Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Saat ini perselingkuhan menjadi hal yang biasa terjadi. Tidak hanya dilakukan laki-laki, tetapi tidak sedikit wanita juga melakukannya. Manusia, baik laki-laki maupun wanita, memang memiliki naluri untuk eksistensi diri dan mempunyai naluri pula untuk tertarik dengan lawan jenis.
Saat ini, perasaan kasmaran tidak hanya melanda laki-laki dan wanita lajang, tetapi juga dialami oleh laki-laki dan wanita yang telah memiliki status pernikahan. Para wanita yang berstatus istri dan ibu juga bisa terjangkit perasaan kasmaran ini.
CLBK atau cinta lama bersemi kembali menjadi salah satu fenomena yang kerap muncul di tengah-tengah masyarakat kita. Canggihnya teknologi media sosial saat ini memberi andil makin maraknya fenomena perselingkuhan dan CLBK.
Sebagian pihak mengatakan bahwa mesin penghancur keharmonisan pernikahan adalah penggunaan media sosial yang tidak bijak. Perjumpaan di Facebook dengan lawan jenis yang bukan mahram, saling meninggalkan pesan di inbox, membalas chatting, reuni hingga setan menggiringnya ke lembah yang lebih dalam yakni guncangnya stabilitas rumah tangga. Terlebih lagi ketika ada lawan jenis yang memberi perhatian lebih, semua serasa indah dengan sensasi cinta yang luar biasa yang tidak didapatkan dari pasangannya.
Kebebasan Berperilaku Penyebab Utama
Tidak bisa dimungkiri, bisa jadi pasangan kita khilaf lantas tergoda karena bertemu mantannya dahulu sehingga cinta lamanya bersemi lagi sekarang. Akan tetapi, tentu saja situasi ini tidak boleh kita biarkan atau toleransi. Benar bahwa Islam membolehkan poligami sehingga boleh saja seorang suami menikah lagi. Akan tetapi, perselingkuhan ataupun CLBK sangat berbeda dengan poligami.
Jika kita telusuri lebih dalam, penerapan sistem demokrasi kapitalisme menjadi penyebab utama maraknya CLBK dan perselingkuhan. Demokrasi adalah sebuah sistem yang mendewakan kebebasan bertingkah laku. Selagi dilakukan dengan suka sama suka dan tidak ada yang dirugikan pada kedua belah pihak, maka tidak ada batasan dalam pergaulan dan dianggap sah-sah saja.
Kebebasan telah mengubah arah pandang manusia terhadap hubungan laki-laki dan wanita. Mereka memandang interaksi antara laki-laki dan wanita dengan pandangan seksual semata. Termasuk di dunia kerja, interaksi laki-laki dan wanita tanpa batasan mengakibatkan perselingkuhan dan perzinaan.
Ditambah lagi, minimnya pemahaman agama sehingga tidak ada kontrol dari internal diri agar menahan hawa nafsu di mana pun berada. Bertabaruj, khalwat, dan ikhtilat (campur baur pria dan wanita) menjadi hal yang marak di tengah-tengah umat. Padahal ini semua dilarang Islam.
Belum lagi paparan tayangan pornografi dan pornoaksi di media. Hal ini makin menstimulasi naluri seksual pada diri manusia. Mendorong manusia untuk memenuhinya tanpa peduli dengan nilai-nilai agama. Bahkan saat ini mudah di akses dengan gadget.
Cinta Lama Bersemi Kembali, Bahaya!
Seorang muslim hendaknya tidak tergoda untuk sekadar mengetahui kehidupan cinta lamanya sebelum ia mengikat janji suci dalam sebuah akad nikah dan menjadikan pasangannya sebagai sosok terdekatnya dalam segala suasana. Saat terbetik keinginannya untuk sekadar bernostalgia dengan sosok yang pernah singgah di hatinya, maka sadarilah ini tipuan setan untuk menggoyahkan iman dan jeratan maksiat yang hanya indah di permukaan tetapi hakikatnya racun berbisa. Oleh karenanya, jangan bermudah-mudah berinteraksi dengan lawan jenis karena hati ini sangat lemah.
Sungguh salah besar ketika ada perkara dalam rumah tangga lantas mencari ketenangan dan kenyamanan pikiran dengan curhat atau berkomunikasi dengan “sang mantan”. Justru dengan demikian cinta lama akan bersemi kembali dan sengaja membiarkan cinta itu bertunas lalu tumbuh dan merekah!
Sesuatu yang haram tidak akan mendatangi ketenteraman jiwa, itu bukan kenikmatan sejati, tetapi sebuah kekonyolan yang akan menyengsarakan di dunia dan akhirat. Bahkan memporakporandakan rumah tangga yang sudah kita bangun. Tidak hanya pasangan yang akan tersakiti, tetapi anak-anak pun akan tersakiti.
Ketika CLBK Melanda Pasangan, Harus Bagaimana?
Godaan dalam keluarga bisa datang dalam bentuk apa saja. Salah satunya adalah perselingkuhan yang dilakukan pasangan akibat CLBK. Tidak jarang biduk rumah tangga yang sudah dibina bertahun-tahun harus kandas di tengah jalan.
Ketika hal ini menimpa rumah tangga kita, memang bukan hal yang mudah untuk kita hadapi, bahkan bisa jadi hati kita hancur berkeping-keping. Tentu kita bertanya pada diri kita, apa yang salah hingga pasangan kita melakukan hal demikian?
Akan tetapi, bagaimanapun semua ini harus kita hadapi dengan tegar, lapang dada, dan berusaha menyelesaikannya sesuai dengan tuntunan syarak, agar keluarga kita tetap dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ada beberapa hal yang bisa kita upayakan agar keluarga kita tetap dalam keadaan aman dan terkendali, dijauhkan dari hal-hal yang dapat memunculkan murka Allah, antara lain:
1. Menguatkan hati, bersandar pada Allah Swt. semata.
Sekali lagi bahwa apa yang menimpa rumah tangga kita ini bukanlah hal yang ringan dan mudah untuk kita hadapi dan lalui, butuh kekuatan hati dan tawakal kepada Allah. Ketika awal kita mengetahuinya, mungkin muncul rasa marah, sedih, merasa bersalah, dan sebagainya, semuanya jadi satu. Ini merupakan kondisi yang sangat manusiawi.
Dibutuhkan waktu untuk cool down, menenangkan diri dan menata hati merupakan hal yang wajar dan sangat manusiawi. Hanya saja, jangan sampai berlarut-larut dan kita harus berusaha bangkit. Ada anak-anak kita yang tentu saja membutuhkan ayah bundanya, ada masalah ataupun tidak pada orang tuanya.
Nah, yang pertama harus kita lakukan adalah menerima bahwa ini semua adalah ketetapan Allah, sebagai cobaan dan ujian bagi kita dan keluarga. Kita harus tetap berkeyakinan bahwa apa pun yang menimpa, kita akan mampu memikulnya, walaupun terasa berat, sebagaimana janji Allah,
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapatkan (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.” (QS Al-Baqarah: 286).
Dengan bekal pemahaman ini, kita berusaha mengomunikasikan dengan pasangan kita dan menyelesaikan permasalahan ini bersama, tentu saja seusai dengan syariat Islam.
2. Introspeksi diri, tetapi tidak menyalahkan diri sendiri.
Bagaimanapun kondisi pasangan kita, tentu saja kita memberi andil terhadap apa yang dilakukannya. Oleh karenanya, ketika masalah ini menimpa, sudah seharusnya kita melihat diri kita, berusaha melakukan evaluasi diri. Bisa jadi ada hal-hal yang kurang dalam pemenuhan hak-hak pasangan kita yang menjadi kewajiban kita, dengan tentu saja berusaha tetap istiqamah menjalankan kewajiban kita.
Sudah seharusnya kita juga bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Swt. atas semua keburukan dan kesalahan yang mungkin kita perbuat dalam menunaikan hak Allah Swt., hak pasangan kita atau hak yang lain. Karena bisa jadi kejadian ini menimpa kita karena perbuatan maksiat yang saudari lakukan. Karena Allah Swt. berfirman:
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syu’ara: 30).
3. Menyelami kembali tujuan pernikahan dan bersabar.
Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, tidak dapat dimungkiri kadang kala ada perkara-perkara yang membuat kita atau pasangan kmkurang berkenan atau memunculkan beda pendapat, bahkan kemudian berujung pada perselisihan. Salah satu kunci langgengnya sebuah pernikahan adalah bersabar dalam berinteraksi dengan pasangan kita.
Keluarga yang tegak di atas syariat Islam, sesungguhnya akan mampu menciptakan ketenangan, ketenteraman, keadilan, dan rasa aman. Suami istri hidup berdampingan, saling asih dan asuh, serta menjalankan bahtera keluarga layaknya dua orang sahabat sejati yang selalu berbagi suka dan duka.
Hanya saja, ketika muncul permasalahan dalam rumah tangga, hidup serasa tidak lagi bahagia, batin merasa merana, bercerai memang tidak dilarang, tetapi jika ingat tujuan awal menikah adalah menjalankan perintah Allah dan ingin menggapai rida-Nya, maka bersabar dan selalu berupaya memperbaiki keadaan yang masih bisa diperbaiki tentu lebih baik. Kesabaran merupakan langkah utama ketika muncul perselisihan atau permasalahan dengan pasangan.
4. Mengingatkan pasangan.
Ketika kita mengetahui ternyata ada pelanggaran hukum syarak yang dilakukan pasangan kita, apakah karena ketidakpahaman dari pasangan atau karena kekhilafan, maka yang harus kita lakukan adalah beramar makruf nahi mungkar kepada pasangan kita dan kemudian mengembalikannya kepada hukum syarak. Ketika kita dan suami mampu menjalankan petunjuk-Nya, insya Allah biduk rumah tangga akan bahagia.
Kita harus sampaikan kepada pasangan bahwa sakinah tidak akan diperoleh tatkala pasutri menempuh jalan menyimpang dengan membuka lebar pertemanan tanpa tujuan mulia. CLBK yang dikemas setan sangat menarik penuh janji-janji memesona, tetapi hakikatnya bukan kenikmatan sejati sekalipun hati seolah merasakan kebahagiaan. Ini adalah kebahagiaan semu. Fakta membuktikan bahwa sesungguhnya CLBK adalah senjata setan untuk meruntuhkan ikatan pernikahan.
Kita juga perlu mengingatkan pasangan kita akan nasihat Muhammad saw., beliau sudah mewanti-wanti ketika seorang suami tertarik dengan wanita lain. “ Jika engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu.” (HR Tirmidzi). Itulah nasihat Rasulullah, agar para suami selalu mengingat istri. Demikian pula agar istri menjaga kehormatan dan setia kepada suami.
5. Tetap berkomunikasi dengan pasangan dan mencari solusi bersama.
Rasulullah saw. adalah contoh terbaik dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Beliau sangat menjaga komunikasi dengan istrinya, ketika ada hal yang tidak disukai dari istrinya, beliau bersabar dan memberikan nasihat kepada istrinya. Demikianlah seharusnya kita dan pasangan kita, walaupun terasa berat.
Bagaimanapun kita harus mengomunikasikan agar jangan sampai pasangan kita terus menerus dalam kemaksiatan. Ketika poligami yang harus dipilih, maka itu adalah keputusan yang harus diterima dengan lapang dada ataupun, sebaliknya, hubungan keduanya putus.
Yang terpenting adalah seluruhnya berada dalam jalan syariat sehingga keberkahan akan terwujud dalam keluarga kita. Rasulullah bersabda, “Jagalah syariat Allah niscaya Allah akan menjagamu.“ (HR Ahmad).
Mengejar kebahagiaan pernikahan butuh kesungguhan dan juga pengorbanan. Meninggalkan kemaksiatan pun butuh tekad membaja meskipun terkadang jatuh bangun dalam melepaskan diri dari belenggunya.
6. Selalu berdoa kepada Allah.
Selain tetap berkomunikasi dengan pasangan dan bersama-sama berusaha untuk mencari jalan keluarnya, kita juga harus terus memohon pertolongan kepada Allah Swt.. Bagaimanapun hanya Allah yang bisa menolong kita untuk bisa segera keluar dari permasalahan ini.
Doa merupakan salah satu ibadah yang paling mulia dan utama di sisi Allah Swt.. Bisa dikatakan bahwa doa merupakan senjata atau perisai terbaik bagi orang beriman. Segala persoalan hidup yang pelik dan seolah tidak memiliki titik terang bisa kita adukan kepada Allah Swt.. Insyaallah, Dia Yang Maha Pengasih akan memberikan jalan keluar yang paling baik bagi hubungan kita dengan pasangan.
Khatimah
Setiap pasangan suami istri selalu mengharapkan pernikahan yang dijalani akan selalu dipenuhi rasa cinta dan kebahagiaan. Hanya saja, dalam perjalanannya, tidak semuanya sesuai harapan. Ketika CLBK mendekat pada pasangan kita, tentu beban terasa berat. Tentu saja kita kecewa berat terhadap pasangan kita dan tidak mudah untuk menerimanya. Hanya saja ketika itu sudah terjadi pada keluarga kita, maka kita harus tawakal dan berusaha untuk menyelesaikannya sesuai dengan tuntunan syarak. Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga rumah tangga kita selalu berada dalam kebaikan dan keberkahan. Amin Ya Mujiib as-Saailiin. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]

Jangan sok tau karena apapun adalah Allah yg menggerakkan dan manusia ibarat wayang hanya bisa ikut sang dalang