[Tapak Tilas] Masuknya Islam di Pulau Seribu Masjid

[Tapak Tilas] Masuknya Islam di Pulau Seribu Masjid

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — Salah satu tempat yang kental dengan budaya Islam di Nusantara adalah Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ini tampak, antara lain dari banyaknya bangunan masjid hingga pulau ini dikenal juga dengan julukan Pulau Seribu Masjid.

Betapa tidak? Sekitar 3.767 masjid besar dan 5.184 masjid kecil berdiri di 518 desa di Pulau Lombok yang luasnya hanya 4.739 km². Mayoritas Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok ini memang dikenal sebagai penganut ajaran agama Islam yang kuat. Bagi mereka, masjid merupakan bangunan penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka.

Di antara masjid itu, ada yang usianya sudah ratusan tahun dan ditetapkan sebagai cagar budaya. Antara lain, Masjid Kuno Bayan Beleq yang diperkirakan berusia 300 tahun dan dipercaya masyarakat bahwa masjid ini dibangun oleh Sunan Giri dari Gresik. Lalu ada Masjid Songak, diperkirakan berdiri pada abad ke-14. Ada pula Masjid Karang Bayan, yang diperkirakan berusia 400 tahun. Lalu Masjid Rambitan dan Masjid Kuno Salut yang konon didirikan bersamaan dengan perkembangan Islam wetu telu (salah satu aliran tarekat sufisme) di Pulau Lombok.

Persentuhan dengan Islam

Sebelum kedatangan Islam, penduduk Lombok menganut ajaran agama Hindu-Buddha. Menurut penelitian, masuknya pengaruh Islam dimulai dari Kabupaten Lombok Utara, terutama di Kecamatan Kayangan, khususnya Desa Bayan dan Sesait yang lokasinya ada di kawasan pesisir pantai. Dari sinilah Islam menyebar ke wilayah Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Timur.

Awal islamisasi Pulau Lombok diperkirakan dilakukan oleh ulama asal Irak Baghdad yang bernama Asy-Syaikh As-Sayyid Nūrurrasyīd Ibnu Hajar al-Haytami atau Ghaus Abdurrazzaq. Beliau lalu menikah dengan putri Kerajaan Sasak dan memiliki anak bernama Sayyid Zulqarnain atau Sayyid Abdurrahman dan Sayyidah Lathifah yang berjuluk Denda Rabi’ah.

Pada abad ke-16, Sayyid Zulqarnain mendirikan Kerajaan atau Kesultanan Selaparang yang dikenal sebagai institusi politik Islam pertama di Pulau Lombok. Sayyid Zulqarnain sendiri kemudian dikenal sebagai Datu Selaparang atau Sultan Rinjani.

Kesultanan ini makin berkembang dan mengalami kemajuan saat dipimpin oleh Prabu Rangkesari. Situasi ini bertepatan dengan masifnya dakwah dari pulau Jawa dan Bugis Makassar ke arah Lombok dan Sumbawa. Dalam Babad Lombok dijelaskan bahwa Sunan Giri mengutus anaknya, yakni Sunan Prapen, untuk memimpin ekspedisi ke Lombok dalam rangka mendakwahkan ajaran Islam. Perintah ini dilakukan setelah Sunan Giri berhasil menaklukkan Kerajaan Majapahit.

Kedatangan Sunan Prapen di Lombok Utara ini diperkirakan terjadi sebelum 1545. Di antara buktinya adalah adanya naskah-naskah lama berbahasa Jawi Kuno yang ditulis pada daun lontar, kulit kambing, atau bambu yang dipercaya dibawa oleh Sunan Prapen. Semua naskah kuno itu sekarang disimpan oleh Pemangku Adat Bayan. Bukti lainnya adalah adanya Masjid Bayan Beleq yang dipercaya didirikan atas perintah Sunan Giri dari Gresik.

Benteng Penjajahan

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Selaparang sempat menjalin hubungan politik dengan Kesultanan Demak. Hanya saja pada abad ke-17, Kesultanan Gowa di Makasar melakukan perluasan pengaruh politik ke wilayah Lombok dan Sumbawa dalam rangka membendung ekspansi Kompeni di timur Nusantara. Hasil dari upaya tersebut, pada 1633 Gowa berhasil menyatukan Bima. Lalu pada 1640, wilayah Selaparang pun berhasil digabungkan di bawah kepemimpinan Gowa.

Oleh karenanya, kondisi politik di Gowa sangat berpengaruh terhadap kondisi politik di Selaparang. Ini tampak ketika Kesultanan Gowa dipaksa harus menandatangani perjanjian Bongaya pada 18 Nopember 1667, tekanan politik Belanda makin kuat kepada kesultanan-kesultanan Islam lainnya, termasuk di Selaparang.

Namun demikian, ketangguhan Kesultanan Selaparang teruji ketika laskar lautnya berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki wilayah tersebut sekira tahun 1667—1668. Sayang pada pertempuran tersebut, salah satu wilayahnya, yakni Pulau Sumbawa, berhasil jatuh ke tangan Belanda.

Untuk selanjutnya, Kesultanan Selaparang mengalami kemunduran terutama karena terus mendapat serangan dari Kerajaan Mataram Karang Asem Bali (Hindu). Serangan ini berakhir dengan kekalahan pihak Selaparang, dan seluruh wilayah kekuasaannya jatuh ke tangan penguasa Mataram.

Perlawanan demi perlawanan dilakukan umat Islam terhadap penguasa Mataram. Bahkan pada 1891—1894 sempat terjadi perang yang dikenal dengan Perang Lombok yang dipicu kemarahan rakyat atas kebijakan politik kerajaan yang dipandang zalim. Misalnya, merampas tanah dan memperbudak penduduk Sasak.

Situasi inilah yang dimanfaatkan Belanda untuk menguasai Bali dan Lombok dalam cengkeramannya. Hingga dengan berbagai cara, akhirnya kedua pulau tersebut berhasil menjadi koloni penuh bagi penjajahan Belanda sebagaimana wilayah-wilayah nusantara lainnya.

Khatimah

Meski sejarah Pulau Lombok berakhir tragis, tetapi pengaruh Islam terbilang cukup mengakar. Terbukti hingga saat ini, penduduk di Pulau Lombok, terutama Suku Sasak dikenal kental dengan budaya Islam karena merupakan penganut ajaran Islam yang cukup kuat. Bahkan bisa dikatakan, ajaran Islam telah menyatu dengan kebudayaan masyarakat suku Sasak.

Sayang kondisi ini masih sebatas budaya. Keberadaan Islam di sana belum menjadi kekuatan politik sebagaimana di wilayah-wilayah berpenduduk muslim lainnya di Nusantara. Tidak heran jika umat Islam belum bisa tampil sebagai sebaik-baik umat, apalagi menjadi pemimpin peradaban dunia.

Inilah PR besar kita, yakni mengembalikan Islam sebagaimana sejatinya, yakni sebagai tuntunan hidup dalam seluruh aspek kehidupan, hingga Islam bisa benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. [MNews]

Dinarasi ulang dari berbagai sumber tulisan.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *