[Kabar] Akademisi: Shrimp Estate Akan Membabat Habis Hutan Mangrove

[Kabar] Akademisi: Shrimp Estate Akan Membabat Habis Hutan Mangrove

Muslimah News, NASIONAL — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengungkapkan pemerintah saat ini sedang mengembangkan proyek shrimp estate yang dapat mengancam ekosistem mangrove di Tanah Air. Manajer Kampanye Pesisir dan Laut Parid Ridwanuddin mengatakan, proyek ini memiliki konsep yang sama dengan food estate yang terbukti telah gagal dan merusak lingkungan.

Parid menjelaskan, shrimp estate yang tengah dibangun oleh pemerintah berfokus pada komoditas udang vaname. Komoditas itu dipilih karena mempunyai pasar yang tinggi di luar negeri dan domestik.

Pada 2024, Indonesia menargetkan ekspor udang vaname naik 250%, yakni tembus dua juta ton. Saat ini, permintaan pasar luar negeri udang vaname dinilai cukup tinggi sehingga merupakan salah satu unggulan ekspor Indonesia dan telah menyumbangkan lebih dari 36% nilai ekspor perikanan.

Wapres Ma’ruf Amin menyampaikan, jika budidaya udang berhasil, maka target ekspor komoditas udang sebesar 4,3 miliar dollar AS pada 2024, dapat direalisasikan.

Proyek budidaya udang yang digawangi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini dioperasionalkan di daerah Kebumen, dengan luasan sekitar 70 hektar. Proyek yang sama akan diduplikasi di daerah-daerah lainnya, di antaranya di Kota Waingapu, Nusa Tenggara Timur, dengan total luasan yang jauh lebih masif lagi, yakni 1.800 hektar.

Membabat Hutan Mangrove

Pembangunan kawasan tambak udang ini dinilai akademisi Dr. Ir. Ervia Yudiati, M.Sc. akan membabat habis hutan mangrove.

“Pembangunan kawasan tambak udang pasti membabat habis hutan mangrove. Belum lagi pakan yang diberikan untuk udang lambat laun akan menimbulkan pencemaran, meski belum bisa dirasakan sekarang,” ungkapnya kepada MNews, Ahad (28-1-2024).

Menurutnya, awal budidaya bisa jadi produksi tinggi. “Namun seiring dengan penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya intensitas limbah karena sisa pakan, pupuk, kotoran udang, senyawa organik, maka produksi akan makin menurun, bahkan berpotensi menimbulkan eutrofikasi (peningkatan produktivitas fitoplankton yang disebabkan oleh meningkatnya unsur nutrien-penj.),” bebernya.

Ia menambahkan, belum lagi risiko penyebaran penyakit serta sedimentasi/pendangkalan muara. Hal ini, ucapnya, lambat laun akan berdampak pada produksi yang makin menurun, bahkan rsiko gagal panen karena penyakit dan lingkungan yang buruk.

Ervia menyayangkan, posisi akademisi saat ini hanyalah sekadar sebagai “pemadam kebakaran”, sibuk memadamkan api, tanpa pernah tahu substansi permasalahannya.

“Ditambah, fakta pembungkaman tokoh-tokoh kritis, termasuk kisah pilu para aktivis lingkungan terkait budidaya udang di Karimunjawa yang dipolisikan dan dijerat UU ITE yang kian bertambah jumlahnya,” ungkapnya.

Dalam pandangan Ervia, permasalahan lingkungan saat ini tidak dapat terlepas dari sistem yang sedang diterapkan, yaitu kapitalisme.

“Fokus utama sistem kapitalisme menekankan pada pertumbuhan ekonomi, yakni prinsip mengedepankan pencapaian keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya atau modal sekecil-kecilnya,” jelasnya.

Ini, terangnya, menjadikan Indonesia alih-alih menggenjot ekspor udang dengan angka-angka yang fantastik, faktanya justru memberikan tekanan kepada lingkungan.

Islam

Ervia lalu membandingkannya dengan sistem Islam. “Islam mengarahkan potensi kepemilikan umum, termasuk laut untuk kemaslahatan umum, serta menjamin ketersediaan dan keamanan pangan dengan protein tinggi. Regulasinya ditetapkan sesuai hukum syarak,” bebernya.

Oleh karena itu, ia mengajak agar pemerintah kembali kepada ajaran Islam sebagaimana seruan Al-Quran surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

“Pemerintah harus memiliki visi melayani rakyat yang didasarkan aturan-aturan Allah. Inilah solusi, yaitu menyelesaikan permasalahan dengan syariat Islam ,” tandasnya.

Di samping itu, lanjutnya, harus ada upaya mencerdaskan umat dengan politik Islam. “Kalau umat sudah cerdas dengan politik Islam, maka rakyat akan bisa menentukan siapa yang menjadi pemimpin, yaitu pemimpin yang hanya mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan menerapkan sistem yang baik, yang berasal dari Allah Swt.,” harapnya.

Terakhir Evia berpesan agar edukasi umat dengan politik Islam menjadi prioritas, jangan malah menikmati permainan kapitalis yang mengedepankan spirit keuntungan ekonomi sesaat.

“Sadarkah kita bahwa dampak kerusakan lingkungan sulit untuk diperbaharui dan akan menetap serta berimbas dalam kurun waktu yang sangat panjang, dari generasi ke generasi?” tanyanya memungkasi penuturan. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *