[Tokoh Bicara] Cinta Rasulullah ﷺ, Taat dan Patuh pada Syariat Islam

[Tokoh Bicara] Cinta Rasulullah ﷺ, Taat dan Patuh pada Syariat Islam

Muslimah News, TOKOH BICARA — Para tokoh dan intelektual muslimah menyampaikan bahwa dalam mencintai Rasulullah ﷺ perlu refleksi diri. Sudahkah siap untuk tunduk dan patuh dalam mengamalkan syariat Islam yang beliau bawa?

1. Ella Saparianti, S.T.P., M.P. (Akademisi Malang)

Refleksi Diri

Perlu ada refleksi diri, apakah peringatan Maulid Nabi ﷺ memberikan dampak kecintaan kita pada syariat yang Rasulullah ﷺ bawa makin tumbuh berkembang dan meningkat? Ataukah sekadar seremonial perayaan, perlombaan, bertumpuknya hidangan sajian mauludan, dan berkumpul tanpa makna?

Refleksi diri dan umat Rasulullah ﷺ hendaknya bisa menjadi tolok ukur kadar kesiapan tunduk dan patuh pada syariat yang beliau bawa sebagaimana dalam QS Al-Hasyr ayat 7, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

Keteladanan beliau (personal maupun komunal) telah menjadi petunjuk dalam setiap langkah kehidupan dalam lingkup keluarga, anggota masyarakat, pemimpin politik, serta pemimpin negara yang berwibawa bagi warga negara (muslim dan nonmuslim), juga sebagai pemimpin negara yang disegani dalam hubungan luar negeri dengan melangsungkan dakwah dan jihad.

Sudah saatnya Maulid Nabi ﷺ menjadi momen mengukur kadar kecintaan dan kepatuhan kepada syariat Islam kafah hingga terwujud kepemimpinan Islam yang mengayomi dunia dan membawa keberkahan bagi langit bumi dan seisinya, termasuk kesejahteraan bagi umat manusai seantero dunia dengan kepemimpinan Islam.

2. Sri Mujiarti Ulfah, S.Sos., M.A.P. (Pengamat Kebijakan Publik)

Cinta Rasulullah ﷺ kepada Umatnya

Berabad masa jarak antara kita dan Baginda Nabi ﷺ, tetapi seakan beliau ada bersama kita saat ini. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ menguat ketika memasuki Rabiulawal dan tidak terlepas dari perintah Allah Taala. Cinta yang kita rasakan kepada Baginda Nabi ﷺ karena cintanya beliau kepada kita, umat beliau sampai akhir zaman. Bukan hanya kepada mereka, para Sahabat yang hidup sezaman dengan beliau. Bahkan, pada saat terakhir menjelang wafatnya, perhatian beliau tetap tercurahkan kepada umatnya, bukan kepada keluarganya.

Rasulullah ﷺ tidak hanya sebagai nabi, tetapi juga merupakan pemimpin negara. Beliau menerapkan aturan Islam secara kafah. Kepemimpinan beliau adalah kepemimpinan yang mengayomi dan mengurusi, bahkan beliau mencela kepemimpinan yang dibangun dengan kebencian.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Aisyah ra. berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ berdoa di rumah ini, ‘Ya Allah, siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudian ia membebaninya, maka bebanilah dirinya. Siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurus urusan umatku, kemudian ia berlaku lemah lembut, maka bersikap lembutlah kepada dirinya.’.” (HR Muslim).

Mencintai Rasulullah ﷺ adalah dengan menjadikannya uswah, teladan kehidupan kita, salah satunya dengan meneladan kepemimpinan Rasulullah ﷺ dalam bernegara.

3. Dra. Ec. Solikah Nurwati, M.M. (Intelektual Muslimah)

Mengamalkan Ajaran Rasulullah ﷺ

Penting bagi umat Islam untuk menunjukkan cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya melalui perayaan, tetapi juga melalui pengamalan ajaran yang beliau ajarkan. Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun hubungan sosial. Sudah seharusnya umat Islam mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dalam berinteraksi dengan sesama, bahkan sebagai pemimpin negara.

Rasulullah ﷺ memastikan bahwa masyarakat yang beliau pimpin hidup dengan kecukupan dan tidak hidup dalam kelaparan. Meskipun sebagai pemimpin negara, Rasulullah ﷺ tidak memperkaya dirinya atau keluarganya. Tidak jarang beliau menahan lapar, perutnya diganjal batu hanya karena tidak ada makanan di rumahnya.

Kepemimpinan Rasulullah ﷺ tidaklah berorientasi pada capaian fisik pembangunan dan bermegah megah, tetapi beliau membangun fondasi kuat dengan ideologi Islam serta corak berpikir dan bertindak sesuai dengan syariat Islam.

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam melahirkan generasi Rabbani, cinta kepada Tuhannya melebihi cintanya pada diri sendiri. Dari generasi inilah, sejarah kegemilangan Islam tercatat sebagai sejarah terbaik umat manusia, bahkan Michael H. Hart, seorang tokoh nonmuslim, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia.

4. Yetni Marlina, S.Pd., M.Pd. (Intelektual Muslimah)

Mendapat Syafaat

Mari kita jadikan Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1446 H ini untuk kembali merenungkan ajaran dan keteladanan beliau dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Islam, memperbanyak selawat dengan harapan kita mendapatkan syafaat di akhirat kelak.

5. Resti Yulista (Pembina Keputrian MTs di Lampung)

Rindu Rasulullah ﷺ

Memang kita belum pernah bertemu Rasulullah ﷺ secara langsung. Namun, cinta Rasulullah ﷺ adalah cinta yang begitu besar kepada umatnya. Bahkan, sampai akhir hayatnya, beliau masih mengkhawatirkan kondisi umatnya ketika beliau tinggalkan. Masyaallah, subhanallah, cintanya yang begitu besarlah yang membuat rindu. Sosok pemimpin yang lemah lembut, jujur, setia, dan mungkin patut dilabeli sebagai manusia yang sempurna.

Nabi Muhammad ﷺ, pemimpin umat pada akhir zaman, selalu dinantikan oleh umat Islam, namanya selalu disebut, dan syafaatnya selalu diharapkan. Semoga dengan mengingat, menyebut namanya, dan mengamalkan Sunahnya, akan menambah kecintaan kita pula kepada Allah Taala. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *