Jika Anak Iri kepada Temannya

Jika Anak Iri kepada Temannya

Penulis: Naila Zayyan

Muslimah News, KELUARGA — “Mama, temanku punya sepatu baru, bagus banget! Aku juga pengin seperti itu!”

“Bunda, si Nayla selalu diantar ayahnya naik mobil kalau ke sekolah, kita kapan punya mobil?”

“Ayah, kenapa aku enggak bisa juara satu seperti dia? Kenapa dia terus yang selalu nomor satu di kelas?”

Ayah Bunda pernah mendapatkan curhatan anak-anak kita seperti ini? Ada kalanya anak kita melihat apa yang ada pada orang lain tampak lebih baik, lebih banyak, lebih bagus, atau lebih menyenangkan. Lantas, anak kita juga menginginkan hal yang serupa. Apakah hal ini dibolehkan oleh syariat Islam? Apakah ini yang disebut iri hati? Iri hati di dalam Islam ada yang dilarang (tidak diperbolehkan) dan ada yang boleh.

Pertama, iri hati yang dilarang diartikan dengan rasa cemburu melihat kelebihan orang lain. Iri yang mengarah pada keburukan ini akan menjadikan hati susah dan gelisah. Allah Swt. melarang hamba-Nya untuk iri kepada sesamanya dalam hal kemewahan dan kenikmatan dunia, karena segala sesuatu sudah Allah tetapkan kadarnya/jumlahnya, termasuk rezeki materi duniawi. Ada yang dilebihkan dari yang lain, berlaku juga sebaliknya.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an,

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nisa: 32)

Iri hati juga akan membuat pelakunya selalu berprasangka buruk terhadap orang lain. Dampak negatif lainnya yaitu selalu merasa kurang dengan semua yang Allah berikan. Jadinya kurang bersyukur dan tidak pernah merasa cukup.

Di dalam hadis Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Jangan kamu saling dengki dan iri hati dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Janganlah saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzalimi, melantarkan, mendustai, dan menghinakan satu sama lain. Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Yang kurang disadari, iri hati sesungguhnya merugikan diri sendiri, membuang waktu untuk hal-hal yang bersifat fana (rusak), karena sejatinya dunia ini tidak kekal. Yang kekal itu kehidupan akhirat.

Kedua, iri hati yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Apa saja itu? Nabi Muhammad saw. bersabda,

“Iri hati itu tidak diperbolehkan, kecuali terhadap dua hal, (yaitu terhadap) orang yang dikaruniai Allah kemampuan Al-Qur’an dan membacanya siang dan malam, serta (orang) yang dikaruniai harta yang banyak oleh Allah dan menginfakkannya siang dan malam.” (HR Bukhari).

Iri hati pada orang-orang yang disebutkan di atas dapat menambah usaha seseorang untuk semakin beriman dan bertakwa sehingga diperbolehkan.

Lalu, bagaimana mengajarkan tentang manajemen hati agar iri hati mengarah pada yang diperbolehkan oleh syariat Islam?

Pertama, ajak anak untuk menemukan kelebihan dirinya dan fokus pada kelebihan tersebut. Hal ini bertujuan agar anak memiliki kepercayaan diri dan tidak merasa minder atau rendah diri. Fokus pada kelebihan diri sendiri juga akan menambah rasa syukur kepada Allah Swt., lebih bahagia dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Selain itu, dengan pendampingan orang tua yang maksimal untuk memaksimalkan kelebihan diri anak dan potensinya akan membantunya melejitkan diri menjadi semakin berprestasi.

Kedua, ajak anak berpikir untuk mencari seribu alasan agar kita bersyukur atas banyaknya nikmat Allah Swt. yang tidak terhitung. Aktivitas riil dari hal ini, misalnya, ajak anak menuliskan minimal 100 benda di sekelilingnya yang memudahkan semua urusannya. Contoh, alhamdulillah punya buku, alhamdulillah punya pulpen, alhamdulillah punya pensil, alhamdulillah punya meja, dan sebagainya. Hal ini akan membuat anak care dengan barang-barang sederhana di sekelilingnya yang ternyata Allah Swt. menghadirkannya untuk memudahkan urusan kita.

Ketiga, ajak anak berpikir bahwa kita adalah spesial. Tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang sama persis penciptaannya, bahkan orang kembar identik sekalipun. Ajak anak memikirkan bahwa dia adalah sosok istimewa yang memiliki kemampuan unik yang tidak sama dengan orang lain. Jangan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain dan tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bahagia atau sukses. Dengan begitu, banyak perasaan positif yang akan dia rasakan. Be your self, Nak!

Keempat, meningkatkan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah kepada Allah Swt. agar semakin dekat dengan-Nya dan merasa selalu ditemani Allah Swt. dalam setiap waktu dan kondisi. Semoga dengan demkian Allah Swt. senantiasa membimbing kita sekeluarga.

Kelima, dekat-dekat dengan Al-Qur’an. Orang yang ahli Al-Qur’an insyaallah lembut pandangannya dan melihat orang lain dengan pandangan penuh kasih sayang (bi aini rahmah), jauh dari iri hati. Orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan melihat orang lain selalu ada peluang taatnya dan cenderung berbaik sangka (husnuzan).

Keenam, carikan lingkungan yang mendukung berpikir positif dan bersikap positif juga. Tidak lain adalah lingkungan teman yang saleh dan salihah. Agar bertumbuhnya pola pikir (aqliyah) dan pola sikap/jiwa (nafsiyah) anak kita mengarah pada kebaikan yang hakiki, yaitu sesuai dengan syariat Islam dan apa yang Allah Swt. kehendaki.

Mudah-mudahan enam tips ini menjadikan kita, anak-anak kita, dan keluarga kita memiliki hati yang selamat (qalbun salim). Amin. [MNews/Rgl]

Foto sampul: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *