dan banyak lagi yang bisa dipetik dari peristiwa Hijrah, termasuk perubahan sikap dan karakter seorang muslim menjadi muslim yang kafah, menjalankan ajaran agama secara utuh dalam kehidupannya sehari-hari, dan teguh keimanan dalam era modernisasi di segala bidang dengan segala godaan dan tantangan zaman sehingga tercapai generasi emas yang beriman dan berkualitas.
Banyak ayat dalam Al-Quran tentang perintah yang bermakna hijrah atau mengajak seorang muslim untuk berubah menuju arah kebaikan dan takwa. QS Al Muddatstsir [75] ayat 5 berisi perintah meninggalkan keburukan dan kemaksiatan, “Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji.” Juga QS Al-Muzammil [73] ayat 10 tentang perintah meninggalkan orang-orang yang tidak beriman dengan cara yang baik, tanpa melukai hati mereka, “Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.”
Nani Harjani, S.Ag. (Guru PAI di Surabaya)
—
Hijrahnya Rasulullah Saw. Adalah Momentum Perubahan
Hikmah yang bisa kita ambil dari momentum Hijrah adalah bahwa jika kita ingin berubah menuju Allah, harus ada upaya terus-menerus tanpa lelah. Akan begitu banyak ujian dan jalan yang terjal, seperti halnya proses hijrah yang dilakukan Rasulullah (saw.).
Namun, ingatlah bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang senantiasa bertakwa. Ketika kita berkata, “Ya Allah, aku ingin berjalan menuju-Mu,” maka Allah menjawab, “Maka Aku akan mendekatimu dengan berlari.”
Kita diciptakan untuk berjalan di jalan-Nya. Apabila sedikit saja kita menyimpang, yang didapat justru ketaktenangan, rasa sakit, dan kekecewaan. Oleh sebab itu, tetaplah berjalan di jalan-Nya, apa pun yang terjadi. Entah itu perubahan diri sendiri maupun perubahan masyarakat dengan Islam kafah.
Neng Shalawati, S.Pd. (Guru BK di Lamongan)
—
[MNews/RA]
