Muslimah News, NASIONAL — Indonesia kembali gaduh sejak muncul aksi penembakan di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/5) siang. Pelakunya berhasil dibekuk polisi. Namun, nahasnya, penembak itu pingsan dan ketika diperiksa dinyatakan meninggal.
Anehnya, pelaku penembakan tersebut ternyata sudah dua kali menyambangi kantor MUI. Menurut Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas, pelaku menemui resepsionis mengaku sebagai “wakil nabi” dan ingin bertemu ketua MUI. Namun, lanjut Anwar, pada kedatangan ke-3 justru melakukan penembakan.
Sudah Banyak Terjadi
Pengamat politik sekaligus aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah memberikan tanggapan bahwa pengakuan sebagai nabi, orang yang mendapat wahyu, atau reinkarnasi bunda Maria itu sudah banyak terjadi, bahkan sejak zaman dahulu. Iffah, begitu ia disapa, menceritakan ada Musailamah dari Yamamah atau Thulaihah dari Yaman yang mengaku nabi sepeninggal Nabi Muhammad. “Mereka semua adalah nabi palsu,” tegasnya dalam acara Mozaik Perubahan “Terduga Penembakan MUI Mengaku Nabi, Fenomena Apa Ini? ” pada Rabu (3-5-2023).
Iffah memaparkan, kasus seperti ini juga banyak di Indonesia. “Hasil penelitian Profesor Makin dari UIN Sunan Kalijaga yang menyatakan bahwa setidaknya sampai 2010-an ada 600-an orang yang mengaku nabi atau semisalnya. Apalagi, setelah orde baru berakhir Indonesia panen nabi palsu,” tuturnya.
Tidak Stabil
Iffah kembali menjelaskan keterangan dari Profesor Maki bahwa hal semacam ini sering terjadi ketika situasi politik dan ekonomi tidak stabil. “Banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan,” cetusnya.
Ia menuturkan bahwa keruwetan kondisi semacam ini memunculkan orang-orang yang mencari kesempatan menaikkan popularitas, ingin mendapat dukungan banyak orang, dan ingin ambisinya terwujud. Sehingga, “Mereka memakai jargon tertentu, seperti Musailamah yang menyatakan jika kebijakan membayar zakat itu kepada Nabi saw., maka setelah Rasulullah wafat, mengapa harus membayar zakat pada Abu Bakar?” jelasnya gamblang.
Iffah kemudian menceritakan peristiwa di Indonesia. “Pada 2000-an muncul Lia Eden, mengaku sebagai orang yang mendapat petunjuk. Ia adalah titisan Bunda Maria. Anaknya titisan Malaikat Jibril. Mereka membawa wahyu untuk menyelesaikan masalah. Ada lagi Ahmad Musadeq yang mengaku mendapat wahyu dan mendirikan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), dan sebagainya. Semua itu karena kondisi yang tidak menentu,” urainya.
Berpengaruh Buruk
Jika gerakan ini dibiarkan, Iffah menegaskan, akan memberikan pengaruh buruk bagi masyarakat. “Masyarakat sudah bingung dengan masalah yang ada, mereka ingin mendapat solusi praktis. Ketika ada yang mengaku nabi, maka itu dianggap miracle oleh masyarakat sehingga mereka tersesat dari kebenaran,” jelas Iffah.
Apalagi, Iffah menegaskan bahwa di sistem sekuler ada aturan tidak boleh menyesatkan agama lain.
“Pengaruh lainnya, akan menyebabkan kerugian yang besar. Ia menceritakan bahwa ajaran-ajaran mereka ada yang mengajak diri untuk mempersiapkan menyambut kiamat. Kemudian diajak mengorbankan hartanya, anehnya banyak yang terpengaruh baik pengikut atau bukan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, masalah lain juga akan muncul. “Antar anggota masyarakat akan bertikai, terjadi perpecahan. Integritas menjadi terganggu. Agama yang benar menyalahkan yang salah, sedangkan yang salah mempertahankan pendapat bahwa mereka benar,” ucapnya.
Iffah menegaskan, jika kejadian ini terus dibiarkan akan mengaburkan pemahaman masyarakat. “Masyarakat menjadi tidak paham mana yang hak dan batil. Padahal, hak dan batil itu penting untuk melakukan perubahan ke arah yang benar,” tukasnya.
Jadi, Iffah mengingatkan, fenomena nabi palsu ini harus diperhatikan sebagai suatu masalah yang melanggar syariat agar masyarakat juga memahaminya. [MNews/Hen]
