Muslimah News, NASIONAL — FN, Ketua OSIS SMAN 1 Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah meninggal dunia setelah diceburkan oleh teman-temannya yang ingin memberikan surprise pada hari ulang tahunnya, Senin (8-7-2024).
“Sebelum diceburkan ke kolam, dikasih tepung dulu terus diangkut. Namun nahas, ketika akan berupaya naik ke permukaan, FN menginjak setrum dan akhirnya tidak terselamatkan nyawanya,” jelas Kapolsek Cawas AKP Umar Mustofa di Kabupaten Klaten.
Tragis
Pemerhati pendidikan dan dunia remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. menyayangkan peristiwa tragis ini. “Ini surprise berujung maut. Mungkin teman-teman FN menganggap surprise di hari ulang tahun ini agar FN bahagia, senang, dan sebagai bentuk perhatian sesama teman. Namun, kenyataannya bukan kebahagiaan yang diperoleh, tapi nyawa yang menjadi taruhannya,” sesalnya sebagaimana diungkap kepada MNews, Jumat (12-7-2024).
Memang benar, ujarnya, bahwa tidak ada yang menginginkan kejadian tragis, sekaligus musibah yang merupakan ketetapan dari Allah Swt. ini.
“Namun, jika kita tengok beberapa kejadian yang awalnya iseng, tapi berujung maut, tentunya tidak bisa kita biarkan karena ada yang bisa kita kendalikan ketika akan melakukan suatu perbuatan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan tentang fenomena ulang tahun yang sebenarnya bukan merupakan budaya Islam, tetapi menjadi tren di tengah masyarakat.
“Ketika ulang tahun, diberikan surprise, pesta, bersenang-senang, dan berbagai hal yang dianggap bisa memberikan kebahagiaan bagi yang berulang tahun. Bahkan, tidak jarang yang akhirnya kebablasan dalam merayakannya dan menabrak syariat-Nya,” ucapnya miris.
Menurutnya, generasi saat ini mudah sekali meniru. “Hal ini tentunya tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi ada banyak faktor yang menjadikan mereka berbuat tanpa mencari tahu apa hukum dan tujuan dari perbuatan yang dilakukan,” ungkapnya.
Ia pun memerinci beberapa faktor tersebut. Pertama, sebutnya, kurangnya pengetahuan keislaman.
“Dengan lemahnya pengetahuan Islam yang dimiliki, akhirnya menjauhkan pemahaman tentang Allah yang Maha Menciptakan, Allah yang Maha Mengatur, Allah tempat kembali, dan Allah akan meminta pertanggungjawaban atas semua yang kita lakukan di dunia,” ungkapnya.
Tanpa adanya kesadaran tersebut, sambungnya, manusia akan melakukan perbuatan sesuai kehendaknya tanpa memandang halal atau haram.
Kedua, jelasnya, sistem pendidikan yang diterapkan. “Saat ini, sistem pendidikan yang ada berorientasi pada capaian nilai akademik, bahkan dirancang ketika bersekolah targetnya adalah bisa menghasilkan materi (baca: uang),” ujarnya.
Hal ini, baginya, tidak lepas dari sistem kapitalisme yang diemban oleh negara. “Ada yang terlupa bahwa akhlak, moral, dan tingkah laku generasi kita telah lepas kontrol sehingga bisa jadi banyak generasi yang pintar, pandai, sukses secara materi, tetapi lemah moral dan akhlaknya. Ini berlangsung secara terus menerus dan berulang,” ucapnya.
Ketiga, tuturnya, faktor teknologi yang makin berkembang. “Tidak kita pungkiri kemajuan zaman saat ini memudahkan kita dalam mengakses informasi. Namun di sisi lain, tidak ada pengaturan informasi yang dapat membentengi dari kejahatan dan kemaksiatan,” paparnya.
Akibatnya, ia menerangkan, teknologi justru bisa menjadi racun bagi generasi. “Tayangan-tayangan tentang gemerlapnya para artis, tokoh ternama, bahkan kalangan apa pun, misalnya ketika sedang merayakan ulang tahun dengan pesta pora dan memberikan surprise, bebas dikonsumsi oleh siapa pun yang dapat mengaksesnya sehingga terpikir untuk meniru,” urainya.
Dalam hal ini, ia menyayangkan, teknologi yang ada tidak digunakan untuk mencari tahu hukum merayakan ulang tahun di dalam Islam.
Apalagi, ulasnya, pada 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15—64 tahun) dan 30%-nya penduduk berusia tidak produktif (di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun).
“Bayangkan jumlah sebanyak itu jika tidak dipikirkan cara mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi emas, maka ini sangat berbahaya, kerusakan mengancam,” cetusnya.
Tiga Pilar
Untuk itu, ia menyebutkan tiga pilar yang saling bersinergi dalam menciptakan generasi emas yang standarnya adalah berkepribadian Islam, cakap dalam pengetahuan, sains, dan teknologi, serta terampil dalam kehidupan Islam.
Generasi ini, menurutnya, ini dapat terwujud jika sistem yang diterapkan juga mendukung. “Kapitalisme sudah jelas-jelas gagal mewujudkan generasi yg seperti tadi disebutkan. Oleh karenanya, tidak lain tidak bukan kita harus kembali ke sistem Islam sebagaimana Nabi Muhammad saw., para sahabat, dan khalifah mencontohkannya selama lebih dari 13 abad,” tuturnya.
Pertama, ujarnya, dengan ketakwaan individu. “Setiap individu didorong untuk senantiasa taat, beriman, dan bertakwa kepada Allah Swt.. Kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan Allah menjadikan setiap perbuatannya akan terikat dengan hukum Allah. Didorong untuk senantiasa menuntut ilmu dan terbiasa melakukan amal saleh,” jelasnya.
Kedua, sebutnya, kontrol masyarakat. “Masyarakat saling memberikan nasihat, amar makruf nahi munkar. Jika ada orang yang berbuat kesalahan atau kezaliman atau kejahatan, maka akan saling menasehati sehingga tidak akan menjadi pemakluman atau dianggap biasa ketika ada yang berbuat salah,” ujarnya.
Ketiga, lanjutnya, kehadiran negara dalam menerapkan aturan yang datangnya dari Allah, yaitu penerapan hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.
“Dengan adanya sanksi hukum terhadap pelaku kejahatan, maka akan menjadi penebus dan pencegah agar tidak terulang lagi,” tukasnya.
Tampaklah, jelasnya, sistem Islam sudah diatur oleh Allah dengan begitu sempurna. “Apalagi yang membuat kita ragu? Bukankah kita hidup ingin mendapatkan keberkahan dari Allah? Jadi, terapkan hukum Allah dalam sebuah sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiah yang mengikuti manhaj kenabian,” pungkasnya. [MNews/RA]
