Muslimah News, NASIONAL— Kepemimpinan menjadi pembahasan hangat publik, terutama di tengah pemilihan pemimpin nasional hingga daerah. Publik didominasi tawaran beragam sosok pemimpin dan model kepemimpinan, tetapi nyaris luput membahas bahwa sosok pemimpin sangat dipengaruhi, bahkan dicetak oleh sistem kepemimpinan yang berlaku.
Begitu pula dengan beragam problematik yang menghinggapi masyarakat, sejatinya dipengaruhi oleh sistem kepemimpinan sehingga dibutuhkan sistem kepemimpinan ideal, yakni kepemimpinan Islam, yang akan menyolusi berbagai persoalan, sekaligus mewujudkan kesejahteraan dan keberkahan.
Kondisi inilah yang disorot ribuan tokoh muslimah lintas profesi di seluruh kabupaten dan kota se-Indonesia dalam Risalah Akhir Tahun (RATU) 2024, Ahad (22-12-2024). Berdasarkan keterangan yang dihimpun MNews, para pemateri dalam agenda tersebut membahas penyebab hadirnya pemimpin saat ini yang bercorak populis otoriter serta karakteristiknya, juga tentang Islam yang mengajarkan model kepemimpinan sahih sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., para sahabat ra., dan khalifah setelahnya.
Sebagaimana di Palu, Lampung, Sumatera Barat, Jawa Barat, Nganjuk, Samarinda, Yogyakarta, dan Cirebon diungkap bahwa kepemimpinan adalah sebuah perkara penting dan genting. Hanya saja, saat ini kekuasaan berada di tangan ruwaibidhah, yakni orang yang kerdil jiwanya, hina, dan tidak mengerti cara mengurus orang banyak sehingga meskipun pemimpin berganti, nasib umat masih belum berubah.
“Yang Rasulullah saw. sampaikan bahwa simpul-simpul Islam akan terlepas satu per satu dan simpul pertama yang terlepas adalah hukum Islam, telah terjadi saat ini,” ujar seorang pemateri.
Ia menerangkan, simpul kekuasaan Islam pertama terlepas pada 3 Maret 1924, yaitu ketika Khilafah Islamiah runtuh. “Akibatnya, hukum Islam tidak diterapkan lagi karena negara berganti sistem, yakni menjadi sekularisme kapitalisme,” ujarnya.
Akibatnya, ia menambahkan, muncul penguasa yang tidak kompeten, yaitu pemimpin populis otoriter yang tidak menyadari perannya sebagai pengurus, pengayom, dan pelindung urusan masyarakat. “Juga lahirlah masyarakat yang tidak paham peran utama penguasa,” ucapnya.
Profil Pemimpin dalam Islam
Selain itu, pemateri lainnya menyampaikan, syariat Islam telah menetapkan profil pemimpin sebagaimana dijelaskan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, “Pemimpin itu harus berkepribadian Islam yang kuat, yaitu mempunyai pola pikir dan pola sikap Islam, harus bertakwa, dan harus mencintai rakyatnya,” kutipnya.
Syarat untuk menjadi seorang pemimpin atau khalifah, ungkapnya, adalah muslim, balig, berakal, merdeka, adil, mampu, memiliki pengetahuan luas, serta memiliki pemahaman Al-Qur’an yang mendalam
“Namun, pemimpin dengan karakter tersebut hanya dihasilkan dalam pembinaan yang didasarkan pada mabda Islam dan akan terwujud sempurna dalam tatanan negara dan masyarakat yang menerapkan Islam, yakni Khilafah Islamiah,” tuturnya.
Adapun metode dakwah yang harus ditempuh, jelas salah seorng pemateri, adalah di luar parlemen sebab demokrasi adalah wadah bagi sekularisme yang jelas bertentangan dengan Islam.
Semangat Peserta
Pemaparan para pemateri ini mendapat respons peserta yang tampak menyimak dengan antusias. Di Kabupaten Bandung, mereka turut mendiskusikan cara mewujudkan kepemimpinan Islam di tengah umat serta jalan yang harus ditempuh agar Islam dapat diterapkan secara kafah.
Bahkan, salah satu praktisi pendidikan dan pengisi majelis taklim menyemangati tokoh lain untuk terus memperjuangkan Islam kafah serta mempercepat proses dakwah ini agar segera turun pertolongan Allah Taala.
Begitu pula di Lampung, peserta larut dan menitikkan air mata saat pembacaan puisi yang salah satu baitnya, “Kami tak hanya sekadar rindu. Kami telah berusaha meniti jalan dakwah demi tegaknya Khilafah. Tertatih, letih, tetapi kami takkan berhenti sampai tegaknya din ini atau sampai perjumpaan dengan-Mu wahai Sang Rabbul Izzati.”
Para peserta di berbagai wilayah ini menyampaikan harapan besar akan kembalinya kepemimpinan Islam yang mampu membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi umat manusia. [MNews/RA]
