Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, OPINI — Makin ke sini makin ngeri. Kehidupan remaja saat ini begitu dekat dengan tindak kriminal. Peredaran berita tentang remaja selalu tidak jauh dari aksi tawuran, pemerkosaan, pembunuhan, dan kekerasan. Sedih? Iya. Miris? Jelas. Waswas? Pastinya. Usia muda yang semestinya menjadi usia cemerlang dalam karakter, akhlak, prestasi, dan kebaikan, kondisinya justru sangat kontradiktif dengan fakta hari ini.
Seorang siswi SMP menjadi korban pemerkosaan bergilir yang dilakukan oleh 10 orang. Tiga di antaranya masih berstatus pelajar, tiga lainnya pria dewasa, dan empat pelaku pemerkosaan masih jadi buron. Di tempat berbeda, puluhan remaja terlibat tawuran “perang sarung”. Di Bekasi, perang sarung tersebut memakan satu korban jiwa. Seorang pelajar berusia 17 tahun meregang nyawa setelah tawuran antarkelompok geng remaja tersebut.
Ironisnya, tawuran “perang sarung” semacam ini seolah sudah membudaya di kalangan pelajar, khususnya ketika Ramadan tiba. Tahun lalu juga terjadi peristiwa serupa di berbagai wilayah. Terbaru, di Pangkalpinang, Kep. Bangka Belitung, “perang sarung” terjadi di tiga lokasi berbeda dalam semalam. Mengapa generasi kita menjadi seperti ini?
Pengaruh Sekularisme
Menanggapi maraknya “perang sarung” di kalangan remaja, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau berbagai lembaga keagamaan, seperti pesantren, lembaga zakat, dan ormas Islam, membantu mengarahkan kegiatan anak selama Ramadan. Contoh kegiatan itu adalah pesantren kilat. Menurutnya, kegiatan pesantren kilat dapat menghindarkan anak dari perilaku tidak bertanggung jawab di jalanan. Apalagi, kegiatan anak di jalanan kerap berada di luar pengawasan orang dewasa. (Tempo, 17-3-2024).
Pihak kepolisian juga mengeluarkan maklumat tentang larangan kegiatan masyarakat menjelang dan saat Ramadan. Maklumat tersebut juga memuat larangan kegiatan berkumpul atau berkerumun sambil menunggu berbuka puasa dan sahur yang dapat menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, seperti balapan liar maupun tawuran.
Upaya pemerintah mencegah aksi tawuran saat Ramadan patut kita apresiasi. Namun, alangkah baiknya tidak sekadar melakukan pencegahan kenakalan remaja terbatas pada momen tertentu atau melakukannya ketika sudah telanjur ada korban jiwa. Aksi brutal dan tindak kriminal di kalangan remaja bukan sekali, tetapi sudah berulang kali dan tiap tahun terjadi hal yang sama. Artinya, solusi preventif dan kuratif tidak akan efektif, apalagi selama sistem sekularisme masih mendominasi kehidupan hari ini yang menjadi akar masalah kerusakan generasi.
Sistem kehidupan sekuler melahirkan pola hidup hedonistik, permisif, dan liberal. Standar hidup tidak lagi berpegang teguh pada agama (baca: Islam), melainkan berorientasi pada pencapaian atau keberhasilan yang bersifat materi. Alhasil, generasi makin jauh dari nilai ketaatan kepada Penciptanya, yakni Allah Taala.
Di sisi lain, sistem sekularisme turut memengaruhi pola penyusunan kurikulum. Dalam sistem pendidikan hari ini, output pendidikan dan tujuan pendidikan tidak sinkron. Dalam salah satu poin UU Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berilmu.
Pertanyaannya, dengan model kurikulum sekuler yang diterapkan saat ini, adakah tujuan itu tercapai sehingga lahir generasi bermartabat, bertakwa, dan berakhlak mulia? Sementara itu, porsi Islam dalam struktur kurikulum pendidikan sekuler begitu minim. Meski bertabur lembaga pendidikan Islam sebagai solusi alternatif, hal ini bukan jaminan tidak akan terjadi perilaku negatif generasi. Ini karena yang tengah dihadapi orang tua, guru, dan lembaga pendidikan ialah arus sekularisasi di semua lini kehidupan.
Pada era keterbukaan informasi pun generasi makin tidak terkendali. Mereka bisa mengakses apa saja yang ada di dunia digital. Belum lagi suguhan tontonan berbalut maksiat atau gim bergenre kekerasan. Ditambah budaya serta pemikiran asing yang kerap menjadi tren dan kiblat kehidupan remaja. Jadilah generasi pembebek yang latah tanpa bisa menyaring benar dan salah sesuai pandangan Islam.
Artinya, yang perlu dirombak dan dievaluasi bukan hanya guru, orang tua, atau lembaga, melainkan sistem yang diterapkan, yakni sistem sekuler kapitalisme.
Kembalilah pada Sistem Islam
Dari aspek kecerdasan, sistem sekuler kapitalisme mungkin berhasil mencetak generasi cerdas dalam ilmu umum, seperti sains dan teknologi. Namun, sistem ini sejatinya telah gagal mencetak generasi berkepribadian mulia. Tengoklah betapa AS, Jepang, atau Korsel sukses menjadi negara maju dengan iptek yang mumpuni, tetapi mereka gagal membangun peradaban manusia. Lihat pula betapa megahnya infrastruktur negeri-negeri Islam, seperti Arab Saudi, UEA, dan lainnya, tetapi nilai-nilai syariat kian memudar dalam kehidupan masyarakatnya, malah tampak makin liberal. Semua itu akibat paham sekuler yang mengikis nilai-nilai Islam, sekalipun mayoritas penduduknya muslim.
Jika generasi rusak, peradaban manusia hari ini juga turut rusak. Oleh karenanya, generasi unggul hanya bisa terwujud tatkala sistem pendidikannya bertujuan membentuk manusia-manusia cerdas iptek sekaligus kaya imtak (iman dan takwa). Hal itu hanya bisa diwujudkan dengan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang berpadu dengan sistem politik ekonomi yang menyejahterakan.
Sistem Islam terbuktu sukses membangun manusia unggul dari aspek fikriah (pola pikir) dan nafsiah (pola sikap). Bukan hanya melahirkan sosok ilmuwan cerdas, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik. Kecerdasan ilmu yang mereka miliki didedikasikan untuk kemaslahatan umat. Mereka gunakan ilmunya untuk menciptakan berbagai hal yang bermanfaat bagi rakyat dan negara.
Negara pun memberikan penghargaan yang begitu tinggi atas jerih payah ilmu dan temuan teknologi mereka kala itu. Itulah kehebatan Islam. Kecerdasan berbalut keimanan menghasilkan ilmu yang memberi manfaat bagi kehidupan. Kunci kegemilangan peradaban Islam saat itu adalah menjadikan Islam sebagai peta jalan menjalankan roda pemerintahan.
Terkait hal ini, Islam memiliki sejumlah mekanisme menyeluruh untuk mewujudkan generasi berkepribadian mulia.
Di antaranya pertama, menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Dengan ini, seluruh mata pelajaran akan berkesinambungan dengan peningkatan keimanan seorang hamba kepada Allah Taala. Setiap ilmu harus senantiasa dikaitkan dengan basis akidah Islam yang membuat seluruh peserta didik makin taat kepada Allah Taala.
Kedua, negara memberikan akses pendidikan untuk seluruh rakyat secara gratis. Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah kebutuhan primer. Negara wajib memfasilitasinya tanpa memungut biaya dari rakyat. Dengan begitu, para peserta didik bisa lebih tenang menempuh pendidikan sesuai yang diminatinya. Orang tua juga bisa lebih fokus dalam mendidik anak-anak mereka tanpa merasa risau dengan biaya pendidikan.
Ketiga, suasana lingkungan dan masyarakat yang kondusif. Negara tidak menoleransi segala bentuk pemikiran dan tsaqafah asing yang merusak. Suasana yang dibangun adalah masyarakat yang terbiasa berdakwah. Merekalah kontrol sosial sesungguhnya di tengah masyarakat.
Keempat, menegakkan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan. Sistem sanksi akan berlaku sebagai upaya kuratif ketika berbagai upaya preventif masih dilanggar. Efek nyata penerapan sistem sanksi dalam Islam ialah membuat pelaku jera sehingga ia tidak akan pernah berpikir untuk mengulangi kejahatannya. Setiap pelaku kejahatan yang sudah terkategori akil balig dan mukalaf bisa diterapkan sanksi Islam atasnya, termasuk jika pelakunya adalah remaja.
Khatimah
Mewujudkan generasi unggul membutuhkan sistem yang mendukung. Tanpa sistem ini, segala upaya yang dilakukan akan menghambat lahirnya generasi berkualitas. Oleh karenanya, menyelamatkan dan melindungi generasi dari kerusakan hanya bisa dilakukan dengan penerapan sistem Islam secara kafah.
Jika tidak dilakukan secara menyeluruh, output generasi yang dihasilkan akan “terbonsai” menjadi produk sekuler, seperti slogan “salat terus, maksiat jalan”, “meski tidak berhijab, yang penting rajin salat”, dan lainnya. Kesalehan individu akan terbentuk bersama dengan kesalehan komunal yang dibentuk sistem, yakni Islam kafah. Insyaallah. [MNews/Gz]
