[Kabar] Jubir: Usulan Mesir untuk Memulihkan Gencatan Senjata di Gaza Adalah Kenyataan Pahit!

[Kabar] Jubir: Usulan Mesir untuk Memulihkan Gencatan Senjata di Gaza Adalah Kenyataan Pahit!

Muslimah News, INTERNASIONAL— Mengutip ABC News (24-3-2025), pekan lalu Mesir mengajukan proposal baru yang ditujukan untuk memulihkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Mesir menyarankan Ham*s untukmembebaskan lima sandera yang masih hidup, termasuk seorang warga Amerika-Israel, sebagai imbalan atas izin Zion*s untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dan penghentian pertempuran selama seminggu.

Kenyataan Pahit

Juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis internasional di Mesir mengkritisi usulan Mesir tersebut di tengah kengerian pembantaian di Gaza dan penderitaan rakyatnya akibat pengeboman dan pengepungan.

“Usulan ini sekilas tampak seperti langkah untuk menenangkan situasi, tetapi pada hakikatnya, usulan ini mencerminkan kenyataan pahit bahwa masalah ini telah menjadi pasar negosiasi politik, tempat darah kaum muslim diperjualbelikan, sementara musuh yang merampas kekuasaan tetap kebal terhadap hukuman,” tegasnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (25-3-2025).

Ia menyatakan, visi sebenarnya dari usulan ini tidak menyimpang dari kerangka yang telah ditetapkan bahwa negosiasi dengan entitas Zion*s, apa pun bentuknya, tidak lebih dari sekadar konsolidasi keberadaannya, stabilisasi pendudukannya, dan perpanjangan kejahatannya.

“Lelucon apa ini yang mensyaratkan masuknya makanan ke rakyat Gaza demi pembebasan segelintir tahanan? Sungguh memalukan, yang menjadikan darah ribuan martir sebagai subjek tawar-menawar di meja perundingan yang dikelola oleh kemauan Amerika dan kepuasan Yahudi!” kecamnya.

Ia menilai, pemberian bantuan kepada rakyat Gaza—meskipun itu bukan solusi atas tragedi mereka—seharusnya bukanlah karena kebaikan atau bantuan dari entitas Zion*s atau mereka yang mereka sebut mediator.

“Melainkan, itu adalah hak asasi mereka, selain kewajiban untuk mendukung mereka dan membebaskan seluruh tanah Islam. Pengepungan rakyat Gaza, bahkan merampas bantuan itu dari mereka adalah kejahatan menurut semua standar,” ucapnya.

Menurutnya, ini kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Zion*s dan mitra mereka dari para penguasa kaum muslim yang tunduk dan patuh, oleh para elite dan pemimpin yang berpihak pada Zion*s, dan oleh pihak lain yang menahan diri untuk tidak mendukung Zion*s padahal mereka mampu melakukannya.

“Rezim Mesir adalah lambang pengkhianatan. Kita telah melihat bagaimana Mesir, yang seharusnya memegang kunci penyeberangan, mencegah masuknya makanan dan obat-obatan selama berbulan-bulan, sambil bersikeras bahwa hal ini hanya boleh dilakukan berdasarkan “pemahaman politik”. Betapa memalukannya ini?! Bukankah seharusnya penyeberangan dibuka tanpa syarat dan blokade dipatahkan dengan kekerasan, bukan negosiasi?” tanyanya lugas.

Ia melanjutkan, “Bukankah blokade ini perlu dipatahkan, perbatasan ini dicabut, dan mendukung rakyat Gaza yang tertindas? Satu pernyataan dari tentara Mesir akan cukup untuk menghentikan aliran darah di pembuluh darah Zion*s Yahudi, belum lagi pembantaian yang dilakukannya. Padahal, anggota tentara Mesir mampu membebaskan seluruh Palestina dalam hitungan jam, dan mereka yang gagal melakukannya tidak akan memiliki alasan di hadapan Allah pada Hari Pengadilan,” cetusnya.

Arahan

Ia menyatakan, peran Mesir dalam krisis ini tidak lebih dari sekadar penerapan cermat arahan Amerika dan Zion*s. “Mesir tidak bertindak sebagai negara Islam yang berdiri bersama rakyat Gaza, tetapi lebih sebagai mediator yang tugasnya adalah “mengendalikan masalah” sesuai dengan visi Amerika,” kritiknya.

Ia menyesalkan, menyederhanakan krisis Palestina hanya dengan isu tahanan adalah kejahatan besar. “Isu ini tidak dimulai ketika orang-orang ini ditangkap dan tidak akan berakhir dengan pembebasan mereka. Akar masalahnya adalah keberadaan Zion*s Yahudi di Palestina, perampasan wilayah oleh mereka, dan kejahatan mereka yang terus berlanjut terhadap umat muslim,” tegasnya.

Terlebih, ungkapnya, pendapat syariat cukup jelas. “Masalahnya bukanlah “krisis kemanusiaan,” tetapi lebih pada jihad dan pembebasan. Seluruh Palestina, dari laut hingga sungai, adalah tanah Islam yang harus dibersihkan dari pendudukan, dan tidak ada legitimasi untuk negosiasi apa pun dengan entitas pendudukan. Solusinya bukan terletak pada gencatan senjata sementara, tetapi pada mobilisasi pasukan umat Islam untuk membebaskan Tanah yang Diberkati, seperti yang dilakukan Salahuddin al-Ayyubi,” urainya.

Jadi, ia mempertanyakan, kapan tentara akan dimobilisasi? “Jika tentara Mesir memiliki kekuatan militer yang memadai, mengapa tidak bergerak untuk membebaskan Palestina? Bagaimana para pemimpin militer bisa tidur, sementara saudara-saudara mereka di Gaza dibantai? Apakah tugas tentara hanya melindungi rezim saja, sementara umat sedang dihancurkan?” ucapnya.

Ia menilai, semua perundingan dan usulan tersebut, tidak lain hanyalah upaya putus asa untuk mempertahankan Zion*s Yahudi di tanah Isra dan Mikraj. “Tidak akan ada solusi nyata, kecuali umat Islam memobilisasi dan memenuhi tugas jihad Islamnya untuk membebaskan seluruh Palestina,” cetusnya menutup dengan firman Allah Swt. Dalam QS Al-Anfal: 39, “Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *