[Kabar] Pengamat: Perlu Memahamkan Penderitaan Palestina kepada Anak Sesuai Syariat

[Kabar] Pengamat: Perlu Memahamkan Penderitaan Palestina kepada Anak Sesuai Syariat

Muslimah News, INTERNASIONAL— Sebanyak 3.195 anak-anak di Gaza tewas akibat gempuran militer Zionis Yahudi selama tiga pekan terakhir.

Selain 3.195 anak yang tewas di Gaza, ada 33 anak tewas di Tepi Barat, dan 29 anak Yahudi. Total korban anak yang tewas selama perang adalah 3.257 anak.

Perang Hamas-Zionis Yahudi telah menewaskan ribuan anak-anak tidak bersalah di Gaza. Duta Besar (Dubes) Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengatakan bahwa satu anak Palestina terbunuh setiap lima menit di Gaza akibat serangan udara Zionis Yahudi.

Sesuai Syariat

Melihat korban anak-anak yang begitu besar dalam peperangan, pengamat politik dan generasi Endiyah Puji Tristanti menekankan pentingnya memahamkan kepada anak-anak tentang apa yang terjadi di Palestina sesuai syariat.

“Perlu memahamkan penderitaan Palestina pada anak dalam rangka membangun pemahaman yang benar kepada mereka sesuai perspektif syariat,” tuturnya kepada MNews, Kamis (9-11-2023).

Ia lalu menguraikan cara menanamkan pemahaman yang benar kepada anak tentang apa yang terjadi di Palestina.

“Pertama, yang terjadi di di Gaza bukan peperangan yang seimbang, tetapi terjadi penjajahan yang mengorbankan anak-anak sehingga penjajahanlah yang harus dibenci bukan peperangannya, lalu penjajahnya diusir dari negeri jajahan,” jelasnya.

Kedua, sebutnya, perang bukan selalu perkara buruk sehingga harus dijauhi. Perang itu membutuhkan pengaturan syariat, seperti tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan, lansia, merusak fasilitas umum, rumah sakit, pepohonan dan hewan ternak.

“Kemungkaran dan kemaksiatan kadang juga butuh untuk diperangi secara militer agar tidak semakin meluas. Misalnya, kelompok pembegal yang selalu mengganggu masyarakat, orang-orang yang mengingkari kewajiban zakat, dan siapa saja kekuatan yang menghalangi manusia mendapatkan dakwah Islam,” imbuhnya.

Ketiga, jelasnya, anak perlu memahami bahwa dalam Islam ada syariat dakwah dan jihad sebagai kewajiban dan kemuliaan, bukan perkara yang harus dibenci, bahkan harus dicintai seperti mencintai orang tua.

“Tidak perlu takut dengan peperangan melawan musuh Allah dan Rasul-Nya. Pahala mati syahid adalah cita-cita setiap muslim. Surga adalah tempat terbaik bagi orang-orang yang beriman,” jelasnya.

Keempat, lanjutnya, peduli dengan kondisi Palestina menunjukkan karakter umat Islam sebagai umat yang satu, saling menyayangi dan saling membantu. Hal ini, ucapnya, untuk menanamkan tanggung jawab kepada anak dalam mewujudkan kesatuan umat Islam dan penjagaan terhadap Islam dan umat Islam.

“Kelima, memikirkan keselamatan dan keamanan diri sendiri dan bangsanya adalah sikap egoisme dan individualisme yang tidak disukai oleh Allah Taala. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Seorang muslim yang individualis dan tidak peduli dengan nasib sesama muslim akan diragukan keimanannya oleh Rasulullah saw.,” bebernya.

Jadi, simpulnya, justru tanggung jawab orang tua dan masyarakat itu membangun pemahaman generasi akan tanggung jawab mereka dalam dakwah dan jihad.

“Sejak dini anak-anak perlu memahami bahwa berperan dalam kewajiban dakwah dan jihad itu keutamaan dalam syariat. Mereka perlu belajar tentang [hal] ini agar menjadi sosok penjaga Islam yang tepercaya,” tegasnya.

Mewaspadai

Endiyah mengajak untuk mewaspadai upaya halus menjauhkan generasi muslim dari karakter generasi pejuang dan pembebas.

“Aneh jika ada sebagian orang mengkhawatirkan kondisi mental dan psikologis anak-anak di luar Gaza, bukan mengkhawatirkan kondisi anak-anak Gaza. Sibuk memberikan pendidikan parenting soal cara bijak menjelaskan masalah perang kepada anak-anak. Mereka menginginkan anak-anak berpersepsi bahwa perang termasuk jihad itu negatif dan harus dihindari,” sesalnya.

Endiyah melanjutkan, munculnya kekhawatiran para psikolog, LSM feminis, dan pegiat hak-hak anak terhadap pikiran dan perasaan yang terbentuk pada anak-anak setelah melihat berita seputar Palestina, menjadi kejam, penuh kebencian, dan gampang tawuran. “Ini kekhawatiran yang berlebihan dan tidak pantas,” cetusnya.

“Mereka mulai mengelola isu dengan topik pendidikan dan perlindungan anak dari kekerasan, serta ujaran kebencian. Mereka berusaha menanamkan terminologi cinta perdamaian pada anak dengan perspektif HAM, bukan perspektif syariat. Hal ini patut diwaspadai sebab dapat menguatkan gagasan moderasi beragama pada anak yang memuat nilai-nilai sekularisme,” tandasnya.

Memang, ia menerangkan, anak-anak, bahkan balita sebagai digital native sudah terbiasa berinteraksi dengan berbagai produk digital dan sosial media.

“Anak-anak menjadi penikmat produk media dan sosial media, tidak terkecuali soal Palestina. Video, meme, foto-foto, musik, lagu bertebaran berkisah tentang nasib dan kondisi anak-anak dan bayi-bayi Palestina. Semua terakumulasi sampai mampu mengusik naluri kemanusiaan anak-anak,” ulasnya.

Akses informasi yang makin terbuka, sambungnya, memudahkan anak-anak memperoleh kabar terkait perang di Gaza.

“Mereka terus mengindera, baik visual maupun audio visual. Ini tentu memberikan pengaruh bagi anak-anak, dan pengaruhnya tidak tepat jika dianggap sebagai pengaruh buruk,” tambahnya.

Tidak Seimbang

Endiyah menilai, apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang yang seimbang (asymmetric warfare).

“Pihak Zionis Yahudi didukung kekuatan politik dan ekonomi negara-negara adidaya (baca: Barat), baik langsung maupun tidak langsung. Sementara itu, Palestina meski mendapat dukungan publik global secara opini, tetapi tidak ada kekuatan politik dan militer negara lain yang secara riil menyokongnya,” argumennya.

Ia lalu membenarkan pernyataan Jubir UNICEF James Elder bahwa Gaza telah menjadi kuburan anak-anak dan neraka bagi semua orang.

“Mereka sekarat bukan sebatas karena serangan udara, tetapi juga karena kurangnya perawatan medis.Ini kejahatan perang! Omong kosong hak-hak kemanusiaan yang dijanjikan demokrasi,” kritiknya.

Tentara Zionis Yahudi, ucapnya, memperluas serangan ke Jalur Gaza dan serangan udara berulang kali yang menargetkan rumah sakit, tempat tinggal, masjid, dan gereja.

“Padahal, sudah jelas menurut Hukum Humaniter Internasional (HHI) atau hukum perang (laws of war) bahwa rumah sakit, tempat ibadah, tempat tinggal, fasilitas vital dan korban perang tidak boleh menjadi target serangan,” terangnya.

Zionis Yahudi, nilainya, selalu bermain playing victim. “Namun, peranan publik dan sosial media dalam membangun opini global atas berbagai kebrutalan dan agresi di Gaza secara real time, akurat, dan jujur telah mampu menembus batas kontrol opini yang dilakukan oleh entitas negara maupun korporasi global. Sampai saat ini perang opini publik terus berjalan antara kekuatan umat dan kekuatan negara atau korporasi,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

2 thoughts on “[Kabar] Pengamat: Perlu Memahamkan Penderitaan Palestina kepada Anak Sesuai Syariat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *