[Kabar] UIY: Yang Layak Disebut Teroris Adalah Israel, Bukan Palestina

[Kabar] UIY: Yang Layak Disebut Teroris Adalah Israel, Bukan Palestina

Muslimah News, INTERNASIONAL — Menyoal pelabelan teroris yang disematkan pada pejuang Palestina, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, yang lebih layak disebut teroris adalah Israel.

“Kenapa Israel? Karena definisi teroris adalah individu, kelompok, atau bahkan negara yang dalam meraih tujuannya menggunakan kekerasan. Boleh diperiksa, siapa yang paling banyak melakukan kekerasan? Pasti yang pertama adalah Amerika, kemudian Israel,” ungkapnya dalam Focus to the Point: “Bebaskan P4l3stina dengan J1h4d dan Khilafah” di UIY Official, Selasa (10-10-2023).

Menurutnya, palabelan terhadap pejuang Palestina ini framing sekaligus black campign. “Dunia makin tidak adil. Bagaimana bisa kelompok yang tengah berjuang untuk merebut haknya kembali, yakni tanah Palestina yang dikuasai paksa oleh entitas penjajah Yahudi dikatakan sebagai teroris,” kritiknya.

Apalagi, imbuhnya, kalau kita membaca daftar Foreign Terrorist Organization di situs US Departement of State, kemudian diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB, salah satunya disebut Hamas, termasuk Syekh Ahmad Yasin. Bahkan, ujarnya, kalau secara keseluruhan, boleh disebut lebih dari 95%, karena hampir 100% , semua itu adalah individu dan kelompok muslim.

“Jadi, coba kita pikirkan dengan hati dan pikiran yang jernih dan objektif. Bagaimana bisa, Hamas yang berjuang untuk, sekali lagi, merebut haknya, yakni tanah Palestina dari penjajahan itu disebut sebagai teroris, sedangkan yang merebut wilayah itu, yang melakukan serangan tanpa henti tidak disebut apa-apa? Ini satu ketidakadilan luar biasa yang ditunjukkan,“ cetusnya.

Ia menyatakan, label ini sangat penting untuk dipersoalkan karena begitu sebuah organisasi disebut atau dilabeli sebagai teroris, maka segala yang dilakukan menjadi salah, termasuk sebenar apa pun tindakan, seperti yang dilakukan oleh Hamas saat ini.

“Hamas boleh kita sebut sebagai frontliner atau garda paling depan yang mewujudkan hati, pikiran, dan aspirasi umat Islam dunia dalam hal Palestina. Namun, sebesar apa pun yang mereka lakukan akan dianggap sebagai satu kesalahan. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk mendukung Hamas, sekaligus mempersoalkan label teroris,” ucapnya.

Pelanggar HAM

Apalagi, bebernya, Komisi HAM internasional mengatakan pelaku pelanggar HAM yang melakukan kekerasan atas nama apa pun dan untuk kepentingan apa pun, nomor satunya Amerika berikutnya Israel. “Tidak terhitung berapa okupasi yang dilakukan terhadap wilayah-wilayah pendudukan yang terus bertambah sampai ini hari. Tidak terhitung juga serangan terhadap warga Palestina yang sudah tidak berdaya di kamp Jenin, pembantaian Sabra-Shatila, dan lainnya, termasuk dalam memperlakukan wilayah Gaza,” ungkapnya..

Ia menggambarkan Gaza sekarang merupakan satu wilayah sempit di bagian selatan dan barat daya Israel yang panjangnya kurang lebih hanya 41 km, lebarnya 6—12 km dan dikelilingi oleh pagar setinggi 23 m seperti penjara besar dengan tujuh pintu keluar, enam di antaranya ke wilayah Israel dan satu ke wilayah Mesir, yakni pintu Rafah.

“Logikanya, pintu Rafah ini bisa dibuka dengan mudah, tetapi ini hanya mungkin bisa dibuka dengan persetujuan Israel dan Washington. Apakah dunia tidak melihat tindakan Israel ini? Warga Gaza tidak boleh melaut, padahal di sana ada pantai. Hanya boleh sekian puluh meter, kalau lebih dari itu akan berhadapan dengan angkatan laut Israel. Bukankah ini kezaliman luar biasa?” tanyanya lugas.

Artinya, ia menegaskan, sematan teroris itu ada pada Israel, bukan pada mereka yang berjuang. “Kalau logikanya yang berjuang merebut wilayah yang diduduki oleh penjajah atau yang melawan penjajah itu teroris, maka para pejuang kemerdekaan Indonesia, semuanya teroris. Ini kan gak masuk akal,” sindirnya.

Oleh karena itu, ujarnya, ini harus dilawan. “Betul ada perang fisik di medan perang, tetapi juga ada perang opini, perang media sosial, perang logika yang akan sangat memengaruhi penilaian publik dunia terhadap apa yang terjadi di Palestina ini hari. Apalagi, Israel sedang membangun kekuatan di titik paling depan untuk terus memperluas wilayah dalam rangka mewujudkan Israel Raya melalui pendudukan pemukiman warga Israel dengan mengusir warga Palestina. Mimpi Israel Raya ini tidak pernah hilang, yakni membentang dari seluruh Palestina sampai ke Sungai Tigris, bahkan menginginkan masuk ke wilayah Mesir di Gurun Sinai,” urainya.

Mitos

Kemudian tentang mitos Israel tidak bisa dikalahkan, UIY mengulas, ini sengaja dibangun untuk menggentarkan musuh seolah-olah lawan begitu perkasa.

“Namun, serangan pejuang Palestina membuktikan mitos tersebut tidak benar. Oleh karenanya, seorang pejuang tidak boleh ada rasa takut dan tidak boleh terbenam pada mitos, bahkan mereka (baca: Israel) sebenarnya kaum penakut yang hanya berani ketika berhadapan dengan warga sipil tidak bersenjata,” jelasnya..

Lebih lanjut, UIY mempersoalkan kecaman AS terhadap Hamas. “Bagaimana dengan yang dilakukan AS sendiri  terhadap Irak dan Afganistan. Atas dasar apa? Kalau Hamas masih bisa menunjukkan bahwa ada sekitar 33 resolusi Dewan Keamanan PBB yang tidak dipatuhi oleh Israel. Artinya, dunia internasional sebenarnya sudah berhak menghukum Israel atas nama resolusi itu, sedangkan AS tidak punya dasar sama sekali,” tukasnya.

Walaupun faktanya, ia membeberkan, 33 resolusi itu diabaikan, PBB tidak bertindak apa pun seperti “macan ompong” dalam menyelesaikan persoalan Palestina secara adil

Jadi, tegasnya, dunia Islam punya dasar yang sangat kukuh untuk mengecam tindakan Israel menduduki wilayah Palestina, termasuk mengecam dukungan AS terhadap Israel.

“Tapi ini hari, alih-alih dunia Islam melakukannya, yang ada justru satu per satu sedang membangun hubungan diplomatik dengan Israel. Sebelumnya ada Uni Emirat Arab, bahkan sekarang diberitakan Arab Saudi sedang menuju ke sana juga. Yang kalau sampai terjadi, ini suatu hal yang sangat tragis,” cetusnya.

Seruan Aneh

Selanjutnya terkait narasi ‘persoalan Palestina merupakan persoalan kemanusiaan dan jangan membawa slogan agama’, UIY menyatakan, ini seruan aneh.

“Ketika seorang muslim ditindas atau dizalimi, Al-Qur’an berpesan, ‘Jangan engkau menzalimi, jangan mau engkau dizalimi.’ Kalau sekarang kita melihat ada orang yang dizalimi, lalu apa pesan kita sebagai seorang muslim yang punya ketentuan seperti itu? Pasti pesan agama. Kalau kamu dizalimi, harus dilawan. Kalau kamu enggak mampu, aku bantu. Ini semangatnya adalah agama dengan perintah jihad fi sabilillah,” paparnya.

Ia menilai, di balik seruan tadi, jelas ada pengaruh sekularisme yang luar biasa, bukan hanya pada aspek-aspek hukum, ekonomi, politik, bahkan pada aspek-aspek agama yang nyata-nyata pernah kita alami pun berusaha disingkirkan. “Misalnya, penjajahan yang kita pahami rasanya, kemudian sampai keluar fatwa Resolusi Jihad,” katanya.

Bahkan, tambahnya, konstitusi mengatakan penjajahan di muka bumi harus dihapuskan. “Itu karena semangat agama. Kalau tidak menggunakan agama, terus menggunakan apa? Keberanian yang membuncah begitu rupa dari para pahlawan dahulu saat melawan Belanda karena didorong semangat agama. Jihad itu pesan agama. Tidak ada dorongan luar biasa untuk berani melawan penjajahan, kecuali jihad. Itu sesuai tuntunan Allah. Kalau ada risiko di dalamnya sampai kematian, maka disebut mati syahid. Nabi mengatakan mati syahid itu sebagai kematian dengan derajat paling tinggi, dijamin masuk surga. Bodoh sekali kalau sekarang ini ada yang menyerukan untuk meninggalkan pesan-pesan agama dan jangan dikaitkan dengan konflik-konflik berlatar belakang penjajahan,” jelasnya.

Dua Hal

Menyikapi dukungan AS dan kekuatan global Barat kepada Israel, UIY menguraikan dua hal. Pertama, ujarnya,  kita harus tegas mengatakan bahwa persoalan Palestina bukan persoalan perbatasan, tetapi persoalan eksistensi entitas penjajah Yahudi yang mengokupasi tanah Palestina yang diberkati Allah.

“Tanah ini sesungguhnya tanah kharaj milik kaum muslim. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah itu kepada penjajah. Ini persoalan yang harus dipahami umat Islam. Oleh karena itu, perjuangan untuk merebut kembali tanah Palestina harus terus digaungkan. Sebagaimana yang terlihat sekarang ini, pejuang Palestina tidak pernah menyerah dalam kondisi apa pun. Bahkan kemudian melakukan serangan untuk menunjukkan bahwa tidak ada ketertundukan dan perlawanan masih akan terus berlanjut,” tukasnya..

Kedua, sebutnya, umat Islam harus berpikir agar upaya merebut kembali tanah Palestina bisa berhasil. “Salah satu faktor yang paling penting adalah adanya kekuatan dari umat Islam sendiri. Kita tidak mungkin mengharapkan kekuatan lain. Tidak mungkin mengharapkan Liga Arab, PBB saja sudah tidak bisa,” cetusnya.

Lalu, ucapnya, kapan umat Islam memiliki kekuatan? “Ketika umat Islam itu bersatu. Bagaimana bisa umat Islam yang ini hari jumlahnya di seluruh jagat hampir dua miliar bisa kalah tidak berdaya menghadapi entitas penjajah Yahudi yang penduduknya hanya sekitar tujuh juta? Itu pasti karena kita tidak bersatu. Sekuat apa pun mereka kalau kita bersatu, masih bisa kita kalahkan. Ada dua syarat yang harus terpenuhi sekaligus untuk bisa bersatu. Ada entitas politik yang menyatukan kita dan di dalamnya ada pemimpin, yakni Khilafah Islam dengan khalifah sebagai pemimpinnya,” ulasnya..

Belum lagi, imbuhnya, perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islam, dalam kitab At-Taghyir, disebut sebagai persoalan hidup matinya umat, termasuk persoalan berhasil tidaknya merebut kembali tanah Palestina.

“Jadi, betapa pentingnya perjuangan ke arah sana, bukan hanya soal Palestina, juga soal-soal yang lain karena kita menghadapi pula penjajahan di berbagai tempat, seperti di Rohingya, Uighur di Xinjiang, dan lainnya,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, itu semua menunjukkan umat Islam sekarang dalam keadaan yang sangat lemah sehingga tidak mampu menghadapi kezaliman secara sepadan.

“Oleh karenanya, mestinya ini mendorong kita untuk lebih bersemangat, lebih sungguh-sungguh bagi terwujudnya kembali persatuan umat Islam sehingga, insyaallah, kita akan memiliki kekuatan yang diperlukan secara cukup untuk bisa mengatasi semua persoalan ini,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Share

2 thoughts on “[Kabar] UIY: Yang Layak Disebut Teroris Adalah Israel, Bukan Palestina”

  1. Sedih juga mendengar kalimat temen saya bahwa “bangsa Israel lagi kena bencana”. Allahu Akbar,, sejatinya Muslim Palestina dan umat Islamlah yang lagi kena bencana penjajahan dari Entitas Yahudi Israel. Butuh perjuangan yang sungguh-sungguh meraih pertolongan Allah dengan tegaknya Khilafah Islamiyyah. Agar perlindungan benar-benar dirasakan Muslim seluruhnya.

  2. Masya Allah, luar biasa sekali penjabaran guru kita “UIY” semoga Allah merahmati beliau, aamiin. Sekarang sebagai muslim kita harusnya: belajar dan menyampaikan Islam agar dapat lakukan perang opini utk membuka seluruh “mata” umat Islam bahwa ISRAEL ADALAH TERORIS!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *