[Kabar] UIY: Ibadah Haji Berkaitan dengan Politik

[Kabar] UIY: Ibadah Haji Berkaitan dengan Politik

Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan bahwa ada keterkaitan antara ibadah haji dan politik.

“Substansi penting ibadah haji, yaitu tauhid, keimanan yang kokoh dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah, kepada seluruh risalah Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk muamalah yang di dalamnya ada politik, sosial budaya, dan sebagainya,” jelasnya dalam Fokus to The Point: “Haji dan Politik Tidak Bisa Dipisahkan, kok Bisa?” di kanal UIY Official, Senin (1-7-2024).

Oleh karena itu, ungkapnya, ketika seseorang pulang dari ibadah haji, keimanannya akan membuncah begitu rupa.

“Dengan dorongan ketaatannya yang luar biasa, tidak mungkin tidak ia pasti akan bersentuhan dengan masalah politik, yakni ketika ia berusaha untuk menaati seluruh perintah Allah, khususnya dalam masalah muamalah,” ujarnya.

Jadi, sambungnya, ketika ia masuk kepada aspek ekonomi, ia ingin taat kepada seluruh perintah Allah dalam hal ekonomi, begitu pula dalam soal politik.

“Oleh karena itu, kalau ada yang mengatakan bahwa ibadah haji ini jangan dikaitkan dengan politik, berarti ia sedang berusaha untuk memprotoli atau mereduksi substansi penting dari ibadah haji, yaitu taat kepada Allah sepenuhnya dalam seluruh aspek kehidupan,”  bebernya.

Banyak Masalah

Apalagi, ucapnya, hari ini umat Islam sedang menghadapi banyak sekali masalah, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, terlebih dalam kehidupan masyarakat dan negara di masing-masing negara.

“Tampak di sana ada persoalan-persoalan kualitas SDM, ekonomi, politik, pendidikan. Kemudian syariat atau ketentuan Allah dihadirkan sebagai solusi permasalahannya,” terangnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, aneh ketika ada seruan untuk menghindarkan jemaah haji dari soal-soal politik. “Kalau persoalan ini tidak diatasi dengan syariat, lalu diatasi dengan apa?” tanyanya.

UIY juga menggambarkan bahwa  ibadah haji adalah ibadah satu-satunya yang menghimpun umat Islam dari berbagai wilayah di seluruh dunia dalam satu tempat dan satu waktu.

“Tidak ada ibadah yang begini rupa. Ibadah haji itu harus dilakukan di Tanah Suci, wukuf harus di Arafah, tidak bisa tidak, kecuali pada 9 Zulhijah umat Islam itu berkumpul. Maka, ini memiliki makna politik, yakni persatuan, paling sedikit persaudaraan. Kita ini bersaudara yang diikat oleh kesamaan akidah, syariat, dan ibadah, meskipun mungkin beragam dari pemahaman fikih manasik hajinya,” ungkapnya.

Namun, tuturnya, makna persatuan dan persaudaraan ini tidak nyambung dengan realitas. “Mereka berasal dari negara-negara berbeda, padahal sebelumnya umat Islam itu satu,” ucapnya.

Ia menilai, persaudaraan dan persatuan itulah sebenarnya yang sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai persoalan yang sedang menimpa Islam, seperti Palestina, Uighur, Rohingya.

“Bagaimana kita mengatasi persoalan ini? Sudah berjalan 8 bulan [pembantaian] di Palestina. Semua orang mengatakan bahwa ini harus ditolong, dicegah, segala macam. Tapi, enggak ada satu pun tindakan, padahal kita ini jumlahnya hampir dua miliar,” tukasnya.

Kata kuncinya, ia menegaskan, dua miliar yang berserak, tidak bersatu. “Ibadah haji itu simbolisasi persatuan. Itu politik. Berkumpul itu sudah merupakan perkumpulan politik,” cetusnya.

Khotbah Nabi

Ia mengingatkan bahwa ketika Nabi saw. menyampaikan khotbah saat wukuf di Arafah, Nabi saw. berbicara tentang cara menjaga umat ini.

“Saat itu Nabi saw. mengatakan bahwa darahmu haram, hartamu haram, dan kehormatanmu haram. Sedangkan, faktanya hari ini semua tercabik-cabik, bahkan termasuk agama kita,” jelasnya.

Untuk itu, ia menegaskan, ketika membuka lagi khotbah Nabi saw. atau hadis-hadis yang berkenaan dengan khotbah Nabi saw. di Padang Arafah, sesungguhnya semuanya bermakna politik.

“Seolah-olah kalau kita lihat, bisa disebut Rasulullah itu sedang bicara kepada penguasa-penguasa di tengah kaum muslim. ‘Wahai penguasa Mesir, jaga nyawa kaum muslim di Palestina. Wahai penguasa Saudi, selamatkan nyawa kaum muslim Palestina.’ Itu kan sebenarnya tuntutan-tuntutan yang sangat politis,” tandasnya. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *