[Kabar] Menyontek Masih Terjadi di Sekolah dan Kampus, Aktivis: Sinyal Mengkhawatirkan

[Kabar] Menyontek Masih Terjadi di Sekolah dan Kampus, Aktivis: Sinyal Mengkhawatirkan

Muslimah News, NASIONAL — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis laporan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024. Laporan tersebut bertajuk Indeks Integritas Pendidikan 2024. Dalam survei itu, KPK menelusuri tingkat kejujuran akademis siswa di sekolah dan mahasiswa di kampus.

Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Dadan Wardana, mengatakan, “Dalam kejujuran akademik, kasus menyontek masih ditemukan pada 78% sekolah dan 98% kampus. Dengan kata lain menyontek masih terjadi pada mayoritas sekolah maupun kampus,” ujarnya, Jumat (25-4-2025).

Menurut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dikti Saintek), Stella Christie, hasil SPI ini menekankan kembali pentingnya penanaman nilai antikorupsi yang konsisten. Ia berharap generasi muda saat ini dapat membangun sikap antikorupsi sedari dini.

Mengkhawatirkan

Aktivis muslimah asal Yogyakarta Siti Balqis Dgr. menilai, hasil survei yang didapatkan oleh SPI tersebut sebagai sinyal yang sangat mengkhawatirkan.

”Ini sebuah sinyal yang sangat mengkhawatirkan kita semua. Kita disajikan data bahwa ketakjujuran sudah menjadi pilihan sebagian besar mahasiswa dalam menjalani pendidikannya,” ungkapnya kepada MNews, Sabtu (3-5-2025).

Pasalnya, ia menyebut, tujuan pendidikan itu untuk menciptakan manusia yang berbudi luhur, tetapi bagaimana mungkin tujuan itu dapat diraih dengan cara yang mencoreng kebaikan dengan berbagai perbuatan curang.

”Harapan besar yang disematkan pada generasi mendatang untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik tentu bertolak belakang ketika melihat fakta ini, kita bagaikan tertampar dan seolah harus membuang harapan itu jauh-jauh,” sesalnya.

Meski demikian, menurutnya, perilaku kecurangan ini tidak datang dengan sendirinya pada benak para pelajar dan mahasiswa. ”Berbagai praktik kecurangan memang sudah menjadi kebiasaan yang dipertontonkan oleh penguasa dan pemangku kebijakan di negeri ini,” bebernya.

Ia menambahkan, berbagai kasus korupsi dengan angka fantastis yang dikenal sebagai “liga korupsi” merupakan catatan kotor para pengurus negeri ini. ”Seolah sudah menjadi hal yang biasa, para koruptor tetap mampu menunjukkan senyumnya di depan kamera, memastikan tidak ada rasa bersalah di benak mereka,” sindirnya.

Sisi lain, Balqis mengulas, hukuman yang sangat tidak setara yang dijatuhkan kepada para koruptor mengindikasikan ada perlindungan hukum terhadap koruptor.

Ia lalu berkesimpulan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan menjadi budaya yang dilestarikan oleh pelajar dan mahasiswa mengikuti cara para pemimpin bekerja.

“Tampaknya negara yang menerapkan demokrasi, seperti Indonesia belum memiliki hukum yang mampu menjerakan para koruptor, yang ditampakkan malah hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” sesalnya.

Hal itu dinilai Balqis sebagai kewajaran ketika manusia menyerahkan kepada akal untuk menentukan kebenaran. ”Berbagai aspirasi telah dituangkan untuk memberikan sanksi tegas pada penguasa yang lalai dan zalim dalam mengurus rakyat, tetapi yang diterbitkan hanya kebijakan yang kontraproduktif dengan pemberantasan korupsi,” kritiknya.

Perubahan

Oleh karena itu, Balqis menekankan pentingnya perubahan secara sistemis. ”Hanya sistem pendidikan Islam yang berasas pada keimanan yang akan mampu membentuk individu yang bertakwa dan taat pada seluruh hukum syarak,” ucapnya.

Pendidikan semacam ini, ia meyakini, akan mencetak generasi terbaik yang siap diberi amanah mengurus berbagai hajat orang banyak.

”Kontrol masyarakat juga akan berjalan ketika hukum yang diterapkan di tengah masyarakat adalah syariat Islam. Sanksi bagi yang melanggar tertuang jelas di berbagai dalil. Walau sering dianggap kejam namun hakikatnya menjadi penebus dosa dan pemberi efek jera sehingga tidak ditemukan kasus serupa menggejala dimana-mana,” bangganya.

Untuk itu, Balqis mengajak seluruh elemen bangsa memperjuangkan Islam sebagai jalan kebenaran, bukan terbawa arus iklim demokrasi.

”Kita akan menyelamatkan masa depan bangsa dan dunia dengan mengemban Islam dan menerapkannya ke seluruh dunia karena memang hanya ini jalan untuk menjadi bangsa yang berintegritas dan mampu menjadi mercusuar dunia,” terangnya.

Terakhir, ia menyampaikan nasihat dari Syekh Taqiyuddin an-Nabhani bahwa kaum muslim adalah pemimpin dunia. ”Posisi ini akan tetap digenggam selama mereka berpegang teguh pada Islam,” pungkasnya masih mengutip pendapat Syekh Taqi. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *