Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Muslimah News, OPINI — Kelaparan di Kabupaten Puncak, tepatnya Distrik Agandugume dan Lambewi, Provinsi Papua Tengah, memakan korban jiwa 6 warga, yakni 5 dewasa dan 1 bayi berusia 6 bulan. Para korban meninggal usai mengalami lemas, diare, panas dalam, dan sakit kepala akibat tidak ada makanan sebagai dampak musim kemarau. Kejadian ini juga berdampak pada sedikitnya 7.500 orang yang gagal panen akibat kekeringan yang telah terjadi selama dua bulan terakhir.
Akibat Perubahan Cuaca?
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Perlindungan Korban Bencana Alam Kementerian Sosial (Kemensos) Adrianus Alla menyatakan bahwa warga di kedua distrik tersebut mengalami gagal panen akibat kekeringan sebagai dampak El Nino sejak awal Juni 2023. Fenomena hujan es yang terjadi pada awal Juni menyebabkan tanaman warga, yaitu umbi yang merupakan makanan pokok mereka menjadi layu dan busuk. Setelah itu, di daerah tersebut tidak turun hujan sehingga tanaman warga mengalami kekeringan.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeklaim bahwa sejak Maret 2023 pihaknya sudah mengingatkan Pemda setempat di daerah terdampak akan adanya musim kemarau ini. Tujuannya agar Pemda bisa mengantisipasi dampak terjadinya kekeringan.
Berkelindan, Kepala Stasiun Klimatologi Jayapura Sulaiman bahkan menjelaskan, kondisi musim kemarau dan kekeringan seperti ini diperkirakan akan terjadi hingga September 2023 sebagai dampak intensitas hujan rendah. Tidak hanya itu, menurutnya, di tengah musim kemarau ini juga terjadi perubahan suhu yang drastis. Suhu panas terjadi di siang hari, sedangkan pada malam harinya suhu bisa turun hingga di bawah 10 derajat celsius.
Simalakama KKB
Ironisnya, distribusi bantuan bahan makanan kepada warga pun lambat tersebab daerah tersebut hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki dari Distrik Sinak. Cara lainnya adalah dengan pesawat. Namun, pihak penyalur bantuan mengaku kesulitan mendapatkan layanan penerbangan lantaran faktor ancaman kelompok kriminal bersenjata (KKB), terlebih pascaperistiwa penyanderaan pilot Susi Air. Sebagaimana diketahui, wilayah itu masuk dalam kawasan perlintasan KKB.
Meski demikian, bantuan akhirnya bisa diantarkan oleh Bupati Puncak Willem Wandik dengan pesawat sewaan, yakni pesawat Reven Global Air Transport PK RVV yang take off dari Bandara Mozes Kilangin Timika menuju Bandara Agandume.
Willem menegaskan, jika memperhatikan dampak bencana kekeringan yang terus terjadi, kemungkinan bencana akan berkepanjangan. Untuk itu, dirinya selaku Bupati Puncak bersama dengan masyarakat Distrik Agandugume dan Lambewi, serta dukungan TNI/Polri, menyatakan jaminan keamanan dan keselamatan kepada pilot maupun pesawat yang melakukan pelayanan angkutan bantuan bencana kekeringan langsung ke Bandara Agandugume dengan segala konsekuensi menjadi tanggung jawab Bupati Puncak.
Sengsara di Atas Tanah Kaya SDA
Lebih menyedihkan lagi, bencana kelaparan Papua itu terjadi di atas tanah yang kaya SDA. Meski perubahan cuaca dan musim boleh disebut sebagai katalisator terjadinya kelaparan, tetapi krisis Papua toh sejatinya sudah terjadi sejak lama. Penangkapan Lukas Enembe atas dugaan korupsi, misalnya, hanyalah salah satu dari puncak fenomena gunung es adanya krisis tersebut. Ini masih belum pejabat yang lain. Pasalnya, upaya penyejahteraan Pemerintah pusat terhadap Papua, nyatanya memang tidak baru-baru ini saja.
Demikian halnya keberadaan Freeport sebagai perusahaan tambang emas yang sudah hampir setengah abad berada di Papua, ternyata memang tidak berdampak apa-apa bagi kesejahteraan masyarakat Papua seluruhnya. Freeport bahkan seolah berkepentingan memelihara konflik sosial agar leluasa mengeruk SDA Papua tanpa ada perlawanan dari warga setempat. Belum lagi ancaman KKB pada warga kendati sesama etnis Papua. Juga kemiskinan, krisis pendidikan, kesehatan, hingga hancurnya generasi akibat narkoba, minuman keras, liberalisasi seksual, dan tingginya angka HIV/AIDS di sana.
Asal tahu saja, jika hendak kita ungkap kekayaan SDA Papua, secuil di antaranya meliputi emas, minyak, gas bumi, tembaga, serta perak. Sekadar data, Kementerian ESDM mencatat (2020), Papua memiliki tambang emas terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 229.893,75 ha atau senilai 52% dari total cadangan bijih emas Indonesia. Papua juga diketahui kaya akan tembaga. Berdasarkan data Freeport (2021), Tambang Grasberg memproduksi 1,34 miliar pon tembaga. Selanjutnya perak, berdasarkan data Kementerian ESDM (2020), Papua memiliki 1.76 juta ton biji perak dan 1.875 juta ton biji untuk cadangan perak.
Berikutnya, sumber daya minyak dan gas bumi (migas) di area Warim, Papua. Menurut data Kementerian ESDM, area tersebut menyimpan potensi minyak sebesar 25,968 miliar barel dengan nilai US$ 2,06 triliun atau Rp 30.646 triliun (mengacu harga minyak mentah Indonesia per April 2023). Area ini juga menyimpan potensi gas berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan Blok Masela (yang besarnya hanya 10,73 TCf), yakni sebesar 47,37 triliun kaki kubik (TCf).
Sayangnya, melimpahnya SDA Papua itu sudah menjadi target asing. Andai kata ada yang dikelola oleh pemerintah, tampaknya tidak akan jauh dari jejaring oligarki. Tidak pelak, warga pun lagi-lagi hanya bisa gigit jari, bahkan harus laksana tikus yang mati di lumbung padi.
Politik Penyejahteraan yang Sahih
Sungguh terlalu naif jika cuaca menjadi kambing hitam terjadinya kelaparan di Papua. Beragam faktor yang bisa menjadikan Papua lepas dari krisis nyatanya bersumber dari keserakahan kaum kapitalis di pulau kaya SDA itu.
Firman Allah Taala, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96).
Kapitalisme sering kali menjadikan faktor kelangkaan barang sebagai dalih saat terjadi krisis kesejahteraan, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah buruknya distribusi ekonomi/kekayaan. Oleh sebab itu, kelaparan di Papua menegaskan bahwa kapitalisme sudah saatnya dibuang dan diganti dengan sistem yang lebih baik sekaligus sahih, yakni sistem Islam dalam naungan Khilafah.
Terjadinya kelaparan padahal tanahnya kaya SDA seperti Papua, jelas bukan sekadar soal perubahan cuaca, apalagi kendala akan sulitnya medan saat penyaluran bantuan. Sebaliknya, justru ada faktor absennya penguasa selama ini untuk berupaya keras mencukupi kebutuhan rakyatnya, termasuk antisipasi terhadap perubahan cuaca maupun potensi bencana alam lainnya. Terlebih problematik Papua juga begitu kompleks sehingga tidak cukup penanggulangan kelaparan sekadar pada penyaluran bantuan makanan.
Ini sungguh berbeda dengan cara pandang Khilafah bahwa kelaparan adalah alarm keras yang semestinya jangan sampai berbunyi, apalagi timbul korban jiwa. Munculnya gejala kelangkaan barang saja sudah membuat Khilafah harus mengoreksi total keberlangsungan distribusi ekonominya agar kelangkaan itu jangan sampai terjadi, alih-alih berlarut-larut sampai terjadi kelaparan.
Khilafah wajib menjaga keberlangsungan dan keseimbangan distribusi ekonomi serta menjamin agar semua individu rakyat bisa makan dengan porsi cukup tanpa ancaman kelaparan. Allah Taala berfirman, “… supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS Al-Hasyr [59]: 7).
Khalifah Umar ra. Memanggul Gandum
Hendaklah kisah Khalifah Umar bin Khaththab ra. Ini menjadi teladan. Pada suatu malam, Khalifah Umar berkeliling untuk melihat kondisi rakyatnya. Sampailah Umar di sebuah gubuk yang darinya Umar mendengar suara tangis anak kecil. Di dalamnya tampak seorang ibu tengah duduk di depan sebuah tungku seolah sedang memasak. Ibu ini sedang mengaduk panci, sambil sesekali membujuk anaknya untuk tidur.
Umar mendekat, mengucapkan salam, dan bertanya tentang apa yang sedang dimasak si ibu. Si ibu berkata bahwa anaknya menangis karena kelaparan, sedangkan ia tidak punya makanan. Ia juga mengatakan sedang memasak sebongkah batu untuk menghibur sang anak seolah-olah ibunya sedang membuat makanan. Ibu ini juga sempat melontarkan kekesalan pada sang pemimpin, “Celakalah amirulmukminin Umar bin Khaththab yang membiarkan rakyatnya kelaparan.”
Tanpa pikir panjang, Umar segera pulang dan mengambil sekarung gandum. Ia membawa sendiri karung gandum di punggungnya dan menuju ke rumah ibu itu. Pengawal yang melihat Umar membawa karung gandum, menawarkan diri untuk membantu tetapi Umar menolaknya. Umar berkata, “Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti.”
Sesampainya di rumah si ibu, Umar langsung memasakkan sebagian gandum dan setelah matang ibu dan anak tersebut dipersilakan makan sampai kenyang. Umar kemudian pamit dan berpesan agar esok harinya si ibu dan anaknya datang ke Baitulmal menemui Umar untuk mendapatkan jatah makan dari negara. Ibu ini pun berkata, “Engkau lebih baik dibanding Khalifah Umar.”
Keesokan harinya, si ibu datang ke Baitulmal. Umar menyambutnya dengan senyum bahagia. Ibu itu pun menyadari bahwa orang yang membantunya pada malam buta adalah Umar sang amirulmukminin.
Khatimah
Demikianlah semestinya visualisasi kaum muslim era modern ini terhadap kinerja pemimpin beserta sistem yang melahirkan sosoknya. Jelas, hanya dalam Khilafah akan dihasilkan sosok-sosok pemimpin sekelas Umar bin Khaththab. Beliau ra. Bukanlah sosok yang sibuk berkelit, alih-alih mencari kambing hitam saat ada rakyatnya yang kelaparan. Beliau justru langsung sadar diri akan kelalaiannya, mohon ampun kepada Allah, dan segera melakukan langkah konkret menanggulangi kesusahan rakyatnya. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]
