Pengarusan Antiradikalisme pada Pemuda, Ada Apa?

Pengarusan Antiradikalisme pada Pemuda, Ada Apa?

Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq

Muslimah News, OPINI — Pemuda memiliki semangat perubahan yang tinggi. Ia pun menjadi tumpuan bangsa dan negara. Masyarakat meletakkan harapan besar di pundaknya. Namun, apa jadinya jika pemuda dijadikan alat untuk melawan “radikalisme”?

Pemuda dan Radikalisme

Hasil survei Setara Institute menyatakan bahwa pada 2019—2020-an, sebanyak 67% konten keagamaan di dunia maya berisi konten keagamaan yang intoleran dan radikal. Tersebab pengguna media sosial adalah generasi milenial dan Z, lembaga survei itu menyimpulkan bahwa banyak generasi muda yang terpapar radikalisme.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid juga menyampaikan bahwa sangat penting melibatkan generasi muda untuk menangkal penyebaran radikalisme, khususnya di kalangan sendiri (Media Indonesia, 14-4-2022).

Dengan alasan di atas, pemegang kebijakan pun mengeluarkan banyak program untuk menghambat gerakan yang mereka anggap “radikal”. Beberapa program di antaranya melalui seminar-seminar atau pelatihan kepemimpinan dan kepemudaan dengan menggandeng organisasi pemuda dan organisasi pemerintah.

Pemuda diarahkan dapat menjadi agen antiradikalisme dengan memberikan informasi, pembinaan, dan pendampingan di masyarakat. Mereka juga diarahkan untuk menyibukkan diri di bidang akademis, sosial, keagamaan, seni, budaya, maupun olahraga.

Narasi Antiradikalisme

Pemuda sebagai intelektual perlu mengetahui sebenarnya ada apa di balik narasi antiradikalisme? Kalau menelusuri lebih jauh, radikalisme selama ini selalu mengarah pada Islam, khususnya Islam kafah. Istilah ini “radikalis” dipakai untuk menyebut seseorang yang dianggap memiliki keyakinan kuat pada agamanya. Dari pemikiran yang bersifat radikal, mereka dinilai tidak plural, intoleran, dan menolak moderasi beragama.

Pada kenyataannya, isu radikalisme muncul dan bersanding dengan terorisme. Barat merupakan pihak pertama yang mengeluarkan pernyataan ini. Setelah peristiwa 9/11 yang meruntuhkan menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat (AS), George Bush yang ketika itu menjabat pimpinan pertama AS menyatakan perang melawan terorisme. Ia memaksa negara dunia berdiri bersamanya ataukah bersama teroris.

Setelah masa itu, kepemimpinan berganti pada Trump, perang melawan terorisme berubah menjadi perang melawan radikalisme. Selanjutnya, pemikiran inilah yang diadopsi oleh seluruh negara dunia. Mereka menyetujui Barat yang melabeli kelompok muslim yang taat dengan sebutan “radikal”.

Pemuda Salah Arah

Berbagai program tersebut sebenarnya bisa membahayakan kondisi umat yang akan datang. Pemuda yang tidak memahami bahwa semestinya mereka berislam secara menyeluruh akan menganggap benar narasi ini. Walhasil, mereka akan mengikuti arahan dan tanpa disadari mereka menjadi agen yang memusuhi saudara muslimnya sendiri.

Jika hal itu terjadi, ketenangan, persatuan dan kesatuan bangsa justru tidak terwujud. Akan selalu ada pikiran menghancurkan atau menjegal saudara muslim yang dianggap “radikal”.

Upaya menyibukkan pemuda dalam kegiatan lain agar tidak terpengaruh paham “radikal” juga membuat kanalisasi peran pemuda. Pada usia mereka yang seharusnya punya idealisme tinggi dan menjadi pionir perubahan, justru akan sibuk dengan urusan duniawi. Pada akhirnya, mereka terlena dengan tugas untuk membangkitkan umat.

Oleh karenanya, sebagai pemuda muslim, perlu mewaspadai bahwa agenda melawan radikalisme sebenarnya adalah program Barat untuk memusuhi kaum muslim sendiri. Bahkan, bukan sekadar memusuhi, melainkan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri kaum muslim.

Idaman Agama

Tidak bisa dimungkiri, pemuda adalah tonggak perubahan. Dengan idealisme tinggi, ia mampu mengubah dunia. Sebagaimana jejak perjalanan Islam pada masa Rasulullah saw.. Orang-orang yang berdiri di samping Rasulullah saw. adalah para pemuda, seperti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khaththab, Ja’far bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Mus’ab bin Umair, dsb.

Dalam kiprahnya, para pemuda itu memperjuangkan Islam, serta senantiasa membela dan turut berjuang bersama Rasulullah saw.. Mereka adalah pemuda yang taat agama, memegang teguh Islam, dan rela berkorban untuk Islam. Mereka pun dapat memahami mana lawan dan mana kawan sehingga mereka tidak bisa diadu domba oleh musuh. Merekalah pemuda yang dirindukan surga-Nya.

Inilah pemuda idaman sebenarnya, yakni pemuda muslim yang memahami agamanya dengan sempurna. Mereka meyakini apa yang disampaikan Allah Taala melalui Kitab dan Rasul-Nya. Mereka taat beribadah dan dalam ilmu agamanya. Mereka pun akan menjadi garda terdepan jika umat terzalimi.

Umar bin Khaththab berucap, “Barang siapa ingin menggenggam nasib suatu bangsa, maka genggamlah para pemudanya.” Artinya, peran pemuda sangat penting dan diperlukan untuk membangkitkan umat. Mereka juga istimewa karena menjadi ketika menjadi salah satu dari tujuh golongan yang akan Allah Taala jaga.

“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, [yaitu] seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR Bukhari Muslim).

Mengarahkan Perjuangan Pemuda

Saat ini, pemuda muslim memiliki peranan sangat penting. Mereka tidak boleh hanya sibuk untuk kepentingan pribadi. Mereka harus sadar mereka punya tugas besar, yaitu melindungi umat dari kehancuran.

Sebagaimana diketahui, kerusakan ini berasal dari tidak taatnya kaum muslim pada Islam. Banyak hukum Islam yang disia-siakan hingga akhirnya umat tidak lagi menjadi umat terbaik. Jadi, PR besar para pemuda muslim adalah kembali menyadarkan umat mengenai kewajiban mereka untuk mengambil Islam secara keseluruhan.

Dengan dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu dakwah pemikiran, pemuda dapat membangkitkan umat agar menyadari mana yang benar dan yang salah. Inilah harusnya yang dilakukan oleh pemuda.

Khatimah

Pemuda muslim yang cerdas akan dapat memahami agenda mana yang ingin menghancurkan Islam dan mana yang bukan. Mereka pun akan memahami bahwa tugas utama mereka adalah membela Islam, bukan malah menjadi agen antiradikalisme yang justru memusuhi Islam. Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *