Khalifah Abdul Malik bin Marwan Menyatukan Umat dalam Kesatuan Negara Islam

Khalifah Abdul Malik bin Marwan Menyatukan Umat dalam Kesatuan Negara Islam

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Ketika Marwan bin Al-Hakam bergerak ke Mesir setelah pertempuran Marj Rahith, Abdul Malik bin Marwan dijadikan sebagai perwakilan sang ayah di Damaskus (ibu kota Negara Islam). Sekembalinya Marwan dari Mesir dan meninggal dunia pada Ramadan 65 H, maka Abdul Malik bin Marwan dibait menjadi khalifah kaum muslimin pada hari kematian ayahnya.

Berbagai sumber sejarah yang membahas biografi Abdul Malik bin Marwan sepakat menyatakan bahwa ia termasuk tokoh yang paling cerdas, teguh, pemberani, dan rela berkorban. Abdul Malik berhasil membuktikan kepiawaiannya dalam mengelola dan mengatur negara, hingga berhasil menyatukan umat dalam kesatuan Negara Islam.

Perpecahan Umat Islam

Pada saat Abdul Malik bin Marwan dibaiat sebagai khalifah, umat Islam terbagi menjadi beberapa kubu,

  1. Kubu Abdul Malik bin Marwan yang kekuasaan utamanya membentang dari negeri Syam hingga Mesir
  2. Kubu Abdullah bin Az-Zubair yang menguasai negeri Hijaz hingga Irak dan berpusat di Makkah
  3. Kubu Khawarij Al-Azariqah dengan pimpinannya Nafi’ bin Al-Azraq yang mendirikan sebuah negara di Al-Ahwaz
  4. Kubu Khawarij An-Najadat yang dipimpin Najdah bin Amir Al-Hanafi dengan mendirikan sebuah negara di Al-Yamamah, wilayahnya membentang sampai ke negeri Yaman, termasuk Hadramaut hingga Thaif
  5. Kelompok Syiah yang hampir mendirikan sebuah negara di Irak, yang dipimpin Al-Mukhtar bin Abu Ubaid ats-Tsaqafi

Fenomena yang paling menampakkan perpecahan dunia Islam itu adalah berkibarnya empat bendera dalam ibadah haji pada 78 H, yaitu bendera Abdul Malik, bendera Muhammad bin Al-Hanafiah, bendera Najdah bin Amir, dan bendera Abdullah bin Az-Zubair.

Situasi dan kondisi itu tentulah memprihatinkan. Abdul Malik bin Marwan pun berupaya memperbaiki dan memulihkan persatuan umat Islam seperti sedia kala.

Upaya Menyatukan Umat dalam Satu Negara

Abdul Malik bin Marwan benar-benar memahami konflik ini sehingga ia sangat mahir dalam berinteraksi dengan kubu-kubu tersebut dan akhirnya ia mampu menumpas mereka semua.

Ketika Abdul Malik bin Marwan melihat kekuasaan Al-Mukhtar bin Abu Ubaid makin menguat di Irak terutama setelah ia berhasil mengalahkan pasukan Abdul Malik dan membunuh panglimanya Ubaidillah bin Ziyad, dalam pertempuran Al Khazir pada 67 H, maka Abdul Malik tidak segera membalas tindakan Al-Mukhtar.

Strategi Abdul Malik adalah membiarkan kubu Abdullah bin Az-Zubair yang menyerang Al-Mukhtar karena wilayah kekuasaan Al-Mukhtar berbenturan dengan kekuasaan Abdullah bin Az-Zubair. Akhirnya, kubu Al-Mukhtar pun berhasil ditumpas.

Setelah itu, Abdul Malik bin Marwan memimpin langsung pasukannya bergerak ke Irak untuk menumpas kubu Abdullah bin Az-Zubair. Ia pun berhasil mengalahkan Mush’ab bin Az-Zubair dan membunuhnya pada 72 H. Kemudian Abdul Malik bin Marwan mengirim Al-Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi ke Makkah untuk menumpas Abdullah bin Az-Zubair. Pasukan Al-Hajjaj pun menuai keberhasilan pada 73 H.

Terhadap kubu kaum Khawarij, Abdul Malik bin Marwan mengirim sebuah pasukan yang dipimpin Al-Muhallab bin Abu Shufrah, salah seorang tokoh yang sudah sangat berpengalaman melawan Khawarij. Itulah sebab ia dengan mudah dapat mengalahkan dan mematahkan kekuatan mereka serta menjauhkan ancaman bahaya dari kaum Khawarij terhadap negara dan umat Islam.

Yang mengganggu stabilitas pemerintahan Abdul Malik berikutnya adalah pemberontakan Abdurrahman bin Al-Asy’ats. Kendati pemberontakan ini berbahaya, Abdul Malik dapat menumpasnya berkat kepiawaian dan kewaspadaan panglimanya Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi setelah melalui sejumlah pertempuran sengit.

Khalifah yang Cerdas dan Tegas

Setelah bekerja keras dengan penuh kesabaran, akhirnya Abdul Malik bin Marwan berhasil memulihkan persatuan dan kekuatan umat Islam, serta menumbangkan musuh-musuh umat Islam satu per satu.

Seandainya Abdul Malik tidak bertindak tegas dan komitmen, tentulah ia tidak sanggup memulihkan persatuan umat dan kesatuan Negara Islam. Politik membutuhkan kecerdasan berpikir, logis, bukan emosi. Ini karena keadaan darurat harus segera diatasi sebagaimana mestinya. Dari sinilah Abdul Malik berhak mendapatkan gelar Muwahhidud Daulatil Islamiyah (Pemersatu Negara Islam).

Demikianlah, berkat keuletan, kesabaran dan kerja keras, Abdul Malik bin Marwan meraih kesuksesan dalam memperkuat sendi-sendi Negara Islam di bawah kepemimpinannya. Wallahualam. [MNews/Has]

Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar.

Foto ilustrasi: iStock

Share

One thought on “Khalifah Abdul Malik bin Marwan Menyatukan Umat dalam Kesatuan Negara Islam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *