Muslimah News, INTERNASIONAL — Warga sipil muslim Rohingya menghadapi penganiayaan yang makin meningkat di Buthidaung dan Maungdaw, wilayah yang dikuasai oleh Liga Bersatu Arakan (ULA) dan Tentara Arakan sebagai sayap bersenjatanya.
Tidak Berperasaan
Juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis di Bangladesh mengungkapkan, laporan tentang kerja paksa militer, izin bepergian dengan imbalan pemerasan, penculikan dan pemerkosaan terhadap perempuan muda, dan penghilangan pemuda yang direkrut merupakan bukti nyata dari situasi yang sangat mengkhawatirkan dari komunitas Rohingya di Arakan utara.
“Betapa tidak berperasaannya pemerintah sementara Myanmar ini yang telah memberikan tangannya membantu Tentara Arakan yang kejam, sementara meninggalkan muslim Rohingya yang teraniaya!” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Ahad (4-5-2025).
Selain itu, sambungnya, junta militer Myanmar juga menggunakan muslim Rohingya sebagai tameng manusia dengan mengirim mereka secara paksa ke medan perang, seperti halnya Rusia menyelundupkan orang-orang dari Bangladesh dan secara paksa menggunakan mereka dalam perang di Ukraina.
Bahkan, paparnya, pemerintah sementara ini tunduk kepada AS, mendukung pemberontak Tentara Arakan dengan mengambil keputusan kebijakan untuk membangun koridor kemanusiaan di Rakhine di bawah perintah AS sehngga intensitas agresi Tentara Arakan terhadap muslim Rohingya makin meningkat.
“Intensitas penganiayaan terhadap muslim Rohingya di wilayah yang diduduki oleh preman Buddha Tentara Arakan telah meningkat sedemikian rupa sehingga penduduk yang telah selamat dari penganiayaan preman Buddha selama beberapa dekade melarikan diri ke Bangladesh,” urainya.
Dengan cara ini, sambungnya, pemerintah sementara yang tidak berperasaan telah mengulurkan tangan membantu preman Buddha Tentara Arakan dan meninggalkan muslim Rohingya yang teraniaya.
Jubir menyatakan, pada saat semua lapisan masyarakat mengekspresikan kemarahan dan kekhawatiran yang mendalam terhadap upaya AS untuk melibatkan negara ini dalam perang proksi atas nama “koridor kemanusiaan”, sifat sebenarnya dari agen-agen AS terungkap di hadapan rakyat.
“Hal ini terlihat dalam diskusi-diskusi di dalam dan luar negeri, juga daring dan luring bahwa partai-partai politik yang tunduk kepada AS disebut oleh analis keamanan telah mati-matian membenarkan “koridor kemanusiaan” ini dengan berbagai argumen,” ucapnya.
Sementara itu, sambungnya, beberapa partai politik secara curang telah mendukung agenda AS dengan menuntut apa yang disebut sebagai “negara muslim yang merdeka” di Arakan.
Ia mengutip firman Allah dalam QS Al-Munafiqun: 4, “Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimana mereka bisa tertipu?”
Bersatu
Untuk itu, ia menegaskan, masyarakat harus bersatu melawan setiap proyek kolonialis Amerika yang merupakan pendukung entitas Zion*s Yahudi dalam genosida di Gaza.
“Kami ingin menyampaikan kepada rakyat negeri ini yang sadar, para politikus dan intelektual yang tulus, dan para perwira yang tulus yang bertugas di militer. Kalian pasti merasa bahwa setelah melarikan diri dari Afganistan, AS begitu lemah sehingga tidak mampu berperang secara langsung di seluruh dunia. Oleh karena itu, AS bergantung pada negara lain untuk mempertahankan kolonialismenya dan, bekerja sama dengan rezim agennya di berbagai negara, menggunakan kekuatan militer dan logistik mereka sebagai bahan bakar untuk melaksanakan proyek-proyek kolonialisnya,” ungkapnya.
Berkaitan dengan itu, tegasnya, kaum muslim harus bersatu untuk menolak dan melawan agen-agen ini, juga membangun opini publik yang kuat terhadap apa yang disebut “koridor kemanusiaan”, baik di dalam maupun di luar negeri.
Ia menutup dengan peringatan Allah dalam QS Ali-Imran: 28, “Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia tidak memiliki sedikit pun kekuasan di sisi Allah.” [MNews/RA]
