[Mafahim Islamiyyah] Metode Syar’i untuk Melanjutkan Kehidupan Islam (Bagian 6/12)

[Mafahim Islamiyyah] Metode Syar’i untuk Melanjutkan Kehidupan Islam (Bagian 6/12)

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Sambungan dari Bagian 5/12

Muslimah News, TELAAH KITAB — 2. Pengajaran secara berkelompok (at-tasqif al-jamaiy) kepada masyarakat.

Pengajaran ini dilakukan kepada mereka yang hidup dengan ide-ide yang telah diadopsi oleh partai atau jemaah. Semua itu untuk mewujudkan opini umum bagi ide-ide ini, serta menyiapkan masyarakat dan harus berhati-hati untuk menerapkan Islam kepada mereka. Ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika beliau membaca Al-Qur’an di sisi Ka’bah. Beliau juga menghadiri majelis-majelis dan musim-musim haji untuk menyeru manusia dengan Islam. Beliau mengajak manusia kepada iman dan menuntut manusia agar meninggalkan ibadah kepada berhala-berhala.

Kemudian sebutan Rasulullah saw. dan sebutan agama baru diucapkan oleh setiap lisan, apalagi di Madinah al-Munawwarah. Mush’ab bin Umair menuturkan bahwasanya tidaklah ada satu rumah pun di Madinah, kecuali di dalam rumah itu disebut Allah dan disebut Muhammad. Dari situlah masyarakat Madinah mempersiapkan diri untuk menolong Rasulullah saw. dan membangun Negara Islam pertama di sana.

3. Menentang semua akidah, pemikiran, dan pemahaman yang menyelisihi Islam.

Dengan meneliti ayat-ayat Al-Qur’an yang turun di Makkah, kita menemukan bahwa sesungguhnya Al-Qur’an itu telah menentang banyak perkara.

a. Menentang akidah orang-orang musyrik dan membodohkan akal mereka, lalu menjelaskan kebatilan akidah-akidah itu serta kontradiksinya. Allah Swt. berfirman, “Maka apakah patut kalian (hai, orang-oang musyrik) menganggap Al-Latta dan Al-Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kalian (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (QS An-Najm: 19—22).

Allah Swt. menyeru akal mereka, “Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (QS Al-Anbiyaa’: 22).

b. Menentang para pemimpin Quraisy yang tetap atas kekufurannya dan menyerang mereka dengan serangan yang tidak mengenal kompromi. Allah Swt. berfirman, “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.” (QS Al-Mudatstsir: 49—51).

Allah juga berfirman, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sungguh ia akan binasa.” (QS Al-Lahab: 1).

Juga firman-Nya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” (QS Al-Qalam: 10—13). Ayat ini turun tentang Walid bin Mughirah.

c. Menentang aktivitas mereka yang akal sehat tidak menerimanya serta fitrah manusia menolak dan mencercanya. Allah Swt. berfirman, “Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh.” (QS At-Takwir: 8—9).

Allah Swt. pun berfirman, “Dan mereka menyatakan, ‘Apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami. Jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya.” (QS Al-An’am: 139).

Juga firman-Nya, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS Al-Infithar: 1—3).

d. Al-Qur’an menentang orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu orang-orang yang berupaya mengacaukan dan membingungkan pikiran orang Arab tentang Islam dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Kemudian Allah Swt. membantah mereka dengan firman-Nya, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘ruh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.’” (QS Al-Isra’: 85).

Al-Qur’an juga menjawab mereka tentang para penghuni gua (ashhabul kahfi), tentang kisah Musa bersama hamba yang saleh, dan kisah Dzul Qarnain. Kemudian dalam surat-surat yang lain Al-Qur’an menjelaskan kondisi orang-orang Yahudi dari Nabi-Nabi mereka secara mendetail dan menyingkap, menyangkal, dan mendustakan kondisi orang-orang Nasrani dari Isa as..

Allah Swt. berfirman, “Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS Maryam: 34—35).

Oleh karenanya, merupakan keharusan bagi para pengemban dakwah saat ini untuk menentang segala akidah yang menyalahi atau menyelisihi akidah Islam, misalnya kapitalisme dan komunisme. Juga harus menentang pemikiran-pemikiran yang salah, seperti sekularisme, patriotisme, dan nasionalisme, serta pemikiran-pemikiran yang menipu Islam, seperti demokrasi, kesatuan agama, sosialisme, ekstremisme, terorisme, dan lain-lain.

Jadi para pengemban dakwah harus menentang dan membantah terhadap para pemeluk akidah-akidah itu. Mereka juga harus membantah terhadap para propagandis pemikiran-pemikiran tersebut dengan bantahan yang jelas, pasti dan tegas, serta dengan tidak menipu/mencari muka (mudaahanah) dan mengecoh. Mereka harus menggunakan metode (uslub) yang sesuai dengan setiap kondisi sebagaimana Al-Qur’an telah mengajarkannya.

Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.” (QS Al-‘Ankabut: 46).

Terhadap orang-orang zalim harus dikatakan kepada mereka sebagaimana Allah Swt. berkata kepada orang Yahudi, “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS Al-Maidah: 78).

Juga sebagaimana firman-Nya, “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Jumu’ah: 5).

Ini sebagaimana Allah Swt. berfirman kepada orang Nasrani, “Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga. Padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” (QS Al-Maidah: 73).

Juga sebagaimana firman Allah Swt. kepada kaum muslim, yaitu orang-orang yang berkasih sayang dengan orang-orang kafir, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (kalian), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Dan siapa saja di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah: 51). [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

Share

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Metode Syar’i untuk Melanjutkan Kehidupan Islam (Bagian 6/12)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *