Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Muslimah News, OPINI — Dewasa ini, di media sosial acapkali kita jumpai konten para remaja yang menunjukkan bahwa dirinya memiliki gangguan mental (mental illness). Biasanya, mereka menyampaikannya melalui beberapa cuplikan video yang sedang menyakiti dirinya sendiri, memotong rambut pendek bagi perempuan, menangis di kamar yang gelap, bahkan diiringi lagu-lagu sedih. Terkadang mereka juga suka bercerita tentang penyebab mereka depresi.
Istilah-Istilah Seputar Gangguan Mental
Para remaja tersebut juga menggunakan istilah-istilah yang sedang tren terkait gangguan mental, seperti memiliki broken home (keluarga yang tidak harmonis), strict parent (orang tua yang ketat dan terlalu kaku), toxic environment (lingkungan yang buruk), verbally abuse (menerima perkataan yang kejam dan melukai hati), dsb.
Istilah-istilah tersebut mereka gunakan sejatinya bukan karena sedang mengalaminya, melainkan justru agar terlihat keren dan estetik untuk diekspos demi berhasil tampil mencuri ruang perhatian di media sosial tentang betapa menderitanya mereka.
Padahal, asal tahu saja, dengan mereka memamerkan gangguan mental maupun istilah-istilah seputarnya, sesungguhnya tidak membuat mereka terlihat lebih baik, tetapi malah berdampak buruk terhadap orang lain, khususnya yang menyaksikan konten mereka di media sosial.
Self-diagnosis
Perilaku lain yang menyertai sikap gangguan mental adalah self-diagnosis. Banyak dari remaja yang mengekspos gangguan mental mereka sambil melakukannya. Self-diagnosis adalah mendiagnosis atau mengeklaim diri sendiri sebagai orang yang mengidap sebuah penyakit berdasarkan pengetahuan dan informasi yang didapatkan secara mandiri tanpa dibantu dengan orang yang profesional.
Padahal, dengan mencari-cari informasi sendiri melalui internet, hasilnya juga tidak sepenuhnya valid. Di sisi lain, tidak jarang mereka sendiri kurang mengerti tentang diri sendiri. Kondisi yang sebenarnya mereka alami cenderung dilebih-lebihkan.
Self-diagnosis justru memberi peluang terjadinya diagnosis yang salah. Namun, tren yang ramai di media sosial ini menyebabkan banyak remaja yang tidak memiliki gangguan mental mendiagnosis diri sendiri bahwa mereka juga memiliki gangguan mental.
Bipolar disorder, misalnya, yang merupakan gangguan mental karena pengidapnya memiliki suasana perasaan yang sangat labil. Istilah “bipolar disorder” sering digunakan para remaja yang moody-an untuk mendeskripsikan dirinya sendiri, padahal ia belum memiliki diagnosis medis. Ia menyimpulkan begitu saja hanya setelah beberapa menit mencari informasi di internet.
Tren self-diagnosis ini sudah pasti sangat berdampak buruk bagi karakter dan mental para remaja yang kian hari kian sensitif dan mudah menyerah apabila dihadapkan dengan masalah. Tren ini menunjukkan bahwa para remaja mudah terpengaruh dengan hal-hal yang mereka lihat di internet dan media sosial.
Krisis Jati Diri
Muara dari ini semua adalah terjebaknya remaja dalam fenomena krisis jati diri. Mereka ingin mendapat perhatian di dunia maya, yakni melalui media sosial, tatkala di kehidupan nyata mereka terabaikan oleh orang-orang terdekat mereka.
Di media sosial, jelas mereka hendak meraih empati dan simpati orang lain. Media sosial mereka anggap sebagai ajang untuk bisa disaksikan dan diperhatikan khalayak. Dengan mereka memamerkan gangguan mental, padahal tidak sedang dalam kondisi tersebut, justru membuat mereka kehilangan jati dirinya.
Tentu hal ini tidak terlepas dari faktor disfungsi keluarga sebagai tempat teraman dan ternyaman, sekaligus tempat pertama dan utama dalam pembelajaran kehidupan dan proses pengaitannya terhadap fitrah penciptaan.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah setiap anak kecuali ia dilahirkan di atas fitrah, maka bapak ibunyalah yang menjadikan ia Yahudi, atau menjadikan ia Nasrani, atau menjadikan ia Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Sungguh, para remaja itu lahir dari manusia, orang tua mereka. Namun, disfungsi keluarga telah menjadikan remaja terasuh oleh media sosial. Akibatnya, mereka tidak mampu menjadi sosok manusia hakiki, alih-alih memahami fitrah penciptaan. Pantaslah mereka mengalami krisis jati diri. Na’udzubillaahi.
Media Sosial, Pedang Bermata Dua?
Hakikat media sosial adalah madaniyah (produk ilmu pengetahuan dan teknologi). Madaniyah ini bersifat umum, siapa pun boleh menggunakannya selama tidak diarahkan oleh pemikiran tertentu.
Jika pemikiran itu berlandaskan akidah Islam, madaniyah tersebut akan digunakan semata dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Allah Taala. Namun, jika madaniyah itu disetir oleh pemikiran sekuler produk ideologi kapitalisme, madaniyah itu akan diisi pula oleh konten-konten beracun produk mereka yang tentunya akan menghancurkan generasi muda muslim. Ini karena penggunaan madaniyah tersebut melawan fitrah penciptaan yang mengharuskan adanya keterikatan pada aturan Allah Taala.
Inilah latar belakang media sosial bisa menjadi pedang bermata dua, menyebabkan kecanduan dan menimbulkan gangguan mental akibat tidak digunakan sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu, agar media sosial sejalan dengan fitrah penciptaan manusia, hendaknya diisi dan digunakan sebagai sarana dakwah Islam.
Allah Taala berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim,’?” (QS Fushshilat [41]: 33)
Standar Perbuatan Kaum Beriman
Kita juga harus ingat bahwa generasi muda muslim adalah aset peradaban yang semestinya sangat memperhatikan perilakunya. Penting sekali untuk menjaga dan memelihara mereka. Ini karena perilaku adalah buah pemikiran dan pemahaman yang ada pada dirinya. Seorang muslim yang tidak memiliki perilaku takwa, tentu pemikiran dan pemahamannya juga tidak berisi ketakwaan.
Di sinilah keberuntungan kita memiliki Rasulullah saw. sebagai suri teladan dalam kehidupan. Allah Taala berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab [33]: 21)
Allah juga telah memberikan rambu-rambu perihal ciri kaum beriman, merekalah orang-orang yang beruntung, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS Al-Mukminun [23]: 1—3)
Sungguh, Islam telah begitu paripurna memberikan berbagai pijakan bagi arah pandang kehidupan agar kaum muslim tidak salah melangkah.
Khatimah
Dari semua ini, kita tidak bisa melupakan bahwa negara juga berperan memelihara kebahagiaan warganya, yang tidak lain adalah menuju rida Allah Taala. Ini agar sejalan antara konsep penanggulangan krisis jati diri remaja dengan kebijakan penguasa dan lingkungan kehidupannya.
Akan sangat timpang ketika perbaikan jati diri remaja hanya dibebankan pada aspek ketakwaan yang dibangun bersama keluarga, ketika pada saat yang sama lingkungan masyarakatnya masih sakit dan aturan yang negara terapkan masih sekuler, jauh dari aturan Islam. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]
