Penulis: Juanmartin, M.Kes.
Muslimah News, OPINI – Kita sudah di penghujung Ramadan. Tentu ada sedih dan haru pada kaum muslim karena belum tentu bertemu lagi dengan Ramadan berikutnya. Meski demikian, Idulfitri tetap menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Demi berkumpul dengan sanak saudara pada hari penuh berkah, umat Islam—khususnya di Indonesia—rela menyisihkan waktu untuk balik ke kampung halaman.
Ya, tradisi mudik sudah menjadi ritual tahunan masyarakat Indonesia. Indahnya berkumpul bersama sanak saudara dan bersilaturahmi ke sanak keluarga mampu menjadi terapi di tengah kesibukan masyarakat menjalani kehidupan.
Dari sisi matematika ekonomi, Ramadan dan momen Idulfitri memang berimbas pada perekonomian dalam negeri. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai perputaran uang selama Ramadan dan Idulfitri 1445 termasuk signifikan untuk menggerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2024.
Namun, di sisi lain, Ramadan dan Idulfitri ternyata mampu menghadirkan sudut pandang dari berbagai dimensi. Di tengah tradisi mudik yang berlangsung di penghujung Ramadan dan jelang Idulfitri, umat Islam harus bisa memaknainya, baik dari sisi spiritual maupun politiknya.
Aspek Spiritual
Silaturahmi adalah spirit kuat yang menjiwai tradisi mudik. Menurut bahasa silaturahmi berasal dari kata “shilah” dan “ar-rahim”. Shilah artinya hubungan dan ar-rahim (bentuk jamaknya al-arhâm) berarti rahim dan kerabat. Kata “arhâm” terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali dengan makna “rahim” dan lima kali dengan makna “kerabat”. Oleh karena itu, silaturahmi secara bahasa adalah hubungan yang muncul karena rahim atau hubungan kekerabatan yang terkait melalui rahim.
Menurut Imam An-Nawawi, silaturahmi adalah berbuat baik kepada kerabat sesuai keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Kadang berupa kebaikan dalam hal harta, kadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang pula dengan saling mengunjungi, memberi salam, dan cara lainnya. (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, 2/201).
Momen mudik ini juga menjadi waktu yang tepat untuk saling berbagi. Tidak sedikit mereka yang berjibaku di perantauan ikhlas menyisihkan harta untuk membeli buah tangan dan saling berbagi dengan sanak keluarga.
Selain menambah kemeriahan suasana bersama keluarga, pada dasarnya merupakan realisasi sabda Rasulullah saw., “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari).
Bagi kaum muslim, Idulfitri merupakan Hari Kemenangan sekaligus hari penuh berkah. Selama sebulan penuh, umat Islam berupaya mengendalikan hawa nafsu. Jangankan yang haram, makanan dan minuman yang halal pun mampu mereka tinggalkan saat siang hari selama Ramadan. Ramadan merupakan madrasah bagi kaum muslim untuk menempa diri melakukan perubahan menjadi individu yang bertakwa.
Meski momentum mudik bisa menjadi semacam “obat penenang”, tetapi masyarakat pun harus berhadapan dengan berbagai kendala selama mudik. Mudik yang kerap dilakukan masyarakat nyaris di sepuluh terakhir Ramadan, membuat militansi umat Islam dalam mengencangkan ibadah di akhir Ramadan menjadi kendor. Bahkan, tidak sedikit dari pemudik abai dari syariat.
Walhasil, sisi spiritual ini tidak lepas dari pemahaman personal juga atmosfer sistemis dalam mewujudkan tradisi mudik yang kental dengan suasana keimanan.
Aspek Politik
Lelah dan harus berjibaku dengan kemacetan sepertinya menjadi ritual para pemudik. Belum lagi dengan biaya mudik yang harus mereka keluarkan. Harga tiket pesawat saja bisa melambung dua kali lipat. Tidak sedikit pemudik yang akhirnya memilih moda transportasi dengan biaya yang lebih ekonomis. Kalaupun ada program mudik gratis, itu sangat terbatas.
Di tengah perjalanan mudik pun bukan tanpa tantangan. Waktu dan rute yang ditempuh kerap menyiksa para pemudik. Sarana prasarana yang kurang memadai membuat pemenuhan hajat selama mudik hanya seadanya, padahal sebagai ritual tahunan masyarakat, mudik tentu membutuhkan infrastruktur yang memadai. Mulai dari pengadaan transportasi umum, pemantauan biaya mudik yang terjangkau, hingga sarana prasarana yang bisa memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat.
Meski antisipasi lonjakan pemudik dengan melakukan proyeksi pergerakan masyarakat selama mudik telah pemerintah lakukan, tetapi dengan infrastruktur yang belum memadai—bahkan kerap berbiaya mahal—tentu menjadi masalah yang pemudik hadapi di lapangan.
Tidak kalah pentingnya yakni bagaimana masyarakat dapat melaksanakan mudik tanpa kehilangan momentum indahnya beribadah saat sepuluh terakhir bulan Ramadan. Atmosfer ini yang sulit kita temukan hari ini. Menciptakan suasana yang lekat dengan ibadah di tengah aktivitas mudik seolah luput dari pengawasan personal hingga bernegara.
Mengapa negara? Bukankah ibadah bersifat personal? Berpikir bahwa ibadah semata aspek personal tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, setiap individu juga membutuhkan dukungan berupa sarana prasarana agar bisa melaksanakan ibadah dengan kondusif. Di sinilah peran negara.
Pandangan yang menganggap ibadah semata urusan personal pada akhirnya kerap membuat negara abai melihat sisi ini. Nyatanya, dalam kondisi mudik yang penuh tantangan ini, sudah seharusnya negara dapat menciptakan atmosfer keimanan bagi para pemudik.
Peran Negara dalam Islam
Penguasa adalah pengurus rakyatnya. Untuk itu, tugas penguasa adalah memastikan terwujudnya kemaslahatan di tengah-tengah masyarakat. Sebagai aktor utama dalam mengurus negara, penguasa wajib mengerahkan organ pemerintahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentu membutuhkan visi jangka panjang, bukan bersifat occasional di moment tertentu seperti saat mudik Lebaran, misalnya. Oleh karena itu, dalam Islam pembangunan infrastruktur seperti jalan, pengadaan transportasi dan sejenisnya sudah mencakup kebutuhan masyarakat bukan saja saat menjelang puncak mudik.
Secara umum, infrastruktur ini adalah fasilitas umum, yang dibutuhkan oleh semua orang, sehingga termasuk dalam kategori marâfiq al-jamâ’ah. Ini seperti air bersih, listrik, sarana pemenuhan hajat seperti toilet, rumah ibadah dan sejenisnya. Begitu juga termasuk fasilitas umum yang tidak boleh dimonopoli individu, seperti jalan raya, laut, udara, dan sejenisnya.
Semua ini merupakan bagian dari infrastruktur yang masyarakat perlukan dan wajib negara fasilitasi. Tersebab ini merupakan fasilitas umum, penggunaannya pun harus gratis bagi rakyat. Boleh saja jika ada pelaku bisnis transportasi dari masyarakat. Hanya saja dalam pelaksanaannya, negara tidak boleh luput dalam melakukan pengawasan.
Sungguh jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Sejumlah jalan yang dikelola swasta harus rakyat lalui dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, termasuk tarif tol yang belakangan naik menjelang puncak mudik. Belum lagi biaya tiket sejumlah moda transportasi yang kerap melambung mendekati Hari Raya.
Inilah konsekuensi dari tata kelola negeri yang kapitalistik. Tereduksinya peran negara dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat berimbas menjelang Hari Raya. Tentu saja, ritual tahunan di negeri ini membutuhkan penelaahan.
Khatimah
Sistem sekuler kapitalisme yang hari ini diterapkan menjadikan spiritualitas kolektif tergerus. Meski esensi Ramadan tetap ada, tetapi makna Ramadan—terutama jelang mudik—seakan kian memudar.
Akhirnya, aspek politik dan spiritual umat tereduksi karena atmosfer sekuler yang mengaburkan pandangan umat. Atas dasar ini pula, kritik sistemis harus hadir agar umat bisa memahami betapa negara memiliki peran strategis dalam mewujudkan kemaslahatan mereka secara paripurna. Wallahualam. [MNews/Gz]
