[Mafahim Islamiyyah] Hari-Hari Pemisah dalam Kehidupan Manusia (Bagian 2/3)

[Mafahim Islamiyyah] Hari-Hari Pemisah dalam Kehidupan Manusia (Bagian 2/3)

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Sambungan dari Bagian 1/3

Muslimah News, TELAAH KITAB — Dalam suasana yang diselimuti mendung ketakutan dan keputusasaan, tipu daya orang-orang musyrik, dan berbagai konspirasi orang Yahudi ini, Rasulullah saw. memproklamasikan berdirinya negara. Kaum muslim lalu berpindah dari tahapan perjuangan politik dan pergolakan pemikiran dalam mengemban dakwah menuju tahapan (marhalah) pengambilan kekuasaan dan pergolakan berdarah.

Sesungguhnya, hari-hari itu pada Rabiulawal sejak 14 abad lalu, telah menyaksikan titik perubahan dalam kehidupan di Madinah al-Munawwarah, juga dalam kehidupan semua manusia. Jejak-jejak serta pengaruhnya tidak henti-hentinya terbayang dan terkenang hingga kini.

Hari-hari itu sangat layak untuk diteliti dan dipelajari, dibahas dengan cermat, dipahami, dan dikaji dengan teliti. Ini karena sesungguhnya manusia pada hari ini sangat membutuhkan suasana dan keadaan seperti itu, apalagi kaum muslim.

Demikianlah, hari-hari hijrah kenabian dengan berdirinya negara, sesungguhnya Allah Swt. mengajarkan kita tentang sesuatu yang wajib menjadi pedoman bagi para pengemban dakwah ketika tertimpa berbagai ujian dan cobaan, serta dikelilingi berbagai bahaya dan konspirasi.

Pemimpin wajib selalu waspada apabila ada perkara yang mengharuskan tersembunyi dari mata-mata yang mengintai. Pemimpin juga harus bijaksana dan teliti dalam menyusun strategi, kreatif menggunakan berbagai sarana dan cara-cara yang direncanakan, serta menjauhi setiap syubhat yang memberi kesempatan kepada musuh-musuh untuk menyerang melalui syubhat itu. Sungguh, dalam diri Rasulullah saw. ada suri teladan yang baik bagi kita.

Beliau saw. telah menciptakan persangkaan kepada orang Quraisy bahwa beliau masih tetap pada tempat tidurnya. Padahal beliau bersembunyi bersama Abu Bakar di dalam Gua Tsur untuk menunggu seorang petunjuk jalan yang mahir yang akan berjalan membawa keduanya melalui jalan-jalan yang tidak dikenal manusia menuju Madinah al-Munawwarah.

Nabi saw. telah mengambil sebab-sebab yang biasanya bisa mendatangkan kepada kesuksesan dalam beraktivitas. Sebelum hijrah, beliau sangat berkeinginan untuk mengembalikan barang-barang titipan yang ada padanya kepada para pemiliknya walaupun dalam situasi berbahaya. Sesungguhnya keterikatan kepemimpinan dengan hukum-hukum ideologi yang didakwahkannya bagaimanapun situasi dan hasil-hasilnya akan menjadikannya benar-benar layak menjadi pemimpin dan tempat kepercayaan, tidak hanya di hadapan para pengikutnya saja, tetapi juga di hadapan semua manusia.

Adapun para sahabat yang mulia, maka mereka benar-benar berambisi akan keselamatan pemimpin yang menjadi utusan Allah. Mereka taat kepadanya dan menyerahkan sepenuhnya dengan apa saja yang keluar darinya. Mereka melaksanakan perintah-perintahnya dengan tidak memandang kepada bahaya yang akan ditemuinya.

Ali bin Abi Thalib, ia mengenakan selimut burdah Rasulullah saw., lalu tidur di tempat tidur beliau pada malam beliau hijrah. la menghadapkan dirinya pada kematian untuk menebus junjungannya. Sedangkan Abu Bakar ash-Shiddiq, ia benar-benar telah memikul semua koinnya (uang logam) bersama Nabi saw., menjaga beliau saw. dengan tubuhnya dari lubang-lubang ular berbisa di dalam gua, dan menjaga beliau saw. di tengah perjalanannya. Ia berkata kepada orang yang menanyakannya, “Ia adalah laki-laki yang menunjukkan jalan kepadaku.” karena untuk keselamatannya. la menyembunyikan berita Nabi dari Ummi Ma’bad sehingga Ummi Ma’bad menamainya dengan sebutan “laki-laki pembawa berkah” karena kambingnya dapat mengalirkan susu dengan deras.

Adapun Asma’ dan Abdullah, kedua anak dari Abu Bakar, keduanya benar-benar telah memikul gangguan dan bahaya dalam menyampaikan bekal makanan dan berita. Sedangkan orang-orang muslim di Madinah menunggu-menunggu kedatangannya setiap hari di luar Madinah. Mereka memiliki perbedaan tanah kelahiran, suku-suku, warna kulit, tetapi berpikir dan berperasaan atas dasar yang satu, yaitu akidah Islam. Islam telah menjadikan mereka laksana satu tubuh dalam hal berkasih sayang dan berlemah lembut. Mereka sangat merindukan untuk melihat Rasulullah saw. dalam keadaan selamat.

Rasulullah saw. telah memilih tinggal di Quba, yaitu di kediaman para bujangan agar tidak memperberat keluarga mereka. Juga agar beliau bisa melakukan pertemuan dan perkumpulan dengan jumlah yang lebih banyak dari para pemuda sahabat Muhajirin dan Anshar tanpa memberatkan mereka. Beliau tinggal di rumah itu selama empat hari. Di sana, beliau mendengarkan informasi-informasi tentang Madinah al-Munawwarah, penduduknya, dan berbagai situasinya.

Sebelum detik-detik memproklamasikan berdirinya negara, Rasulullah saw. berjalan melewati beberapa perkampungan. Sahabat Anshar memberi hormat kepada beliau. Setiap perkampungan menawarkan kepada beliau untuk tinggal di antara mereka dalam sejumlah pendukung, perlengkapan, dan kekuatan.

Kemudian Allah Swt. memilihkan untuk beliau rumah-rumah Bani Najjar dari suku Khazraj. Mereka adalah kelompok yang terbanyak ikut Baiat Aqabah II yang merepresentasikan kaum muslim di Madinah. Mushab bin Umair tinggal di rumah pemimpin mereka, yaitu As’ad bin Zaroroh. Pada rumah-rumah mereka, Rasulullah saw. memproklamasikan berdirinya negara Islam. Beliau saw. telah membeli sebidang tanah dari mereka, lalu membangun masjid dan rumah-rumah di atasnya untuk menjadi tempat kepemimpinan negara dan untuk mengatur urusan-urusannya.

Selanjutnya, Nabi saw. memulai aktivitas-aktivitasnya sebagaimana layaknya seorang pemimpin negara. Beliau mengikat tali persaudaraan di antara sahabat Muhajirin dan Anshar. Sahabat Anshar memberikan harta kepada sahabat Muhajirin. Mereka saling berkerja sama dalam berbagai kebutuhan dunia. Masyarakat Islam yang baru ini berdiri di atas asas yang kukuh dari akidah Islam yang disatukan oleh pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan sistem.

Kemudian Nabi saw. menulis surat perjanjian komprehensif yang disebut dengan Piagam Madinah. Perjanjian ini antara kaum muslim dan orang-orang Yahudi serta musyrik Madinah. Dalam surat itu, beliau saw. membuat perjanjian bagi kaum muslim dan orang musyrik Madinah terkait hak dan kewajiban mereka masing-masing. Beliau saw. juga mengatur interaksi-interaksi untuk memelihara negara yang masih muda dengan susunan yang mendetail agar kaum muslim bebas leluasa dalam menghadapi musuh-musuh Islam dan mengemban dakwah Islam di luar Madinah.

Kemudian bertiuplah badai yang panas dan mematikan, serta angin yang dingin dan membawa hujan atas negara yang baru lahir ini, seperti adanya perang Ahzab, Badar, Uhud, dan Hunain. Akan tetapi negara ini tetap kokoh seperti kokohnya gunung-gunung yang tinggi sehingga bisa merangkul mayoritas jazirah Arab sebelum wafatnya Rasulullah. Juga bersiap-siap menggempur dua negara adidaya pada waktu itu, yaitu negara Romawi dan Persia untuk menduduki pusat negara pertama di dunia yang populer pada masa itu. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

Share

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Hari-Hari Pemisah dalam Kehidupan Manusia (Bagian 2/3)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *