Muslimah News, NASIONAL — Berdasarkan pengamatan langsung ahli lingkungan dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Dr. Elviriadi, ada 171 sungai yang hilang akibat korporasi sawit nakal yang menanam sawit di sungai.
“Tidak hanya itu, para pengusaha sawit itu juga langsung membuang limbahnya ke alam. Mereka melanggar pasal 66 UU Nomor 39 yang mengatur harus ada enam kolam unit pengolahan untuk sawit sebelum dibuang ke alam,” terangnya dalam acara Bincang Perubahan: “Inilah Sebab Kerusakan Lingkungan” di kanal Bincang Perubahan, Senin (13-11-2023).
Kerusakan Masif
Hal ini pun, menurutnya, menimbulkan kerusakan lingkungan secara masif, terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
“Alangkah mirisnya hati kita sebagai rakyat Indonesia melihat ketidakpatuhan korporasi, juga sebagian kecil masyarakat yang serakah menyebabkan aturan ditabrak begitu rupa. Dampaknya, selain kerusakan lingkungan, juga konflik agraria,” jelasnya.
Ia mencontohkan, HGU untuk perkebunan sawit di wilayah Sumatra yang tidak ada pengecekan lapangan sehingga ditemukan banyak sekali pemanfaatan hutan melebihi yang dimintakan izin.
“Sebenarnya dengan izin yang ada saja sudah tidak proporsional bagi Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT) hutan tropis Indonesia, terutama Sumatera dan Kalimantan. Hutan itu tidak mampu lagi menanggung bebannya,” urainya.
Daya tampung misalnya, ia melanjutkan, limbah sawit langsung dibuang di alam, padahal pasal 66 UU Nomor 39 mengatur harus ada 6 kolam unit pengolahan untuk sawit sebelum dibuang ke alam.
“Tapi itu tidak dijalankan. Saya ke lapangan tengok limbah dibuang ke sungai-sungai, ke anak sungai kemudian terjadi pendangkalan sungai, menanam sawit sampai ke tebing sungai. Bahkan sebagian korporasi menanam sawit di sungai sehingga sungai hilang,” ungkapnya prihatin.
Oleh karena itu, menurutnya, meski regulasi bagus, tetapi kepatuhan pelaku usaha sangat lemah, ditambah lagi lemahnya sanksi, baik itu sanksi administrasi, pidana, maupun perdata, membuat lingkungan makin rusak.
Ia menyesalkan, kepala negara yang semestinya bertanggung jawab menjaga kelestarian alam justru tidak peduli.
“Saya tidak melihat Presiden memiliki endapan kegelisahan dalam kalbunya sehingga meluap menjadi statement. Ia blank enggak ngerti soal ekonomi pembangunan, kelestarian alam, pertanian, jadi tidak muncul luapan endapan komitmen ideologis menjadi ucapan pidato kenegaraan,” sesalnya.
Islam
Elvi, panggilan akrabnya, lalu membandingkannya dengan Islam. “Dalam konteks lingkungan, Islam menyuruh umatnya terutama kepada pemimpin untuk berlaku adil dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi serta menjaga keseimbangan alam. Ini salah satu dari maqasyid syariah atau tujuan diturunkannya Islam,” bebernya.
Islam, lanjutnya, memerintahkan agar rakyat dan para pemimpin memperhatikan ekologi karena di atas bumi itulah manusia menggantungkan kehidupannya.
“Islam sangat memperhatikan bagaimana sebuah pembangunan masyarakat, tata cara kita membina sebuah masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karenanya, dikatakan masuk Islamlah secara kafah,” jelasnya.
Terakhir, ia menegaskan bahwa kekayaan alam yang melimpah di negeri ini tidak dikelola dengan baik, tetapi justru dieksploitasi besar-besaran menimbulkan bencana di mana-mana.
“Bumi yang satu ini walaupun sudah agak rusak-rusak masih bisa menghidupi untuk semua manusia di atasnya, tetapi bumi tidak bisa menghidupi satu manusia yang serakah,” pungkasnya. [MNews/IA]
