Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Menko Polhukam Mahfud MD baru-baru ini menyatakan bahwa dakwah yang lentur dan mampu menyesuaikan kebutuhan masyarakat menjadi kunci bagi sebuah organisasi Islam. Ia mengaitkannya dengan salah satu ormas besar di negeri ini yang bisa bertahan hingga hampir 100 tahun.
Ia menilai, dengan dakwah lentur, ormas besar tersebut berhasil membangun keislaman dan keindonesiaan secara harmonis mendekati budaya sehingga dapat diterima di kehidupan masyarakat. Mendekatkan pada sesuatu yang dihayati sebagai budaya masyarakat, kemudian diberikan ruh keislaman. (Antaranews, 27-1-2023).
Kita tidak hendak membahas ormas Islam ini, tetapi yang justru menarik untuk dibahas adalah istilah “dakwah lentur” yang ia lontarkan. Sepintas memang seolah tidak ada yang salah dan merupakan sesuatu yang baik karena menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sehingga mudah diterima.
Akan tetapi, sesungguhnya ada hal penting yang harus umat Islam waspadai, apakah Rasulullah ﷺ memang mengajarkan hal demikian? Apakah target utama dalam berdakwah semata agar diterima oleh umat tanpa memperhatikan rambu-rambunya? Bukankah Islam telah memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam yang lurus dalam berdakwah, sekalipun harus menghadapi risiko pahit?
Dakwah Islam Adalah Dakwah Menyeru pada Kebenaran
Dakwah, secara bahasa, berasal dari kata da’a-yad’u yang berarti ‘mengajak, menyeru, dan mengundang’. Adapun secara istilah, dakwah adalah mengajak atau menyeru manusia untuk menuju jalan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau biasa kita sebut aktivitas amar makruf nahi mungkar.
Allah Swt. berfirman,
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104).
Dakwah Islam adalah menyampaikan kebenaran Islam sehingga umat tertunjuki kepada jalan yang lurus. Dakwah adalah misi agung dan mulia karena merupakan misi para nabi dan rasul yang mulia. Dakwah merupakan amal terbaik karena dengannya akan mengajak umat pada lurusnya iman dan akan dijadikan sebagai sebaik-baiknya umat. Dengan dakwah, amal islami seorang muslim dan masyarakat akan terpelihara.
Oleh karenanya, agar tujuan yang mulia ini tercapai, para pengemban dakwah harus teguh dan erat memegang kebenaran Islam, tidak berkompromi sama sekali sekalipun harus menghadapi berbagai pemikiran dan pemahaman yang tidak sesuai dengan Islam, bahkan dengan berbagai cemoohan, sindiran, dan fitnah.
Keteguhan memegang syariat Islam justru menjadi kekuatan bagi pengemban dakwah dalam menghadapi risiko dakwah sekaligus senjata kuat untuk menghancurkan semua bentuk keburukan dan kemaksiatan di hadapan mata.
Dakwah Rasulullah ﷺ, Rujukan Kaum Muslim
Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik bagi umat Islam dalam segala hal, termasuk dalam aktivitas dakwah.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Ahzab: 21,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.”
Juga dalam QS Al-Hasyr: 21,
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ
“Apa saja yang Rasul bawa kepadamu, maka ambillah. Apa saja yang ia larang atas kalian, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukumannya.”
Dua ayat ini memerintahkan kita untuk menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai rujukan, yaitu mengikuti seluruh yang Rasulullah ﷺ bawa, termasuk jalan dakwahnya. Setidaknya ada empat hal yang bisa kita petik dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.
Pertama, serius dan tidak bermanis muka.
Rasulullah ﷺ mencurahkan seluruh harta dan waktunya, bahkan segenap jiwa dan raganya untuk dakwah Islam. Meskipun banyak rintangan dan hambatan mengadang, beliau tetap teguh menjalankan dakwahnya, tidak bermanis muka, apalagi mengikuti keinginan masyarakat Makkah yang saat itu memusuhinya. Beliau menjalankan seluruh aktivitas dakwahnya dengan serius dan bertarget, hingga berdiri Negara Islam di Madinah dan beliau sendiri yang menjadi kepala negaranya.
Demikian halnya dengan kita. Sudah seharusnya aktivitas untuk menegakkan syariat Islam kafah di muka bumi ini harus serius, tidak bisa setengah-setengah, ataupun di sela-sela waktu kosong saja. Harus serius dan bertarget. Sudah sunatullahnya tujuan mulia itu harus kita tempuh dengan sungguh-sungguh dan serius, hingga dengan izin Allah tujuan itu akan segera terwujud. Amin.
Kedua, melalui jalur umat, membina umat dengan Islam.
Rasulullah ﷺ merupakan sel pertama dalam dakwah Islam. Setelah itu beliau mengajak istri tercintanya, Khadijah binti Khuwailid ra., untuk memeluk Islam dan menjadi sel kedua dalam dakwah ini. Rasulullah ﷺ kemudian mengajak teman baiknya, Abu Bakar ash-Shiddiq ra., untuk memeluk Islam. Begitu seterusnya, hingga sel-sel tersebut berkembang, lalu terhimpun dalam sebuah halakah.
Melalui Abu Bakar ra., beberapa orang Quraisy akhirnya masuk Islam, terbentuklah halakah kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka dibina secara intensif oleh Rasulullah ﷺ yang kebanyakan mereka dari kalangan pemuda. Mereka mengimani dan menaati Rasulullah ﷺ, serta menekuni dakwah bersamanya.
Ketika tsaqafah para sahabat sudah matang serta terbentuk akal yang islami (‘aqliyah islamiyyah) dan jiwa Islami (nafsiyah islamiyyah) dalam kurun tiga tahun, Rasulullah ﷺ pun menampakkan dakwah Islam dengan terang-terangan.
Islam pun menyebar dan dianut oleh orang-orang yang lurus dan terbina oleh Islam. Pada akhirnya, umat menghendaki diterapkannya Islam dengan memberikan dukungan penuh kepada Rasulullah ﷺ dan ikut berhijrah ke Madinah.
Ketiga, tanpa kekerasan, menanamkan dakwah pemikiran.
Pertarungan pemikiran dilakukan dengan membongkar kepalsuan ajaran nenek moyang jahiliah beserta sistem hidup mereka. Bahkan, Allah menurunkan wahyu menunjukkan kesesatan mereka (lihat QS Al-Anbiya: 98), kemudian menyampaikan kebenaran ajaran Islam beserta sistemnya yang layak menjadi aturan hidup manusia. Allah Taala juga memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk membongkar kedok para pemimpin jahiliah dengan menurunkan QS Al-Lahab: 1—5.
Rasulullah ﷺ sama sekali tidak melakukan kekerasan, seperti menghancurkan berhala-berhala dan sebagainya. Bahkan, ketika penentangan kaum Quraisy makin keras terhadap kelompok dakwah ini, tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa selama Rasulullah ﷺ berdakwah di Makkah, beliau melakukan aktivitas perlawanan fisik atau kekerasan kepada penduduk, termasuk para pemimpin Quraisy di Makkah.
Akan tetapi, bukan berarti Rasulullah ﷺ mendiamkan adanya adat dan budaya jahiliah yang berkembang pada saat itu. Rasulullah ﷺ tetap menyerang dan menjelaskan kesesatan atau kesalahan adat dan budaya jahiliah, termasuk ritual kemusyrikan, seperti menyembah berhala. Kala itu, Rasulullah ﷺ mencelanya dan mengajak masyarakat Makkah untuk menyembah Allah Taala semata, bukan yang lainnya.
Demikian halnya dengan kebiasaan orang Arab jahiliah ketika ada keluarga yang melahirkan bayi perempuan. Mereka akan mengubur hidup-hidup bayi tersebut karena hal itu mencoreng kehormatan keluarga. Budaya ini pun dicela oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat terdahulu. Kedatangan Islam dengan diutusnya Rasulullah ﷺ menghentikan setiap praktik biadab orang-orang jahiliah, termasuk membunuh bayi-bayi perempuan.
Keempat, berjemaah, yaitu membentuk kelompok dakwah.
Rasulullah ﷺ memulai dakwahnya dengan menyeru manusia secara individu untuk menerima Islam dan turut berdakwah. Setelahnya, mereka dihimpun untuk bersama-sama melakukan dakwah berkelompok yang terorganisasi dengan baik.
Sejak turunnya QS Al-Hijr: 94, dimulailah tahapan dakwah Rasulullah ﷺ beralih dari tahap yang bersifat rahasia menuju tahap menyeru umat secara terang-terangan dengan menampakkan keberadaan jemaah dakwah. Bersamaan dengan tahap ini, aktivitas pembinaan kader tetap berlanjut.
Pada tahap ini, Rasulullah ﷺ memainkan peran sebagai pemimpin kelompok dakwah. Mula-mula Rasulullah ﷺ menampakkan keberadaan kutlah yang beliau kader selama ini ke tengah masyarakat. Untuk strategi ini, Rasulullah ﷺ mengorganisir para sahabat dalam dua kelompok yang masing-masing dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab. Kedua kelompok ini menampakkan diri dengan berbaris berjalan menuju Ka’bah lalu tawaf bersama-sama.
Keharusan adanya jemaah dakwah ini dilandasi oleh QS Ali Imran: 104 yang mengharuskan minimal ada satu jemaah dakwah yang menyeru kepada Islam dan beramar makruf nahi mungkar. Merekalah orang-orang yang menang dan beruntung.
Dakwah Lentur Bukanlah Dakwah yang Dicontohkan Rasulullah ﷺ
Setelah kita memahami tentang dakwah Rasulullah ﷺ, jelaslah bahwa “dakwah lentur” yang disuarakan oleh Mahfud MD bukanlah dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Dakwah lentur lebih banyak menyesuaikan dengan kondisi masyarakat agar mudah diterima oleh masyarakat, sedangkan dakwah Rasulullah ﷺ tidaklah demikian.
Dakwah Rasulullah ﷺ adalah menyampaikan kebenaran Islam tanpa memperhatikan sesuai atau tidaknya dengan keinginan masyarakat. Seluruhnya mengikuti segala yang diwahyukan Allah Taala tanpa terkecuali, hanya saja dengan berbagai uslub dakwah.
Fakta tidak terbantahkan bahwa dalam dakwahnya, Rasulullah ﷺ menyampaikan kebenaran ajaran Islam beserta sistemnya yang layak menjadi aturan hidup manusia, serta membongkar kedok para pemimpin jahiliah. Sebagai reaksi atas pertarungan pemikiran yang dilancarkan Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, Arab Quraisy tidak tinggal diam. Mereka balik melakukan penghinaan, pelecehan, dan serangan fisik berupa pemukulan, penyiksaan, bahkan upaya pembunuhan kepada Rasulullah ﷺ dan pengikutnya. Mereka melakukan pencitraburukan terhadap kelompok dakwah dan pembunuhan karakter terhadap pribadi Rasulullah ﷺ selaku pemimpin kelompok dakwah.
Namun, Rasulullah ﷺ bergeming, tetap menjalankan dakwah sesuai perintah Allah Taala, menyampaikan kebenaran ajaran Islam ke tengah umat manusia tanpa menyesuaikan dengan keinginan kafir Quraisy.
Ini semua adalah risiko dakwah. Sebagai umat Rasulullah ﷺ, tentu kita harus mengikuti langkah dakwah yang dicontohkannya tanpa harus bermanis muka kepada siapa pun, termasuk penguasa.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan).
Dalam hadis lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran (ayyamush-shabr). Kesabaran pada hari-hari tersebut laksana memegang bara api. Orang yang beramal (dengan Sunah) pada hari-hari tersebut (mendapat pahala) sebanding dengan pahala 50 orang yang beramal seperti amal kalian.” Ada sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala 50 orang dari kami (sahabat) ataukah 50 orang dari mereka?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bahkan 50 orang dari kalian (sahabat).” (HR At-Tirmidzi). Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]
