[Kabar] Jam Pelajaran PAI Sangat Singkat, Konselor: Bisakah Mencetak Siswa Beriman dan Bertakwa?

[Kabar] Jam Pelajaran PAI Sangat Singkat, Konselor: Bisakah Mencetak Siswa Beriman dan Bertakwa?

Muslimah News, NASIONAL — Staf Khusus Menteri Agama (Stafsus Menag) Abdul Rochman meminta para guru PAI memiliki metode ajar agama yang tepat di sekolah, meskipun jam pelajaran yang tersedia sangat singkat. Gus Adung, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa guru PAI harus punya target tentang pelajaran-pelajaran agama yang hanya dua jam dalam satu minggu di sekolah umum.

“Dengan dua jam seminggu, kita juga harus memikirkan apa yang kita ajarkan kepada siswa. Yang lainnya bobotnya bisa dikurangi dari itu, tapi bukan berarti lainnya tidak penting. Minimal salatnya itu benar. Berarti wudu, salat, doa, atau wiridan setelah salat, termasuk membaca Al-Qur’an,” ujarnya.

Namun, konselor Putri Ria Angelina, M.Pd.Kons. mempertanyakan durasi pelajaran PAI yang hanya dua jam seminggu ini. “Bagaimana mungkin dengan bekal hanya dua jam pelajaran dalam seminggu bisa mencetak peserta didik yang beriman dan bertakwa?” ujarnya kepada MNews, Sabtu (25-5-2024).

Belum lagi, tambahnya, kalau gurunya tidak hadir dan hanya memberikan tugas semata atau, misalnya, ada guru PAI yang mengajar sekadarnya.

“Apalagi ada statement stafsus yang menyatakan bahwa standar yang harus di tempuh menitikberatkan pada salat, wudu, doa, wirid, dan mampu membaca Al-Qur’an semata,” ucapnya.

Ia menyatakan, inilah efek pemisahan kehidupan dari agama. “Peserta didik dirasa cukup agamis ketika menguasai materi dengan standar minimalis tersebut. Hal inilah yang membuat peserta didik tidak mengenal agama mereka yang sesungguhnya sehingga banyak pelajar yang alergi dengan agamanya sendiri, padahal Islam sebagai sebuah agama dan ideologi memiliki konsep yang sangat luas, lengkap, dan implementatif,” paparnya.

Pelajaran Agama Islam, jelasnya, sudah seharusnya menjadi salah satu pelajaran yang bisa membuat pelajar mengenal agamanya dengan baik yang membuat pelajar paham cara beragama dalam kehidupan sehari-hari.

“Kemudian, agar mereka bisa mengetahui Islam sesungguhnya bahwa agama yang mereka anut adalah problem solver permasalahan mereka. Konsep menjauhkan Islam dari kehidupan sehari-hari para pelajar dari hidup mereka adalah hal yang sangat diharapkan dari para pengusung sekularisme,” ulasnya.

Mengenali Islam

Untuk itu, ia menerangkan, sudah seyogianya para pelajar mengenali dan mencintai Islam sebagai agama dan ideologi mereka yang memang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Sudah seharusnya pelajar ikut mengenalkan pula agama Islam yang sesungguhnya kepada teman-temannya yang kering akan agamanya atau yang mungkin menjadikan Islam hanya sebagai agama di biodata rapor mereka,” ungkapnya.

Para pelajar, lanjutnya, sangat perlu mencintai Islam serta menjadikan mereka sebagai pionir penoreh kegemilangan Islam.

“Memang sangat sulit terjadi jika sistem pendidikannya pun tidak mendukung. Sistem pendidikan saat ini jauh dari konsep pendidikan Islam yang berhasil mencetak pelajar untuk menjadi faqih fiddin, berjiwa pemimpin, dan menguasai teknologi,” ujarnya.

Oleh karenanya, ia menekankan, dukungan sistem pendidikan Islam sangat penting dilakukan disertai perubahan sistemis pada pilar negara yang lain, yaitu penerapan Islam rahmatan lil-‘alamin yang membawa banyak kebaikan untuk umat manusia. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *