[Kabar] Program Baksos Bersinergi dengan Elemen Mahasiswa, Aktivis: Pelemahan Daya Kritis?

[Kabar] Program Baksos Bersinergi dengan Elemen Mahasiswa, Aktivis: Pelemahan Daya Kritis?

Muslimah News, NASIONAL — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menggelar kegiatan bakti sosial (baksos) dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Pelaksanaan kegiatan baksos bernama Polri Presisi ini digelar bersinergi dengan elemen mahasiswa.

Pembagian paket sembako dilakukan secara seremonial di depan Gedung Mahameru Mapolda Jatim. Pemberangkatan ratusan kendaraan roda empat dan roda dua dinas Polri serta Bhabinkamtibmas dilakukan secara simbolis oleh Kapolda Jatim bersama perwakilan elemen kemahasiswaan se-Jatim.

Dalam kesempatan yang sama, Polda Jatim juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi 2.230 mahasiswa melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Jatim.

Kegiatan bakti sosial ini melibatkan tiga elemen penerima dengan total 12.050 orang, terdiri dari Polda Jatim sebanyak 1.500 orang dan Polres/Ta/Tabes sebanyak 11.550 orang. Personel yang dilibatkan dalam kegiatan mencapai 2.230 orang, dengan rincian 280 personel dari Polda Jatim dan 1.950 personel dari Polres jajaran.

Elemen mahasiswa yang terlibat meliputi Cipayung Plus (PMII, Badko HMI, IMM, GMNI, PMKRI, GMKI, KMHDI, KAMMI, SEMMI), elemen BEM (BEM SI, BEM Nus versi Jakarta, BEM Nus versi Surabaya, BEM PTMAI, BEM PTNU, BEM Pesantren Jatim), dan OKP (PMPI, ISMEI).

Pelemahan Daya Kritis?

Aktivis dan influencer dakwah Rr. Ranty Kusumaningayu, S.Si. menilai perlu kewaspadaan terhadap program baksos ini. “Yang harus diwaspadai di balik kebaikan yang terwujud melalui baksos dan berbagai program serupa adalah adanya upaya pelemahan daya kritis mahasiswa,” ujarnya kepada MNews, Jumat (7-3-2025).

Apalagi, menurutnya, sudah lebih dari dua pekan sejak demo akbar mahasiswa yang mengangkat tema “Indonesia Gelap”, tetapi belum didapati titik terang.

“Adanya 13 tuntutan yang mereka sampaikan masih berakhir pada lembaran tanpa respons riil dari pemerintah. Di tengah kondisi demikian, Polri menggelar kegiatan baksos dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan bersinergi dengan elemen mahasiswa meliputi Cipayung Plus,” bebernya.

Ia menduga bukan tanpa sebab pemerintah “merangkul” mahasiswa yang sedang mengawal realisasi tuntutannya, bahkan berencana membuat pergerakan lebih besar lagi berupa aksi “Indonesia Gelap” jilid 2.

Sebagai agent of change, ulasnya, mahasiswa memiliki peran sangat penting dalam mengawal kebijakan publik dan menjaga stabilitas dalam pemerintahan. “Keterlibatan mereka dalam program sosial memang memberikan dampak positif bagi masyarakat, tetapi harus di ingat bahwa masalah yang dihadapai rakyat bangsa ini bukan sekadar bisa dipenuhi dengan baksos, melainkan masalah sistemis,” ucapnya.

Ia menerangkan, masalah sistemis tersebut adalah kezaliman terhadap kebutuhan publik rakyat akibat keberpihakan penguasa dan kebijakan sistem demokrasi pada kaum kapitalis.

“Oleh karena itu, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam rutinitas respons penguasa/pejabat yang hanya menenangkan dan mengalihkan isu., Mahasiswa perlu, bahkan wajib kritis terhadap kebijakan yang dijalankan oleh negara agar tidak terjebak dalam situasi di mana perhatian mereka teralihkan oleh aksi-aksi pragmatis, bukan solusi hakiki,” ungkapnya.

Membangun Perjuangan

Untuk itu, jelasnya, agar dapat membangun dan memperpanjang idealisme serta perjuangan mahasiswa dibutuhkan pemahaman peran politik dalam Islam.

“Pemahaman bahwa hakikat masalah Indonesia “gelap” bukan sekadar karena pemimpinnya. Namun, justru penerapan sistem sekuler demokrasi yang melegalkan cengkeraman kapitalis terhadap Indonesia (baca: neokolonialisme),” urainya.

Sebaliknya, ia menekankan, hanya sistem politik Islam atau Khilafah Islamiah satu-satunya pilihan menuju Indonesia terang.

“Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihyâ ‘Ulûm ad-Dîn (II/108), hukum-hukum mengenai Khilafah, peradilan dan politik, bahkan kebanyakan hukum-hukum fikih semua itu bertujuan menjaga berbagai kemaslahatan umat di seluruh dunia serta untuk menyempurnakan dengannya berbagai kemaslahatan agama Islam. Tanpa Khilafah, tidak akan tegak keadilan dan kesejahteraan di tengah umat,” kutipnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan, sudah saatnya mahasiswa mencerdaskan diri terkait Islam kafah dan sistem politiknya, juga menjadikan Islam sebagai point of view dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini.

“Ini karena pada merekalah kepemimpinan umat pada masa depan bergantung, khususnya pada mereka yang mengambil jalan perjuangan politik Islam kafah untuk mewujudkan Khilafah,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *