[Kabar] Pengamat: Kapitalisme Gagal Membebaskan Dunia dari Ancaman Pandemi Tuberkulosis

[Kabar] Pengamat: Kapitalisme Gagal Membebaskan Dunia dari Ancaman Pandemi Tuberkulosis

Muslimah News, NASIONAL — Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2025 pada 24 Maret, Kemenkes RI mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menguatkan komitmen dalam upaya eliminasi Tuberkulosis (TBC) melalui kampanye Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis dengan Komitmen dan Aksi Nyata (GIATKAN) secara lintas sektor.

Kapitalisme Gagal

Merespons hal ini, pengamat kebijakan publik Dr. Rini Syafri menilai kegagalan dalam mengatasi tuberkulosis akibat penerapan kapitalisme. “Sesungguhnya kapitalisme gagal dalam membebaskan dunia dan Indonesia dari ancaman pandemi tuberkulosis yang mematikan,” ungkapnya kepada MNews, Sabtu (8-3-2025).

Kondisi ini, menurutnya, terlihat dari puluhan tahun masa pengentasan penyakit, tetapi jutaan nyawa melayang dan pandemi makin meluas, bahkan makin parah oleh kemunculan resistensi antibiotik.

Apabila ditelisik, menurutnya, kegagalan itu dikarenakan sejumlah persoalan paradigmatik pada konsep penanggulangan ala kapitalisme.

“Pertama, industrialisasi kesehatan dijadikan spirit penanggulangan. Kedua, dilangsungkan melalui sistem kesehatan kapitalisme yang rapuh. Ketiga, determinan sosial kapitalisme meniscayakan kebijakan pemerintah di luar sektor kesehatan dan di sektor kesehatan sendiri hanyalah menyisakan keberadaan berbagai faktor pemicu kemunculan pengidap baru, sedangkan pengidap lama tidak kunjung sembuh,” paparnya.

Konsep Islam

Sebaliknya, ia menyatakan, konsep eliminasi tuberkulosis ala Islam adalah satu-satunya harapan. Hal ini, urainya, akibatnya perumusannya berdasarkan tiga perkara.

“Pertama, sejumlah pandangan Islam yang sahih tentang kesehatan, yaitu kesehatan sebagai kebutuhan pokok publik yang langsung dijamin pemenuhannya oleh negara. Juga sebagai anugerah terbaik sesudah nikmat iman yang kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Taala,” ungkapnya.

Kedua, sebutnya, steril dari unsur industrialisasi kesehatan dan dilangsungkan dalam bingkai sistem kesehatan Islam yang tangguh. “Akibatnya, tidak saja semua kasus terdeteksi dini, tetapi setiap orang diberikan pengobatan secara gratis dengan kualitas terbaik,” ujarnya.

Ketiga, jelasnya, konsep eliminasi tuberkulosis ala Islam menjadi bagian yang padu dengan peradaban Islam yang bersifat penyejahtera, baik dari segi sistem ekonomi maupun sistem politiknya, sehingga memampukan negara menjamin terpenuhinya hajat hidup asasiah setiap insan.

“Di sisi lain, kebijakan-kebijakan negara pada determinan sosial kesehatan Islam, baik di sektor kesehatan maupun di luarnya, akan melenyapkan berbagai faktor pemicu keberlangsungan pandemi tuberkulosis,” tutupnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *