Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.
Muslimah News, NAFSIYAH — Kecerdasan seseorang ditentukan oleh sejauh mana ia pandai berhitung dan melakukan aktivitasnya dengan penuh perhitungan.
Rasulullah saw. bersabda, ”Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR At Tirmidzi dari Syaddad bin Aus).
Imam At Tirmidzi (w. 279 H) menyatakan bahwa makna man dâna nafsahu adalah (orang yang) menghitung dirinya di dunia sebelum dirinya dihitung pada hari kiamat.
Pandai menghitung diri bukan hanya tanda kecerdasan, tetapi juga tanda ketakwaan. Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, ia mengatakan, “Tidaklah seorang hamba disebut bertakwa hingga ia menghitung dirinya sebagaimana ia menghitung serikat bisnisnya dari mana makanan dan pakaiannya.” (Sunan at Tirmidzi juz 4 hlm 638)
***
Tahun demi tahun telah berlalu, kita menghitung diri ataupun tidak, jatah hidup kita di dunia terus berkurang. Jika kita tidak pandai menghitung diri, niscaya kita akan celaka. Imam Al Ghazali dalam Ayyuhal Walad memberi nasihat kepada salah satu muridnya, “Dan barang siapa yang usianya sudah mencapai 40 tahun tetapi kebajikannya tidak melebihi dosanya, maka bersiap-siaplah ia masuk neraka.”
Begitu juga kecelakaan akan dijumpai jika “salah dalam melakukan perhitungan”, misalnya tidak mau menutup aurat karena dalam perhitungannya akan menyebabkan ia sulit mendapatkan jodoh. Bisa jadi ia tidak mau meninggalkan bisnis ribawinya, karena dalam hitungannya ia tidak bisa hidup tanpa riba. Mungkin juga ia tidak mau mendakwahkan ajaran Islam, kecuali jika materi yang disampaikan disenangi masyarakat dan diakomodir penguasa. Dalam hitungannya, menyampaikan ajaran lslam yang tidak disenangi penguasa bakalan menurunkan popularitasnya, membuat seret rezekinya, atau bahkan membahayakan nyawanya.
Memang bisa jadi, seseorang yang menyampaikan kebenaran dan menolak kemungkaran akan dipersekusi, di-bully, bahkan dipenjara. Dahulu pada 1957, para alim ulama yang berkumpul di Palembang dan menyampaikan resolusi tentang haram dan bahayanya komunisme, mereka di-bully, dituduh antirevolusi, sebagian mereka yang dianggap tokohnya akhirnya dipenjara.
Namun seharusnya dalam perhitungan seorang muslim, tidak ada keberuntungan yang lebih besar daripada bisa menjalankan ketaatan kepada Allah Taala. Sebaliknya, tidak ada kerugian paling besar selain bermaksiat, mengabaikan syariat Allah ‘Azza wa Jalla, resiko apa pun di dunia akan dengan ringan ia hadapi dalam menjalankan hidup sesuai perhitungan ini.
Ketika Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. sudah hijrah, Suhaib bin Sinan juga menyusun rencana untuk menyusul. Disimpannya harta hasil usahanya selama berpuluh tahun, lalu dengan sembunyi-sembunyi beliau berangkat hijrah menyusul Rasulullah ﷺ.
Namun, orang-orang Quraisy berhasil mengejarnya. Mereka berkata kepada Shuhaib ra., “Engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin, maka banyaklah harta engkau di sisi kami, hingga engkau mencapai (kekayaan) seperti ini, lalu engkau ingin pergi dengan diri engkau dan harta engkau? Demi Allah hal itu tidak boleh terjadi.”
Selanjutnya, Shuhaib berkata, “Bagaimana pendapat kalian jika aku berikan hartaku kepada kalian, apakah kalian akan membiarkan jalanku (untuk pergi hijrah)?”
Orang-orang tersebut menyetujuinya. Kemudian, Shuhaib memberikan hartanya (dengan menunjukkan tempat-tempat penyimpanan hartanya), dan beliau melanjutkan hijrah menyusul Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah mengetahui hal tersebut, beliau menyatakan, “Telah beruntung Shuhaib, telah beruntung Shuhaib.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Inilah semangat hijrah yang seharusnya tertanam dalam benak setiap muslim, meninggalkan apa pun yang akan menghalangi rida Allah Swt. dan yang dilarang-Nya. “Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR Al Bukhory).
Secara fisik mungkin Shuhaib “terlihat” rugi, karena harus kehilangan hartanya, bisnisnya, tempat tinggalnya, dan relasi-relasi bisnisnya untuk pergi ke suatu tempat baru dan memulai bisnis dari “nol”. Namun secara hakiki, sebagaimana dikatakan Rasulullah saw., justru Shuhaib benar-benar beruntung. Harta, walaupun hilang, kalau memang rezekinya maka ia pasti akan mendapatkannya lagi atau Allah Swt. akan menggantinya dengan yang lebih baik. Sementara itu, ketaatan kepada Allah Swt. dan rida-Nya tidak akan bisa dibeli dengan dunia dan seisinya. Allaahu A’lam. [MNews/YG]
Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com
