[Mafahim Islamiyyah] Hari-Hari Pemisah dalam Kehidupan Manusia (Bagian 3/3)

[Mafahim Islamiyyah] Hari-Hari Pemisah dalam Kehidupan Manusia (Bagian 3/3)

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Sambungan dari Bagian 2/3

Muslimah News, TELAAH KITAB — Hari-hari itu, yaitu hari-hari yang dimulai sejak hijrahnya Rasulullah saw.. Hari-hari yang berbagai peristiwanya banyak dinukilkan kepada kita dalam kitab-kitab sirah Nabi. Semua ini mendorong kita seraya berkata (melalui lisanul hak), ini adalah jalan satu-satunya untuk kebangkitan kaum muslim, untuk mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu melangsungkan kehidupan Islam dengan mendirikan negara Khilafah.

Melalui jalan perjuangan politik dan pergolakan pemikiran yang telah ditetapkan oleh Rabbul ‘Aalamin dan telah ditempuh oleh Rasulullah saw. di Makkah melawan orang-orang kafir, serta akidah-akidah dan pemikiran mereka. Rasulullah saw. tidak memiliki senjata, selain iman kepada Allah Swt. dan keterikatan dengan perintah-Nya.

la adalah senjata yang kuat dan ampuh, yang mewajibkan bertawakal kepada Allah Swt. dan selalu mencari bantuan dan pertolongan dari-Nya. Juga mengharuskan adanya keterikatan dengan hukum-hukum thariqah (metode) yang telah disyariatkan-Nya. Sesungguhnya menyimpang darinya bisa mengantarkan kepada kegagalan. Bahkan bisa mengantarkan kepada yang lebih besar dan lebih berbahaya daripada itu.

Allah Swt. berfirman, “Dan hati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS Al-Maidah: 49).

Hari-hari pemisahan dalam kehidupan kaum muslim dan sejarah manusia ini, menjelaskan perbedaan yang jelas antara mengemban dakwah untuk menegakkan negara dan mengemban dakwah oleh negara. Sesungguhnya mengemban dakwah untuk menegakkan negara menuntut banyak aktivitas politik dan pemikiran dari pengajaran dan pembinaan, mengoreksi dan berinteraksi dengan umat, serta mencari pertolongan. Dengan demikian, dengan kekuatannya umat mampu mewujudkan negara.

Tidak diperbolehkan bagi para pengemban dakwah untuk memasuki pergolakan fisik dan peperangan dengan para penentangnya, walaupun mereka telah berusaha menarik para pengemban dakwah kepada aktivitas ini. Rasulullah saw. adalah panutan kita. Beliau saw. telah berdakwah kepada Islam di Makkah yang dipenuhi berhala-berhala dan kezaliman. Akan tetapi beliau tidak melakukan aktivitas fisik untuk menghilangkan berhala-berhala dan kezaliman itu.

Tujuan Rasulullah saw. hanyalah menanamkan akidah Islam dan pemikiran-pemikirannya kepada masyarakat Makkah. Walaupun beliau dan para sahabatnya mempunyai kapabilitas untuk menolak gangguan yang dihadapinya. Rasulullah saw. hanya bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, maka sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Beliau saw. bersabda kepada orang yang mendorongnya untuk menggunakan senjata, “Kami belum diperintah untuk itu.” Sampai di tengah perjalanan hijrah untuk mendirikan negara, beliau berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Namun beliau tidak menggunakan kekuatan fisik terhadap Suroqoh bin Malik. Padahal beliau mempunyai kemampuan untuk itu. Beliau malah berjanji kepada Suroqoh untuk memberikan perhiasan Kisro agar Suroqoh tidak mengejarnya lagi dan mau menyembunyikan beritanya.

Jadi, aktivitas terpenting bagi para pengemban dakwah adalah berinteraksi dengan umat dengan ideologi yang diembannya untuk mewujudkan kesadaran umum pada umat atas ideologi ini. Juga agar umat mau memelihara ideologi ini.

Dengan begitu, mereka menuntun umat dengan kepemimpinan ideologis, lalu dengan kepemimpinan praktis. Ini sebagaimana telah dilakukan oleh Musab bin Umair bersama penduduk Madinah. Mereka adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Rasulullah saw. untuk menjaga beliau dan mendirikan negara di atas bumi mereka. Hal demikian itu setelah banyak dari suku-suku menolak perkara ini.

Oleh karenanya, wajib atas para pengemban dakwah, yaitu orang-orang yang telah mengharuskan dirinya untuk memikul tanggung jawab dalam membangkitkan umat Islam, agar mereka tetap memegang metode Rasulullah saw. dengan gigi gerahamnya, yakni dengan menyadari dan memahaminya.

Hendaklah para pengemban dakwah berhati-hati, jangan sampai ada orang lain yang membelokkannya dari jalan itu dengan alasan ikhlas, alasan maslahat dakwah, atau perbedaan situasi-situasi. Hendaklah mereka selalu kembali kepada Islam dan nas-nas Islam, serta sirah Rasulullah saw. selamanya. Mereka harus menyelidiki hakikatnya sehingga pemikiran itu tetap bersih, jernih, dan metode pun tetap jelas dan benar.

Sesungguhnya keterikatan dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah Swt. adalah jaminan satu-satunya untuk kesuksesan dalam mengemban dakwah untuk menegakkan negara dan melangsungkannya. Oleh karena itu, generasi yang sedang mengemban dakwah dan membangun negara harus mempunyai kesadaran sempurna atas ideologi, baik pemikiran dan metodenya. Mereka juga harus menjadi penjaga Islam tepercaya sebelum berdirinya dan setelah berdirinya negara.

Kaum muslim nyaris terjerumus ke dalam fitnah setelah wafatnya Rasulullah saw.. Mereka diselamatkan dari fitnah tersebut oleh orang-orang yang berkepribadian Islam yang luhur. Mereka telah dibentuk oleh Rasulullah saw. dengan Islam, yakni Abu Bakar, Abu Ubaidah, Umar bin Khaththab, dan lain-lain. Mereka mendorong kaum muslim untuk menerapkan hukum Islam. Mereka juga mengusir fitnah-fitnah itu, melangkahi berbagai kesulitan, dan terus menerus menyampaikan risalah mereka.

Mereka mendapat kesempatan dalam masa kurang dari setengah abad dengan perantara mereka untuk membangun permulaan negara terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Kini dan setelah beberapa abad berlalu atas hijrahnya Rasulullah saw., setiap tahun kaum muslim selalu mengenang akan hari-hari pemisah antara hak dan batil, yakni hari-hari yang menjadi rambu-rambu petunjuk jalan.

Orang-orang mengambil petunjuknya jika hendak melewati jalan itu. Yang demikian itu, untuk memindahkan kaum muslim dari kondisi telantar dan tercerai-berai yang dijalaninya dalam kehidupan mereka, kepada kondisi terwujudnya esensi, kesatuan, dan kekuatan yang mereka rindu kepadanya. Kaum muslim selalu mengenang situasi ketika Rasulullah saw. menghadapi berbagai tawaran orang Quraisy dan berbagai suku agar beliau mau melepaskan diri dari sebagian perkara yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya perkara itu kembali kepada Allah. Dia meletakkannya di mana saja yang dikehendaki-Nya.”

Nabi saw terus berdakwah sebagaimana telah diperintah Allah Swt. hingga Allah menakdirkan sahabat Anshar kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang selalu memenuhi kepada setiap perkara yang diminta dari mereka.

Pada suatu hari, haruslah sempurna pemisahan itu, yakni pemisahan antara hak dan batil. Terealisasilah janji Allah dengan kemenangan bagi orang-orang yang berjalan dengan metode itu. Sebagaimana terealisasi kepada Rasul-Nya dan para sahabatnya.

Allah Swt. berfirman, “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu telah diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-An’am: 153). [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *