[Kabar] Pertemuan Presiden Turki dan Indonesia, Aktivis: Hanya Retorika Politik?

[Kabar] Pertemuan Presiden Turki dan Indonesia, Aktivis: Hanya Retorika Politik?

Muslimah News, INTERNASIONAL — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Bogor pada 12 Februari 2025 untuk memperkuat hubungan ekonomi dan pertahanan. Pertemuan ini menandai pertemuan puncak Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi pertama antara kedua negara. Pembahasannya meliputi isu-isu regional dan global, khususnya perang di Gaza. Para pemimpin menandatangani perjanjian tentang perdagangan, investasi, pendidikan, energi, pertanian, kesehatan, dan layanan keagamaan. Mereka juga sepakat tentang pengembangan bersama pabrik pesawat nirawak tempur Baykar di Indonesia dan investasi Turki di ibu kota baru Indonesia di pulau Kalimantan. Kunjungan Erdogan dipandang sebagai babak baru dalam kemitraan strategis antara Turki dan Indonesia.

Retorika

Aktivis dakwah Abdullah Aswar menilai, meskipun dalam pertemuan tersebut, kedua kepala negara membahas masalah Gaza dan menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, pernyataan mereka tidak lebih dari retorika politik. “Pernyataan dalam pertemuan tersebut tidak memiliki dampak nyata terhadap situasi Palestina saat ini,” ucapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (19-2-2025) 

Ia menerangkan, sejak Oktober 2023 hingga sekarang, kondisi di Palestina tidak berubah. “Rakyat Palestina terus hidup di bawah kendali entitas Zion*s Yahudi. Rumah dan tanah mereka disita, mereka dibunuh secara sewenang-wenang, ditangkap, dan disiksa. Penindasan ini telah berlangsung selama beberapa decade,” urainya.

Sementara itu, lanjutnya, para pemimpin dunia muslim terlibat dalam retorika tanpa mengambil tindakan konkret dan tegas.

Ia menyatakan, pertemuan Erdogan dan Prabowo terjadi di tengah usulan Donald Trump baru-baru ini untuk merelokasi warga Gaza dari tanah air mereka. “Kedua pemimpin ini seharusnya mengangkat isu tersebut dan bersama-sama mengecam pernyataan Trump yang pada hakikatnya merupakan deklarasi permusuhan terhadap dunia muslim,” jelasnya.

Jika Turki dan Indonesia benar-benar berkomitmen mendukung Gaza dan Palestina, sambungnya, mereka harus segera menghentikan segala bentuk kerja sama terselubung dengan Zion*s, yang masih berlangsung hingga saat ini.

“Lebih jauh, mereka harus mengambil inisiatif untuk mendorong negara-negara muslim lainnya agar bersikap tegas terhadap Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, dan sekutu-sekutunya,” ujarnya.

Sangat disayangkan, ungkapnya, dunia muslim terus mempercayakan nasibnya—termasuk nasib Gaza—kepada kekuatan kolonial yang mendukung Zion*s “Israel”.

Sadar

Untuk itu, ia berharap, umat ​​Islam di seluruh dunia menyadari bahwa para pemimpin muslim ini hanya menjadi “boneka” kekuatan kolonial asing.

“Dengan kesadaran ini, umat Islam dapat bersatu dalam memperjuangkan perubahan, menggantikan para pemimpin ini dengan para pemimpin muslim yang saleh dan takut kepada Allah Taala, mencintai sesama muslim, dan bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk membela saudara-saudari mereka yang tertindas dan terjajah,” pungkasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *