Muslimah News, NASIONAL— Sikap Mendag Zulkifli Hasan yang membagikan minyak goreng (migor) gratis disertai permintaan terang-terangan agar masyarakat memilih anaknya di Pilkada mendatang, dikritisi pengamat kebijakan publik Retno Sukmaningrum, S.T, M.T.. Ia berpendapat, harga minyak goreng dan etika pejabat, sama-sama hancur.
“Harga minyak goreng dan etika pejabat, sama-sama hancur. Entah lupa dengan posisinya kini atau memang sengaja memanfaatkan jabatan yang tengah disandangnya,” ucapnya miris kepada MNews, Senin (11/7/2022)
Menurutnya, terlepas dari posisinya sebagai seorang menteri, menjadi pejabat di level apapun, sungguh tidak elok mencampuradukkan posisi jabatan dengan kepentingan pribadi.
“Namun, itulah wajah pejabat negeri ini. Sistem demokrasi kapitalisme meniscayakan lahirnya pejabat yang minim akhlak dan minim empati ke rakyat. Mengapa ? Tidak lain karena sistem ini menjadikan standar perilaku didasarkan pada teraihnya materi,” kritiknya.
Maka, imbuh Retno, tidak heran jika pada sistem ini dikenal sebuah prinsip ekonomi, yakni pengeluaran sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya.
“Setiap kesempatan dijadikan peluang meraih keuntungan pribadi. Termasuk masalah migor yang tidak kunjung usai, justru menjadi ajang menarik simpati masyarakat guna meraih dukungan di pilkada mendatang,” sindirnya.
Ia menilai, secara logika kalau memang niat ngurus rakyat, mafia migor yang harusnya ditindak agar masyarakat bisa mengakes migor dengan mudah murah. “Bukan dibiarkan tetap memainkan harga selangit, sementara itu pejabat hadir di tengah rakyat layaknya ‘malaikat’ yang bagi-bagi migor gratis,” ungkapnya.
Sistem Rusak
Retno menyatakan, sistem demokrasi yang rusak ini pula yang membuat nafsu serakah menemukan habitatnya.
“Ketika jabatan menteri disandang, jabatan sebagai ketua partai tidak otomatis dilepas. Walhasil, kepentingan pejabat negara dengan pejabat partai saling berkelindan. Ibarat peribahasa, sekali merengkuh dayung, dua tiga pula terlampaui,” urainya.
Retno menekankan, inilah habitat oligarki partai. “Harta hanya berputar di kalangan para penguasa dan partai berkuasa, melupakan masalah rakyat. Rakyat hanyalah objek penderita yang akan didekati dan dipikirkan jika mereka tengah membutuhkan suaranya,” cetusnya.
Berkaca pada Khalifah
Oleh karena itu, Retno mengingatkan, sudah saatnya pejabat negeri ini, termasuk Pak Menteri perlu berkaca pada sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
“Saat beliau sibuk mengerjakan tugas negara ditemani sebuah lentera kecil, datanglah putranya hendak menyampaikan sebuah urusan. Khalifah menjawab salam tamu tersebut seraya bertanya, ‘Apakah kedatanganmu ini untuk keperluan negara atau pribadi?’ Ketika putranya menjawab bahwa yang akan disampaikannya adalah urusan pribadi, khalifahpun mematikan lentera kecil tersebut. Tidak ayal putranya bertanya mengapa lentera dimatikan. Sungguh luar biasa jawaban sang ayah,Khalifah Umar bin Abdul Aziz. ‘Bukankah engkau kemari untuk urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan negara? Lentera beserta cahayanya ini dibayar oleh negara karena itulah aku matikan agar tidak terjadi penyelewengan penggunaan harta negara,’” paparnya
Hanya saja, ia menegaskan, jika kisah tersebut tidak juga mampu menampar muka mereka, cukuplah mengingat apa yang Rasulullah sampaikan dalam hadisnya dari riwayat Muslim.
“Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu,” kutipnya menutup penjelasan. [MNews/Ruh]
Foto sampul: Dok. MNews

Maaf..klo sy mengatakan..muka tembok ….tdk punya rasa malu..naudzubillah