Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — 2. Jalan syar’i untuk melanjutkan kehidupan Islam.
Kita telah memahami realitas negara (dar) yang kita hidup di dalamnya, bahwasanya negeri itu seperti telah kami jelaskan, adalah negeri kufur (darul kufr). Kita juga telah mengerti tentang kehidupan yang sedang kita jalani, yaitu kehidupan tidak islami dalam masyarakat yang tidak islami.
Seperti itulah realitas di mana Rasulullah saw. telah menemukannya di Makkah ketika Allah Swt. mengutusnya menjadi Rasul bagi kaumnya dan semua manusia. Ini untuk mengubah kehidupan masyarakat di mana beliau tinggal di dalamnya, juga mengubah kehidupan semua manusia. Setelah memahami hal tersebut, maka jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw. untuk pengubahan dalam rangka mewujudkan awal kehidupan islami adalah metode syar’i. Ini metode satu-satunya yang dituntut dari setiap partai atau kelompok untuk menempuh jalan dalam melanjutkan kehidupan islami yang telah berjalan secara berkesinambungan lebih dari 13 abad.
Sesungguhnya Allah Swt. yang telah menuntut manusia agar kehidupannya terikat dengan Islam. Allah juga telah menuntut manusia agar terikat dengan metode (thariqah) yang telah ditetapkan-Nya untuk merealisasikan sebuah ide (fikrah), yaitu melangsungkan kehidupan islami. Allah Swt. berfirman, “… Apa saja yang telah disampaikan oleh Rasul, maka ambilah, dan apa saja yang kalian telah dilarangnya darinya, maka tinggalkanlah. …” (QS Al-Hasyr: 7).
Huruf mim pada ayat ini termasuk lafaz yang berarti umum, yakni mencakup setiap perkara yang telah dibawa oleh Rasulullah melalui wahyu, baik pemikiran (fikrah) atau metode (thariqah). Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab: 21).
Allah Swt. juga berfirman berfirman sebagai seruan kepada Rasul-Nya, “Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS Yusuf: 108).
Untuk memperjelas penjelasannya, Rasulullah saw. pernah membuat garis di depan para sahabatnya dengan satu garis lurus di atas pasir. Di kanan dan kiri garis itu, beliau membuat garis-garis yang banyak, lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalanku yang lurus dan ini adalah jalan-jalan di mana pada setiap pintu jalan darinya ada setan yang mengajak kepadanya.”
Kemudian Nabi saw. membaca firman-Nya, “Dan bahwa yang (Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu dapat menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-An’am: 153).
Allah Swt. juga telah memperingatkan Rasul-Nya seraya berfirman, “… Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu.” (QS Al-Maidah: 49).
Allah Swt. pun telah mengancam orang-orang Islam dari menyelisihi perintah-Nya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa cobaan atau adab yang pedih.” (QS An-Nur: 63).
Nash-nash tersebut dan lainnya mewajibkan kita terikat dengan metode yang telah ditempuh Rasulullah saw. dalam mengemban dakwah hingga berhasil menegakkan negara. Ini agar kita tidak menyimpang darinya walau seujung rambut dengan alasan perbedaan situasi dan kondisi atau menghindari bahaya. Demikian pula agar kita tidak menyimpang darinya dengan alasan kemaslahatan umum atau beradaptasi dengan zaman.
Sesungguhnya Allah Swt. yang telah menfardukan metode ini kepada kita. Allah yang mengerti dan meliputi segala sesuatu yang di antaranya adalah situasi-situasi kekuatan atau kekerasan musuh-musuh dakwah.
Sesungguhnya orang yang meneliti dan mempelajari nas-nas syarak dalam Al-Qur’an dan sunah akan menemukan bahwa garis-garis besar untuk mengemban dakwah sangat jelas dan nyata.
Pertama, membangun tubuh jemaah atau partai tersebut dengan mengajarkan para pengemban dakwah dengan pemikiran-pemikiran Islam, baik berupa akidah dan hukum-hukum syarak. Ini dilakukan dengan tsaqafah yang intensif sehingga mereka layak menjadi pemimpin-pemimpin umat dan Islam yang bergerak di tengah masyarakat. Ini sebagaimana yang telah dikerjakan Rasulullah saw. ketika beliau membina para sahabatnya dengan wahyu yang turun kepadanya sehingga beliau dapat membentuk kelompok yang sangat solid untuk memasuki pergolakan pemikiran dan perjuangan politik pada masyarakat jahiliah.
Kelompok ini menjadi sebaik-baik manusia setelah para Nabi. Mereka sabar menyertai Nabi saw. dalam memikul penderitaan pada periode Makkah. Kemudian mereka bersama-sama membangun negara di Madinah al-Munawwarah. Setelah Nabi saw. meninggalkan mereka, maka mereka membawa Islam ke seluruh daerah taklukan.
Oleh karenanya, wajib atas para pengemban dakwah yang beraktivitas untuk melangsungkan kehidupan Islam, seperti partai atau jemaah, untuk mengikuti firman Allah Swt., “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Maidah: 104).
Mereka wajib menancapkan akidah Islam ke dalam jiwa mereka dan selain mereka. Mereka juga wajib membersihkan akidah Islam dari setiap noda yang melekat selama masa-masa yang telah berlalu disebabkan kebodohan atau penyesatan. Sesungguhnya kejelasan akidah dan pembenaran yang pasti dengan akidah merupakan asas yang dibangun di atasnya setiap pemikiran Islam dan merupakan mata air yang memancar darinya setiap hukum syarak.
Apabila asas ini sangat kuat dan menancap pada orang-orang yang meyakininya, maka pengaruhnya yang dalam akan efektif dalam jiwa. Akidah itu bisa mengangkat pemeluknya dari tempat yang paling rendah menuju puncak ketinggian dan terbentang di hadapan mereka batas-batas cakrawala. Dengan demikian, mereka tidak memandang kehidupan dunia sebagai akhir putaran. Akan tetapi mereka hanya memandang kepada puncak yang sangat jauh dan tinggi, yaitu meraih rida Allah Swt., serta kepada surga-surga dan nikmat yang abadi.
Oleh karena itu, hendaklah orang-orang muslim pada saat ini, sebagaimana nenek moyang mereka sebelumnya, mulai mengemban risalah Islam untuk menyebarkan petunjuk dan keadilan di antara manusia. Kekuatan dan keteguhan hati mereka tidak pernah lemah dan luntur. Akidah ini akan menggerakkan mereka untuk melipatgandakan kesungguhan dan menantang kesulitan yang menghadang. Mereka akan memandang hina kehidupan dunia sehingga dapat mengembalikan umat Islam kepada kedudukan dan kejayaannya dengan melangsungkan kehidupan Islam dan menegakkan Negara Islam. [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah,

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Metode Syar’i untuk Melanjutkan Kehidupan Islam (Bagian 5/12)”