[Kabar] Warga Gaza Menderita Kelaparan, padahal Ramadan Tinggal Menghitung Hari

[Kabar] Warga Gaza Menderita Kelaparan, padahal Ramadan Tinggal Menghitung Hari

Muslimah News, INTERNASIONAL— The New Arab memberitakan (20-2-2024) bahwa menurut FAO, sekitar 2,3 juta warga Gaza saat ini diklasifikasikan menghadapi tingkat kerawanan pangan, baik krisis, darurat, atau bencana. Gambar yang dibagikan di media sosial menunjukkan orang-orang, khususnya di bagian utara Gaza, memakan rumput, rumput liar, dan pakan ternak.

Citra satelit juga menunjukkan rusaknya banyak pelabuhan perikanan, pasar, rumah kaca, dan lahan pertanian.

Risiko kelaparan meningkat setiap hari di Gaza karena berlanjutnya permusuhan dan blokade terhadap Gaza. Hampir semua rumah tangga Palestina di Gaza melewatkan makan setiap hari. Action Against Hunger mengatakan bahwa beberapa keluarga melewatkan siang dan malam tanpa makan. Hancurnya infrastruktur produksi dan distribusi pangan serta pembatasan impor komersial telah mengurangi akses terhadap pangan.

Menghitung Hari

Aktivis dakwah Manal Bader merasa prihatin dengan kondisi ini, apalagi Ramadan tinggal menghitung hari.

“Di bawah seruan gencatan senjata dan bantuan bagi masyarakat Gaza, Ramadan tinggal menghitung hari. Kelaparan demi kelaparan, semuanya dibuat-buat dan diam-diam disetujui oleh negara-negara G7, dan Amerika memimpin kekejaman ini dengan hak veto mereka terhadap gencatan senjata permanen,” ungkapnya kepada sebuah media ideologis internasional, Kamis (29-2-2024).

Ia menggambarkan, tanpa akses yang aman terhadap produk segar atau protein, masyarakat Gaza terpaksa melewatkan waktu makan dan sering kali menderita berbagai penyakit karena tidak mendapatkan makanan yang cukup selama berhari-hari.

“Di kamp pengungsi Jabalia di utara Kota Gaza, penduduknya mengumpulkan tumbuhan, segala jenis benih, dan menggunakannya untuk bertahan hidup. Namun, kebanyakan orang tidak makan. Seringkali, mereka tidak makan selama beberapa hari,” kutipnya dari Caitlin Procter, seorang peneliti di Geneva Graduate Institute yang telah menghabiskan beberapa tahun di daerah kantong tersebut dan mengumpulkan kesaksian harian dari warga Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Bahkan, lanjutnya, masyarakat Gaza yang sebagian sudah putus asa terpaksa memakan pakan ternak yang digiling menjadi roti yang berdampak buruk pada tubuh manusia akibat sakit perut yang parah dan diare.

“Kekejaman pun tidak berhenti sampai di situ. Zion*s Yahudi telah melarang produk pakan ternak tersebut masuk ke Jalur Gaza. Bahan pangan makin sulit didapat dan malah dieksploitasi ketika jatuh ke tangan pihak yang rakus dan korup,” ujarnya.

Ia meyakini, hanya Allah Swt. yang memberi mereka makan dari daun-daun hijau alami yang tumbuh setelah hujan lebat yang dingin dalam beberapa pekan terakhir.

Nusrah

Berkaitan dengan Ramadan sebagai bulan puasa dan ibadah bagi umat Islam sebagaimana diperintahkan oleh Allah Swt., ia menyesalkan, ada perintah Allah yang sengaja diabaikan, yakni memberikan nusrah (pertolongan-terj.) kepada saudara-saudari muslim dari genosida dan kelaparan.

“Mereka yang memiliki kekuasaan, otoritas, dan kekuatan harus melakukan bagian dari peran mereka untuk membebaskan diri dari dosa para agen penguasa yang tidak hanya berdiam diri, tetapi juga berkolusi dengan entitas kriminal Zion*s, yakni mempertahankan populasi Zion*s dengan bahan makanan, produk segar, dan pasokan lainnya melalui Uni Emirat Arab, jembatan darat Yordania, dan Turki,” paparnya.

Ia menekankan, waktunya makin dekat untuk menyambut Ramadan yang penuh berkah. “Kami berdoa sedalam-dalamnya agar bantuan segera diberikan kepada umat Islam di Gaza. Semoga Ramadan ini menjadi momen terbebasnya Jalur Gaza dan seluruh Palestina dari pendudukan kriminal dan genosida,” harapnya. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *