Muslimah News, NASIONAL — Kementerian Kesehatan melaporkan tiga anak mengalami lumpuh layu akut akibat polio di Klaten, Jawa Tengah, serta di Sampang dan Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
Kemenkes mencatat, virus polio yang menyerang ketiga anak itu adalah jenis VDPV Tipe 2. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, VDPV ini berasal dari virus yang dilemahkan dan digunakan untuk vaksin polio oral.
“Ketika virus yang dilemahkan itu pindah-pindah, mengalami mutasi pada anak yang kekebalan tidak kuat, maka bisa terkena [polio],” kata Maxi.
Ketua Komnas Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI) Hinky Hindra Irawan Satari mengatakan, jika feses tidak dikelola dengan baik, maka akan menciptakan lingkungan yang membuat virus berkembang, bahkan bermutasi. “Jika terkena anak-anak yang tidak kebal, maka akan jadi sumber persemaian virus lagi,” ujarnya.
Selain di Indonesia, ucap Hinky, sirkulasi kasus polio VDPV Tipe 2 juga terjadi di seluruh dunia. Menurutnya, dari tahun 2016 terdapat 76 kasus virus ini di dunia.
Membahayakan
Pemerhati kemaslahatan publik Dr. Rini Syafri menilai, banyaknya kejadian lumpuh layu ini membahayakan masa depan bangsa.
“Ini perkara yang membahayakan masa depan bangsa sehingga harusnya tidak boleh terjadi. Kasus pada satu anak sebenarnya lebih dari cukup untuk disolusi hingga tuntas ke akar masalah, apa lagi sudah kali ke sekian dan dialami banyak anak,” ungkapnya kepada MNews, Rabu (24-1-2024).
Terlebih, ucapnya, yang diserang kuman polio umumnya anak di bawah lima tahun. “Ini berhubungan dengan masa depan peradaban anak. Apabila di Indonesia ada puluhan kasus, maka di tingkat global sepanjang tahun 2020 tercatat 959 kasus polio yang diakibatkan vaksin,” imbuhnya.
Menurutnya, penting dicatat lazimnya persoalan klinis terjadi dikarenakan persoalan nonklinis sebagai determinan sosial.
“Apabila ditelisik,sistem kehidupan kapitalisme adalah aspek nonklinis fundamental pada peristiwa KLB baru-baru ini. Terlihat dari tiga faktor utama penyebab KLB polio. Pertama, keberadaan virus polio dari vaksin (Circulating Vaccine-Derived Polioviruses- cVDPV), khususnya cVDPV tipe 2 (cVDPV), akibat agenda politik kesehatan kapitalisme,” jelasnya.
Agenda dimaksud, ucapnya, yakni program preventif klinis vaksinasi Oral Polio Vaccine (OPV) yang diaruskan secara global beberapa dekade terakhir. Sementara itu, lanjutnya, politik kesehatan kapitalisme merupakan perkara yang menyatu dengan sistem kehidupan sekularisme.
“Kedua, sarana penularan virus polio melalui rute fekal-oral. Berupa air atau makanan yang terkontaminasi dan bisa dengan perantara lalat, yakni sanitasi yang buruk dan kehidupan masyarakat yang jauh dari pola hidup bersih lagi sehat. Ini buah pahit politik pembangunan kapitalisme, khususnya sistem ekonomi dan sistem politik yang kapitalistik, yang menjadikan manusia sebagai objek bisnis,” paparnya.
Buruknya sanitasi, nilainya, benar-benar membebani kehidupan ratusan juta penduduk negeri ini.Hal ini, ucapnya, sebagaimana ditunjukan oleh Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2020.
“Ada 7 dari 10 rumah tangga Indonesia mengonsumsi air minum terkontaminasi bakteri Escherichia coli (E-coli) yang artinya juga terkontaminasi kuman lain termasuk polio. Diakui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional bahwa capaian sanitasi aman Indonesia masih sangat rendah, yakni 7% pada 2020,” bebernya.
Ia menambahkan, jika didekati dengan angka kemiskinan berdasarkan standar bank dunia, ada 168 juta jiwa penduduk miskin termasuk anak.
“Ketiga, imunitas rapuh adalah konsekuensi karakter perusak sistem kehidupan sekularisme. Tampak dari keberadaan sejumlah persoalan yang cederung semakin parah dari waktu ke waktu. Berupa kelahiran prematur yang mencapai 14%, tidak sampai setengah anak Indonesia diberi ASI, buruknya pola asuh, polutan beracun yang mencemari lingkungan, dan jutaan anak pengidap kekurangan mikro nutrien,” kritiknya.
Semua aspek tersebut, terangnya, buah pahit penerapan sistem kehidupan kapitalisme,khususnya sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik demokrasi yang menjadikan manusia sebagai objek bisnis dan capaian materi yang menjadi inti pembangunan.
“Artinya, KLB polio ini haruslah dimaknai sebagai alarm bahwa kapitalisme merupakan ancaman bagi negeri ni, di samping sebagai bukti kelalaian negara yang seharusnya berada di garda terdepan dalam pencegahan perkara yang membahayakan kesehatan dan kehidupan masyarakat karena buruknya pengurusan mereka dalam memenuhi hajat hidup masyarakat,” simpulnya.
Islam
Atas semua masalah di atas, Rini sangat yakin, kehadiran Islam dengansejumlah prinsip cemerlangnya sebagai satu-satunya sistem kehidupan yang bersifat penyejahtera menemukan relevansinya.
“Politik kesehatan Islam pada aspek pencegahan penyakit hanya akan memanfaatkan teknologi kesehatan yang dipastikan tidak menciderai kesehatan siapa pun meski hanya satu orang. Baik selama proses riset dan pembuatan teknologi, maupun saat pemanfaatan,” ungkapnya.
Ini, jelasnya, ditegaskan Rasulullah saw., ”Tidak boleh membahayakan dan dibahayakan di dalam Islam.”
“Negara haruslah berada di garda terdepan dalam perkara ini, melalui keberadaannnya sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam mewujudkan hingga puncaknya sejumlah tujuan dari keberadaan masyarakat Islam, yaitu, menjaga jiwa, harta, keturunan, kemuliaan insan, agama, keamanan, dan keberadaan negara,” bebernya.
Ia menambahkan, pada saat bersamaan setiap individu masyarakat dalam aktivitas kehidupannya senatiasa terikat dengan hukum syarak, termasuk para penguasa ketika mengurusi persoalan kehidupan masyarakat.
“Perkara ini dilakukan untuk merah rida Allah Swt. sebagai kebahagiaan tertinggi yang diupayakan dengan penuh kesungguhan oleh setiap muslim. Hal ini meniscayakan terwujudnya suasana kehidupan baru yang dilingkupi ketakwaan, dan terwujudnya kesejahteraan merupkan keniscayaan,” tandasnya.
Itu semua, tegasnya, merupakan kunci rahasia tersolusinya persoalan kelahiran prematur, buruknya pemberian ASI dan pola asuh, lingkungan hidup yang sehat karena terpenuhinya kebutuhan fisik, dari pangan yang sehat hingga sanitasi dan keamanan.
“Demikian juga kebutuhan nonfisik, seiring hadirnya nilai-nilai serasi yang dibutuhkan dalam kehidupan setiap manusia, yaitu nilai materi, spritual, kemanusiaan, dan moral. Sebagai kunci rahasia terwujudnya imunitas anak yang tangguh, di samping berakhirnya segala sarana penularan penyakit dan faktor pemicunya,” terangnya.
Terakhir Rini menekankan, hanya dengan kehadiran penguasa yang berdedikasi bagi Islam, persoalan KLB polio dan berbagai persoalan lain yang berakar dari sistem kapitalisme akan berakhir.
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang beriman,” pungkasnya menyitir Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 82. [MNews/IA]
