[Kabar] UIY: Hijrah Tidak Bisa Dilepaskan dari Proses Dakwah Nabi ﷺ

[Kabar] UIY: Hijrah Tidak Bisa Dilepaskan dari Proses Dakwah Nabi ﷺ

Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan bahwa hijrah tidak bisa dilepaskan dari proses dakwah Nabi saw. yang semula di Makkah kemudian di Madinah.

“Dakwah Nabi saw. ini bukan sekadar dakwah personal atau kelompok, tetapi kemudian berwujud menjadi sebuah dakwah dalam level negara. Itulah masyarakat Islam yang pertama!” tuturnya di acara Focus to The Point: “Hijrah Tak Cukup Individu, Butuh Negara!” di kanal UIY Official, Rabu (10-7-2024).

Ia menerangkan, negara didirikan untuk menerapkan syariat Islam kafah untuk mewujudkan rahmatan lil ‘alamin

“Kerahmatan itu bisa diwujudkan hanya jika syariat Islam diterapkan secara kafah menyangkut kehidupan pribadi, keluarga, kehidupan masyarakat, dan negara. Nah, ketika kehidupan masyarakat mau diterapkan, di situlah pentingnya negara,” jelasnya.

Menurutnya, jika ada negara yang justru menghalangi penerapan syariat Islam kafah, itu jelas bertentangan dengan prinsip penting dalam Islam.

“Kita bisa melihat kejayaan atau kebaikan Islam itu mulai tampak setelah Rasulullah saw. hijrah dari Makkah ke Madinah, dan terus berkembang ke berbagai wilayah sampai ini hari,” paparnya.

UIY membeberkan, ideologi apa pun ketika ingin diterapkan pasti butuh negara sehingga ada negara komunis, negara kapitalisme. Namun, UIY merasa heran kalau ada orang bisa menerima negara komunis, negara kapitalisme, tetapi tidak bisa menerima keberadaan negara Islam.

Dua Makna

Mengutip kategorisasi yang dibuat oleh Syekh Izzuddin bin Abdissalam, UIY menyebut hijrah itu ada dua makna. Ia menyebutkan, pertama, hijrah negeri (hijrah makani), yaitu keluar dari negeri kufur menuju negeri Islam untuk menyelamatkan agama. Kedua, hijrah maknawi, yaitu hijrah meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat.

“Penting sekali memahami apa yang dimaksud dengan hijrah maknawi ini, yaitu meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan itu menyangkut seluruh perkara, baik perkara akidah, ibadah, makanan, pakaian, akhlak, dan muamalah,” bebernya.

Ia mengingatkan, jangan sampai hijrah dalam soal ibadah, makanan, minuman, akhlak, tetapi ekonomi masih kapitalistis, politik masih sekuler, terlibat dalam partai politik yang memperjuangkan sesuatu yang bukan Islam.

“Kalau memperjuangkan Islam itu wajib, maka memperjuangkan selain Islam kan tidak boleh. Apalagi menentang penerapan syariat Islam. Apalagi kalau kelompok itu dipakai sebagai alat untuk menentang penerapan syariat Islam,” tandasnya.

Menurutnya, penting untuk memperhatikan spirit hijrah sampai kepada titik mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan.

“Jadi kalau ia pejabat negara, misalkan, maka hijrahnya tidak cukup makin rajin salat atau sering umrah, tetapi juga harus meninggalkan korupsi, ngurus rakyat dengan benar. Jadi intinya meninggalkan yang haram, melakukan yang wajib sebanyak mungkin, melakukan yang sunah sebanyak mungkin, meninggalkan yang makruh, memilih yang mubah yang bermanfaat. Ini rumusan dasarnya,” urainya.

Ia menambahkan, jangan sampai melakukan banyak sunah, tetapi meninggalkan yang wajib atau melakukan yang haram.

Penting

UIY menegaskan bahwa hijrah ini sesuatu yang sangat penting, sampai-sampai Rasulullah saw. menegaskan bahwa hendaklah kalian hijrah karena pahala hijrah tidak ada bandingannya.

“Sebagaimana digambarkan oleh Imam Ibnu Hajar dikatakan hijrah adalah pergi menyelamatkan agama dari fitnah,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa milik kaum muslim yang paling berharga adalah agama, akidah, dan keislamannya.

“Rumah, harta benda, emas, perak, kebun, ternak, segala macam itu memang berharga, tetapi hanya berhenti di dunia, ia tidak akan bisa dibawa sampai ke negeri akhirat. Yang bisa dibawa sampai negeri akhirat adalah iman dan takwa kita kepada Allah Swt.. Oleh karenanya, sekali lagi ini adalah milik kita yang paling berharga,” tandasnya.

Ia menambahkan, ketika sesuatu yang paling berharga itu diganggu oleh orang lain, mau dicabut, maka harus dipertahankan.

“Jika untuk mempertahankan kita harus pergi, maka pergi! Di situlah hijrah itu,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *