[Kabar] Kerusuhan Islamofobia di Inggris, Aktivis: Pemerintah Mengabaikan Akar Penyebabnya

[Kabar] Kerusuhan Islamofobia di Inggris, Aktivis: Pemerintah Mengabaikan Akar Penyebabnya

Muslimah News, INTERNASIONAL — Kerusuhan dan bentrok antara demonstran dan polisi pecah di Southport, Hartlepool, Manchester, London, Aldershot, Sunderland, Liverpool, Belfast, Hull, Stoke-on-Trent, Bristol, Middlesbrough, Bolton, Rotherham, dan Weymouth.

Insiden berawal dari penikaman yang menyebabkan tiga anak perempuan meninggal dunia di Southport, di Inggris barat laut, pada 29 Juli. Penikaman juga menyebabkan delapan anak lain luka-luka, lima di antaranya cukup kritis. Yang juga menjadi korban luka-luka adalah dua orang dewasa.

Namun, di media sosial beredar hoaks bahwa pelakunya adalah “imigran muslim” atau “pencari suaka yang masuk ke Inggris dengan perahu”. Hoaks menyebar cepat, teramplifikasi oleh tokoh-tokoh ekstrem kanan di media sosial. Belakangan diketahui pelakunya adalah remaja bernama Axel Rudakubana, yang lahir di Cardiff dan tinggal di Desa Banks, beberapa kilometer di utara Southport.

Mengabaikan Akar Penyebab

Aktivis dakwah Abdul Majeed Bhatti dalam media ideologis internasional, Kamis (8-8-2024), menyayangkan tindakan pemerintah atas kerusuhan islamofobia ini yang mengabaikan akar penyebabnya.

Hal ini, menurutnya, tampak dari tindakan Perdana Menteri Inggris yang dengan cepat mengumumkan pembentukan unit penanganan kekerasan baru untuk kepolisian.

“Namun, ia menahan diri untuk tidak menerapkan tindakan hukuman terhadap perusahaan media sosial besar yang membiarkan kebencian dan kekerasan yang terinspirasi oleh sayap kanan di platform mereka. Meskipun ada tindakan baru ini, kelompok sayap kanan terus melakukan protes kekerasan yang menargetkan masjid di beberapa kota di Inggris Utara,” paparnya.

Abdul mengatakan, kelompok-kelompok sayap kanan tidak diragukan lagi berkontribusi terhadap ketegangan sosial, tetapi menangani masalah kohesi sosial memerlukan pendekatan yang lebih cermat daripada sekadar melarang organisasi-organisasi ini, melarang misinformasi di media sosial, atau mengatasi kesenjangan ekonomi di Inggris.

Rasisme

Hal ini, ulas Abdul, karena akar penyebab di balik ekstremisme dan kekerasan sayap kanan dapat dikaitkan semata-mata akibat rasisme Inggris yang tidak terkendali yang menyebar luas di sebagian besar masyarakat.

Ia menggambarkan adanya sifat rasisme institusional yang meluas di dalam lembaga-lembaga penting di Inggris. “Dalam satu hari, Lord Pearson dari Rannoch menyampaikan pidato kontroversial di House of Lords yang dikritik luas karena menghasut umat muslim; Kepolisian Greater Manchester menangguhkan delapan petugas karena diskriminasi rasial; dan sebuah laporan tentang sekolah-sekolah di Kent mengungkap lebih dari 900 kasus rasisme. Namun, insiden-insiden ini tidak berdiri sendiri,” bebernya..

Bahkan, tambahnya, selama dua dekade terakhir, serangkaian laporan inovatif secara konsisten mengungkap rasisme institusional di berbagai sektor masyarakat Inggris.

Laporan Macpherson pada 1999, kutipnya, pertama kali mengangkat rasisme institusional di kepolisian ke garis depan yang menyiapkan panggung untuk penyelidikan lebih lanjut.

“Tinjauan Lammy pada 2017 mengungkapkan bias rasial yang meluas dalam sistem peradilan pidana, sementara Audit Ketimpangan Ras pada tahun yang sama mengidentifikasi ketidaksetaraan yang meluas di seluruh departemen pemerintah,” ungkapnya.

Sektor kesehatan pun tidak kebal, lanjutnya, dengan Tinjauan Marmot pada 2020 yang menekankan ketidaksetaraan kesehatan terus-menerus untuk etnis minoritas yang selanjutnya dikuatkan oleh laporan Observatorium Ras dan Kesehatan NHS pada 2022—2023 yang mendokumentasikan kesenjangan ras dalam perawatan kesehatan.

“Partai-partai politik juga menghadapi pengawasan dengan Investigasi Singh pada 2021 yang memeriksa diskriminasi dalam Partai Konservatif dan Laporan Forde pada tahun 2022 menemukan bukti bias rasial dalam Partai Buruh,” ujarnya.

Di bidang olahraga, sambungnya, sepak bola di Inggris telah dirundung rasisme yang terus-menerus dengan Asosiasi Sepak Bola (FA) menghadapi pengawasan ketat karena tanggapannya yang tidak memadai terhadap masalah tersebut.

“Meskipun ada inisiatif seperti laporan tahunan Kick It Out dan Kode Keragaman FA, laporan komite parlemen pada 2020 mengkritik tajam FA dan badan sepak bola lainnya karena lambatnya kemajuan mereka dalam menghadapi diskriminasi, menekankan perlunya tindakan yang lebih efektif untuk mengatasi rasisme sistemis dalam olahraga tersebut,” bebernya.

Abdul menilai, maraknya rasisme di berbagai lembaga di Inggris hanya menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekstremisme sayap kanan dan kekerasan terhadap komunitas minoritas di Inggris.

“Yang lebih buruk lagi, lembaga-lembaga Inggris telah mengeksploitasi kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan untuk mengalihkan kesalahan atas ketimpangan ekonomi kepada imigrasi, sementara pada saat yang sama menekan komunitas muslim untuk melepaskan nilai-nilai Islam mereka dan berasimilasi,” ulasnya.

Rasisme di Inggris, jelasnya, bukanlah fenomena modern yang dimulai setelah PD II ketika tenaga kerja diimpor dari koloni-koloni Inggris untuk mengatasi kekurangan pekerja. “Upaya untuk meraih supremasi Inggris dimulai jauh lebih awal setelah disintegrasi Kekaisaran Romawi. Selama periode ini, gelombang orang-orang Jermanik dan Denmark, seperti Angles, Saxon, dan Jutes, menetap di Inggris,” ungkapnya.

Awalnya, ia menuturkan, kelompok-kelompok ini berkonflik dengan penduduk Inggris setempat, tetapi seiring berjalannya waktu, kerajaan-kerajaan Anglo-Saxon muncul dan gagasan pertama tentang identitas Inggris lahir.

“Identitas Inggris ini makin menguat karena Anglo-Saxon berulang kali menangkis serangan dari orang-orang Skotlandia, Picts, dan orang-orang Nordik, seperti bangsa Viking. Yang terakhir ini berpuncak pada pemerintahan Raja Cnut yang Agung (Canute) yang diikuti oleh William sang Penakluk. Sejarah penaklukan dan asimilasi inilah yang meletakkan dasar bagi tradisi lama untuk memandang orang luar dengan curiga dan menegaskan keunggulan cara hidup orang Inggris,” urainya.

Setelah berabad-abad mengalami invasi dan konflik, sambungnya, Inggris mulai menunjukkan rasa superioritas mereka yang baru.

“Mereka menyerbu Irlandia dan Skotlandia, berpartisipasi dalam Perang Salib Ketiga, dan memicu Perang Seratus Tahun. Pada pertengahan abad keenam belas, kaum elite Inggris telah memasuki perdagangan budak transatlantik, yang mereka kuasai selama ratusan tahun,” ujarnya.

Kapitalisme

Munculnya kapitalisme, jelas Abdul, hanya menonjolkan rasa superioritas Inggris saat mereka melakukan kekejaman yang tidak terduga dalam memaksakan cara hidup Inggris pada rakyat asing dan memperluas kekaisaran mereka.

“Dalam prosesnya, Inggris memegang rekor mengerikan dengan menginvasi 90% negara di bumi dan bertanggung jawab atas konsekuensi geopolitik jangka panjang yang terus menghantui dunia kita saat ini,” cetusnya.

Mengingat sejarah ini, ungkap Abdul, mustahil bagi kaum elite Inggris untuk menghapuskan watak rasis mereka.

“Kaum elite selalu siap menggunakan nasionalisme Inggris untuk mengalihkan perhatian massa dari isu-isu yang mendesak atau untuk memobilisasi rakyat mereka untuk berperang di luar negeri yang mengorbankan nyawa rakyat Inggris biasa demi mengamankan kepentingan kaum elite,” ucapnya.

Oleh karenanya, ia menekankan, menjadi kewajiban umat Islam untuk berdiri teguh melawan perselisihan sosial dan menawarkan Islam sebagai alternatif menyatukan kaum minoritas dan penduduk asli Inggris sebagai satu komunitas sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Al-Hujurat ayat 49,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *